A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 56

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 56
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 58

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 58
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

news-mitra/////penyerangan-aramco-produksi-berkurang-setengah-harga-minyak-melonjak" />
Penyerangan Aramco: Produksi Berkurang Setengah, Harga Minyak Melonjak
Elshinta
Selasa, 17 September 2019 - 09:04 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Penyerangan Aramco: Produksi Berkurang Setengah, Harga Minyak Melonjak
DW.com - Penyerangan Aramco: Produksi Berkurang Setengah, Harga Minyak Melonjak

Harga minyak global diprediksi akan meningkat tajam setelah serangan dua kilang produksi minyak Arab Saudi pada Sabtu (14/09). Penyerangan ini mengakibatkan terpangkasnya produksi minyak Saudi lebih dari setengahnya, berdasarkan perkiraan pengamat energi.

Aliansi Iran, Kelompok Houthi, yang berperang melawan koalisi pemimpin Saudi di Yaman, mengklaim bertanggung jawab atas "operasi skala besar melibatkan 10 pesawat nirawak" yang menyerang kilang Abqaiq dan Khurais, dua fasilitas produksi minyak yang dikelola perusaan milik kerajaan Saudi, Aramco.

"Setiap serangan terhadap Arab Saudi tentu saja bertujuan untuk mengguncang pasar minyak karena mereka saat ini memegang mayoritas pasokan minyak mentah," ujar Bernadette Johnson, wakil presiden intelijen pemasaran sebuah konsultan energi, Enverus.

Dia menambahkan, pemangkasan produksi akan berlangsung lama, "Kita akan melihat melonjaknya harga hingga kondisi kilang normal."

Stasiun televisi ekonomi dan bisnis, CNBC, mengutip beberapa analis energi yang mengatakan harga minyak dapat segera melonjak $5 - $10 (sekitar 700 ribu hingga 1,4 juta rupiah) ketika pasar dibuka Minggu malam waktu Amerika, sementara analis lainnya memprediksi kenaikan harga menjadi $100 atau €90 (sekitar 1,4 juta rupiah) per barel. Jumat (13/09), minyak mentah Brent terakhir diperdagangkan di harga $60,22 (sekitar 850 ribu rupiah) per barel.

Serangan Sabtu lalu tidak menimbulkan korban tetapi menyebabkan berhentinya proses produksi di kedua kilang, di mana terdapat kerusakan berat akibat ledakan besar yang dipicu dari pesawat nirawak.

Baca juga: Arab Saudi: 'Serangan Sabotase' Rusak Kapal Tanker Minyak

Pengurangan produksi

Penghentian produksi menyebabkan eksportir minyak terbesar di dunia ini memangkas produksi minyak dan gas sebanyak 5,7 juta barel minyak dan 2 miliar kaki kubik gas per hari.

"Kilang Abqaiq mungkin adalah fasilitas paling krusial bagi pasokan minyak dunia," terang Jason Bordoff, pendiri Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, New York.

Bordoff juga memprediksi melonjaknya harga minyak sebagai respon atas serangan tersebut, dan mengatakan jika pemangkasan produksi akan berlangsung lama. Beberapa negara pun perlu menggunakan cadangan darurat minyak mereka.

Namun International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional, yang berbasis di Paris, mengutarakan dampak pemangkasan produksi terbilang kecil, yakni 5 persen dari pasokan minyak dunia.

Stok cukup

"Untuk saat ini, pasar masih dipasok dengan stok komersial yang cukup," jelas IEA dalam pernyataannya, Sabtu (14/09).

Aramco mengatakan membutuhkan waktu 48 jam untuk melakukan evaluasi kapan produksi minyak dapat kembali normal.

Riyadh dan Washington dengan cepat mengklaim Iran atas serangan drone tersebut. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, bersikeras tidak menemukan bukti penyerangan yang dilakukan oleh Yaman.

Kepala diplomat Washington bahkan menyebut insiden ini sebagai "serangan pasokan energi dunia yang belum pernah terjadi."

Kecamannya ini menimbulkan keraguan akan ekspektasi pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Iran Hassan Rouhani di Sidang Majelis Umum PBB mendatang, yang diharapkan mampu menurunkan tensi kedua negara dalam beberapa bulan terakhir.

Sumpah Riyadh

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman, menegaskan bahwa "keinginan dan komitmen Saudi sangatlah kuat untuk menggagalkan berbagai agresi teroris semacam ini, dengan apapun konsekuensinya," berdasarkan pernyataan yang dilansir dari kantor berita Saudi.

Kelompok Houthi telah melakukan serangkaian serangan rudal lintas perbatasan dan serangan drone dengan target pangkalan udara Saudi dan fasilitas-fasilitas negara lainnya sebagai bentuk pembalasan pemboman yang selama ini dilakukan pemimpin Riyadh di area mereka di Yaman.

Bulan lalu, Kelompok Houthi juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan di fasilitas likuifaksi gas alam Aramco, di Shaybah.

Drone juga menyerang dua stasiun pompa minyak di jalur pipa utama timur-barat Arab Saudi pada bulan Mei lalu yang menyebabkan kedua stasiun ditutup selama beberapa hari.

Ed: rap/na (AFP, AP, dpa, Reuters)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tim Penyelamat Hewan Selamatkan Raja Ular Kobra di Thailand 
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Petugas penyelamat hewan dari Yayasan Krabi Pitakpracha di Kota Krabi, di bagian selatan Thailand, M...
Kepala HAM PBB Soroti Meningkatnya Tantangan Kerja Sama Global
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Kepala Dewan HAM PBB Michelle Bachelet, Selasa (15/10), mengatakan dunia kini menyaksikan meningkatn...
UNICEF : 200 Juta Balita Makan Terlalu Sedikit atau Terlalu Banyak
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengatakan sepertiga balita di seluruh dunia, yang totalnya sekitar 200 ...
Presiden Haiti Tegaskan Tidak Akan Mundur
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Presiden Haiti Jovenel Moise, Selasa (15/10), mengatakan tidak akan bertanggung jawab bagi dirinya u...
Analis Katakan Trump Ulur Waktu dengan Erdogan
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Wakil Presiden AS, Mike Pence, memimpin delegasi Amerika yang bertolak ke Turki, Rabu (16/10) untuk ...
Olok-olok Oposisi Hentikan Pidato Pemimpin Eksekutif Hong Kong
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Krisis politik Hong Kong yang berlangsung selama empat bulan akhirnya menyasar hingga ke gedung legi...
2018, Penjaga Pantai China Habiskan 258 Hari di Perairan yang Diklaim Malaysia
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Kapal penjaga pantai China menghabiskan 70% waktunya pada tahun lalu untuk berpatroli di perairan La...
Kim Jong Un Mendaki Gunung Tertinggi di Korut dengan Kuda   
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Media pemerintah Korea Utara, Rabu (16/10), merilis foto-foto pemimpin Kim Jong Un yang mendaki gunu...
Erdogan Enggan Temui Delegasi AS
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menegaskan ia tidak akan bertemu dengan Wakil Presiden Amerika...
Bentrokan di Barcelona Terus Berkecamuk
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB
Bentrokan disertai kekerasan kembali terjadi di malam kedua sejak kericuhan meletus di Barcelona, Sp...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)