Kerusuhan Akibat Kasus Penistaan di Pakistan, Komunitas Hindu Khawatirkan Keselamatan Diri
Elshinta
Rabu, 18 September 2019 - 08:37 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kerusuhan Akibat Kasus Penistaan di Pakistan, Komunitas Hindu Khawatirkan Keselamatan Diri
DW.com - Kerusuhan Akibat Kasus Penistaan di Pakistan, Komunitas Hindu Khawatirkan Keselamatan Diri

Para demonstran pada hari Minggu (15/09) menyerang sebuah sekolah setelah kepala Sekolah Umum Sindh, Nautan Lal, dilaporkan dengan tuduhan telah menistakan agama. Abdul Aziz Rajput, ayah seorang siswa di sekolah itu, mengeluh kepada polisi bahwa Lal telah menghina Islam.

Kasus dengan tuduhan penistaan bisa dituntut dengan hukuman mati di Pakistan. Ini adalah topik sensitif di negara yang 97 persen dari 180 juta penduduknya adalah Muslim.

Para aktivis menuntut adanya reformasi undang-undang penistaan agama yang kontroversial ini. UU ini diajukan oleh pemimpin militer Islam Jenderal Zia-ul-Haq pada tahun 1980-an. Para aktivis mengatakan undang-undang ini tidak ada hubungannya dengan penistaan dan sering digunakan untuk menyelesaikan perselisihan kecil dan balas dendam yang bersifat personal.

Menurut kelompok hak asasi manusia, sekitar 1.549 kasus penistaan agama telah terdaftar di Pakistan antara tahun 1987 dan 2017. lebih dari 75 orang di Pakistan dibunuh akibat tuduhan penistaan agama tanpa pernah menjalani proses pengadilan. Beberapa dari mereka bahkan tetap menjadi sasaran kekerasan setelah dibebaskan oleh pengadilan.

Umat Kristen dan minoritas agama-agama lain sering mengeluhkan adanya diskriminasi hukum dan sosial di Pakistan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang Kristen dan Hindu telah dibunuh secara brutal karena tuduhan penistaan yang nyatanya tidak terbukti.

Pemeluk Hindu terkurung di dalam rumah

Ghotki, sebuah kota kecil di selatan provinsi Sindh, memiliki populasi umat Hindu yang signifikan. Mereka telah tinggal di sana sebelum pemisahan Pakistan dari India pada 1947.

Provinsi Sindh adalah tempat umat Hindu, Sikh, dan Kristen hidup berdampingan dengan umat Islam selama berabad-abad. Namun dalam beberapa tahun terakhir ekstremisme mencengkeram wilayah itu. Kelompok-kelompok Muslim garis keras sering menyerang kuil-kuil dan memaksa umat Hindu untuk masuk Islam.

Kerusuhan di Ghotki telah memaksa komunitas Hindu untuk tetap berada di dalam rumah. Pihak berwenang pun telah mengerahkan sejumlah pasukan polisi di kota itu.

Jaipal Chhabria, presiden Forum Hindu Pakistan, mengatakan kepada DW bahwa komunitas Hindu di Ghotki merasa semakin tidak aman setelah kerusuhan terjadi.

"Nautan Lal hanya memarahi seorang bocah Muslim karena tidak menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Bocah itu menuduhnya melakukan penistaan dan itu memicu protes dan kekerasan di kota. Orang-orang Hindu di daerah itu ketakutan dan mengunci diri di rumah-rumah," ujar Chhabria.

Chhabria mengklaim bahwa seorang pemimpin agama setempat dan para pendukungnya terlibat dalam serangan ke sekolah pada hari Minggu itu. Kepala sekolah dan keluarganya dilaporkan bersembunyi karena takut terhadap serangan massa.

"Bagaimana mereka bisa lagi tinggal di Ghotki?" ujar Rajesh Kumar, seorang warga Ghotki. "Begitu seseorang dituduh melakukan penistaan agama, mereka tidak bisa lagi hidup di daerah itu. Di masa lalu, massa telah membunuh banyak orang karena tuduhan penistaan agama."

Beberapa laporan mengatakan polisi telah menahan kepala sekolah itu dan memindahkannya ke lokasi yang dirahasiakan karena masalah keamanan.

Bantuan dari negara tidak cukup

Para aktivis menuntut pemerintah provinsi melindungi komunitas Hindu di Ghotki.

Hari Lal Bhagia, sekretaris jenderal Upper Sindh Hindu Panchayiat, mengatakan kepada DW bahwa pihak berwenang berusaha untuk memulihkan perdamaian di daerah ini.

"Namun kelompok ekstremis cukup kuat, dan bahkan pemerintah tampaknya tidak berdaya. Itu sebabnya komunitas Hindu di daerah itu merasa lebih rentan menjadi korban serangan," kata Bhagia.

Tetapi Sajjad Ali Soomro, seorang aktivis hak-hak asasi setempat, mengatakan bahwa ketidakpedulian otoritas negara telah menguatkan kelompok-kelompok ekstremis di provinsi yang dulunya menjadi contoh harmonisme kehidupan beragama di negara itu.

"Pada hari Minggu, ratusan orang berkumpul di luar kantor polisi dan mulai menyerang rumah-rumah, tempat-tempat bisnis, dan kuil-kuil Hindu. Pihak berwenang tidak turun tangan," kata Soomro.

Senator Taj Haider, dari Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin oleh Bilawal Bhutto, memerintah provinsi Sindh. Ia mengakui bahwa polisi seharusnya menghentikan massa yang akan menyerang properti milik warga beragama Hindu. Haider menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak bisa disalahkan terkait adanya intoleransi antaragama di daerah tersebut.

"Kami menyerahkan daftar 300 kajian keagamaan yang menyebarkan ide-ide kebencian dan ekstremisme kepada pemerintah federal, tetapi mereka tidak melakukan tindakan apa pun terhadap elemen (masyarakat) ini," ujarnya kepada DW.

Sejauh ini pihak kepolisian telah menahan beberapa orang dengan tuduhan perusakan properti publik dan penghasutan yang mengakibatkan kekerasan di Ghotki.

Kaum minoritas merasa 'tidak aman' di Pakistan

Populasi umat Hindu berjumlah sekitar 2,5 persen dari total penduduk Pakistan. Mayoritas dari mereka, yaitu lebih dari 90 persen, tinggal di Sindh. Ada laporan tentang meningkatnya jumlah umat Hindu yang bermigrasi ke negara tetangga India dalam beberapa tahun terakhir.

Umat Kristen Pakistan, dan minoritas agama lainnya, juga sering mengeluhkan diskriminasi hukum dan sosial di negara mereka.

Satu contoh kasus yang cukup mencuat di media internasional yaitu Asia Bibi, seorang wanita Kristen yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara dengan hukuman mati di Pakistan atas tuduhan penistaan agama.

Asia Bibi akhirnya berangkat ke Kanada untuk bergabung dengan keluarganya pada bulan Mei. Bibi dan keluarganya harus tetap bersembunyi bahkan setelah dibebaskan oleh Mahkamah Agung Pakistan pada Oktober 2018.

Baru-baru ini, Baldev Kumar, mantan legislator dari partai Perdana Menteri Imran Khan, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), mencari suaka di India untuk dirinya dan keluarganya. Politisi berusia 43 tahun itu menuduh Pakistan sebagai "negara yang tidak aman" dan bahwa pemerintah yang dipimpin Imran Khan telah menganiaya minoritas di sana.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang Kristen dan Hindu telah dibunuh secara brutal atas tuduhan penistaan yang tidak terbukti.

Dalam satu kasus, pada bulan Agustus 2012, seorang perempuan muda beragama Kristen yang menderita down syndrome dituduh membakar lembaran kertas yang terdapat tulisan ayat-ayat Al-Quran.

Perempuan muda bernama Rimsha Masih ini kemudian ditahan polisi dan baru dibebaskan beberapa bulan kemudian ketika dakwaan dibatalkan. Kasus ini menyebabkan keributan di kota kelahirannya dan sekitarnya, serta memicu kerusuhan dan kekerasan terhadap orang-orang Kristen di wilayah tersebut. Pada 2013, ia dan keluarganya pindah ke Kanada.

Pada 2014, pasangan Kristen dipukuli sampai mati karena diduga menodai salinan Al-Quran. Tubuh mereka dibakar di tempat pembakaran bata.

Pada September tahun lalu, seorang pria Kristen di Pakistan dijatuhi hukuman mati karena berbagi materi "melecehkan" lewat aplikasi WhatsApp. (ae/vlz)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kursi: Lebih dari Sekedar Tempat Duduk
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Empat kaki, satu tempat duduk dan sebuah sandaran: Tidak ada hal lain yang dibutuhkan untuk membuat ...
Lyari Girls Cafe: Pupuk Percaya Diri bagi Perempuan Pakistan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Pakistan bukan negeri yang ramah bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Sebab itu sek...
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Yute adalah tanaman unik yang bisa menghasilkan serat nabati sebagai bahan baku tali tambang. Di Ban...
AS Pertimbangkan Kembali Perlakuan Khusus untuk Hong Kong, Sanksi untuk Cina
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Di hadapan parlemen AS, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo pada Rabu (27/05), meny...
Kematian George Floyd Akibat Dicekik Polisi Minneapolis AS, Picu Kemarahan Warga
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kematian seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd, akibat lehernya dicekik oleh polisi di Minneapol...
Wabah dan Kekeringan: Bencana Berganda Melanda Warga Miskin India
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Protokol pencegahan wabah sekilas sangat mudah. Penduduk diimbau menjaga kebersihan dan mencuci tan...
Parlemen Cina Sahkan UU Anti Subversi buat Hong Kong
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kamis (28/5) Kongres Rakyat Nasional(NPC) secara aklamasi meloloskan legislasi kontroversial itu, de...
Bagaimana Wabah Corona Pengaruhi Harapan Hidup Penderita Penyakit Kronis
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Thomas menderita stroke pada awal April. Sekitar waktu yang bersamaan, gambar dramatis di bangsal-ba...
Apa Bahaya Sekolah Via Zoom dan Aplikasi Pelacakan Data?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kondisi gawat darurat kesehatan publik terkait pandemi Covid-19, ibarat hentakan keras yang membangu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV