Kerugian Ekonomi Akibat Migrain Buat Singapura Sakit Kepala
Elshinta
Jumat, 20 September 2019 - 08:47 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kerugian Ekonomi Akibat Migrain Buat Singapura Sakit Kepala
DW.com - Kerugian Ekonomi Akibat Migrain Buat Singapura Sakit Kepala

Orang yang menderita sakit kepala kronis ini juga kehilangan rata-rata 9,8 hari kerja dalam satu tahun. Sementara bagi mereka yang memutuskan untuk terus bekerja, gejala ini sangat mengurangi kemampuan untuk menyelesaikan tugas, ini berarti hilangnya produktivitas kerja sebanyak 7,4 hari dalam setahun.

Migrain berkembang melalui beberapa tahap. Gejalanya termasuk sembelit, lekas marah dan gangguan visual, sebelum benar-benar mengalami sakit kepala.

Gejala ini berlangsung antara empat hingga 72 jam, sebagian besar mempengaruhi mereka yang berada pada kelompok usia 30 hingga 40 tahun. Migrain juga lebih sering terjadi pada perempuan dewasa ketimbang laki-laki karena adanya faktor perubahan hormon.

Lebih dari 600 pekerja penuh waktu Singapura yang menderita migrain disurvei secara online untuk penelitian dengan judul Beban Ekonomi Akibat Migrain Di Singapura, yang dilakukan oleh Duke-NUS Medical School dan perusahaan farmasi Novartis.

Jumlah penderita terus bertambah

Para responden rata-rata berusia 38 tahun, kebanyakan berlatar belakang etnis Cina, berstatus menikah dan setidaknya berpendidikan tinggi. Sebagian besar berada di posisi manajerial (60 persen), dan sisanya di pekerjaan administrasi, dengan keterampilan menengah, maupun wiraswasta.

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang mengalami migrain pada empat hingga 14 hari setiap bulan menyebabkan kerugian hingga sebesar 14.860 dolar Singapura atau sebesar Rp 151 juta per kapita per tahun. Sedangkan mereka yang menderita migrain hanya dalam tiga hari atau lebih sedikit setiap bulannya, menyebabkan kerugian sebesar 5.040 dolar Singapura (Rp 51,4 juta) per kapita pada 2018.

Dr Jonathan Ong dari National University Hospital (NUH) mengatakan ada sekitar 100 pasien baru datang setiap bulannya ke klinik untuk gangguan sakit kepala di sejumlah rumah sakit dan Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong. Jumlah ini meningkat sekitar 10 persen setiap tahun.

"Tidak mengherankan karena kita hidup dalam lingkungan yang semakin penuh tekanan, sebagai negara Asia - kita sangat berorientasi pada pekerjaan, berorientasi pada tujuan, menghabiskan waktu berjam-jam di tempat kerja, dan stres adalah pemicu utama migrain," katanya.

Pengaruhi karir dan kehidupan pribadi

Migrain seringnya berhubungan dengan kondisi medis tertentu seperti depresi dan kecemasan, penyakit kardiovaskular, peradangan hidung atau sinus. Namun penyakit ini juga dapat dipicu oleh lingkungan, emosi dan makanan.

"Yang mengkhawatirkan adalah penelitian kami menemukan bahwa sekitar satu dari empat pasien di Singapura tidak berusaha mencari perawatan medis untuk migrain yang mereka derita," ujar Dr Ong, yang juga adalah konsultan di Divisi Neurologi NUH dan presiden Headache Society of Singapore.

Dr Eric Finkelstein dari Duke-NUS Medical School mengatakan migrain memiliki efek jangka panjang yang merugikan pada pekerjaan, seperti mempengaruhi perkembangan karir seseorang dan kehidupan pribadi mereka.

Tes medis memakan sekitar 41 persen besaran biaya perawatan kesehatan akibat migrain, diikuti oleh obat-obatan alternatif (18 persen), konsultasi (16 persen), rawat inap (13 persen) dan obat-obatan (11 persen).

Para peneliti berharap hasil riset ini dapat meningkatkan kesadaran tentang migrain, sehingga lebih banyak orang dapat didiagnosis dengan benar dan tempat mereka bekerja akan lebih memahami para penderita.

ae/hp (Strait Times)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kursi: Lebih dari Sekedar Tempat Duduk
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Empat kaki, satu tempat duduk dan sebuah sandaran: Tidak ada hal lain yang dibutuhkan untuk membuat ...
Lyari Girls Cafe: Pupuk Percaya Diri bagi Perempuan Pakistan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Pakistan bukan negeri yang ramah bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Sebab itu sek...
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Yute adalah tanaman unik yang bisa menghasilkan serat nabati sebagai bahan baku tali tambang. Di Ban...
AS Pertimbangkan Kembali Perlakuan Khusus untuk Hong Kong, Sanksi untuk Cina
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Di hadapan parlemen AS, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo pada Rabu (27/05), meny...
Kematian George Floyd Akibat Dicekik Polisi Minneapolis AS, Picu Kemarahan Warga
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kematian seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd, akibat lehernya dicekik oleh polisi di Minneapol...
Wabah dan Kekeringan: Bencana Berganda Melanda Warga Miskin India
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Protokol pencegahan wabah sekilas sangat mudah. Penduduk diimbau menjaga kebersihan dan mencuci tan...
Parlemen Cina Sahkan UU Anti Subversi buat Hong Kong
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kamis (28/5) Kongres Rakyat Nasional(NPC) secara aklamasi meloloskan legislasi kontroversial itu, de...
Bagaimana Wabah Corona Pengaruhi Harapan Hidup Penderita Penyakit Kronis
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Thomas menderita stroke pada awal April. Sekitar waktu yang bersamaan, gambar dramatis di bangsal-ba...
Apa Bahaya Sekolah Via Zoom dan Aplikasi Pelacakan Data?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kondisi gawat darurat kesehatan publik terkait pandemi Covid-19, ibarat hentakan keras yang membangu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV