Koalisi Transisi Perkotaan: "Kota Adalah Kunci Meredam Dampak Perubahan Iklim"
Elshinta
Jumat, 20 September 2019 - 08:47 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Koalisi Transisi Perkotaan:
DW.com - Koalisi Transisi Perkotaan: "Kota Adalah Kunci Meredam Dampak Perubahan Iklim"

Kota-kota bisa membuat komitmen untuk menanam lebih banyak pohon, melarang kendaraan emisi tinggi dan beralih ke energi terbarukan, karena kawasan perkotaan akan memainkan peran kunci dan menjadi pusat dalam upaya mengatasi krisis iklim, kata laporan terbaru Coalition for Urban Transition, CUT. Itulah pesan penting laporan CUT yang dirilis hari Kamis (19/09).

"Pertempuran untuk (menyelamatkan) planet kita akan dimenangkan atau dikalahkan di kota-kota," kata laporan Koalisi Transisi Perkotaan itu. Karena kawasan perkotaan bertanggung jawab atas sekitar 75 persen dari total emisi karbon dunia.

Untuk meredam dampak krisis perubahan iklim, kota-kota harus bisa mencapai target nol emisi sampai tahun 2050 demi membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

Laporan CUT yang disusun oleh lebih dari 50 organisasi, termasuk World Resources Institute (WIR) dan jaringan C40 Cities, menunjukkan bahwa rencana pembangunan ekonomi dan sosial yang ramah iklim tidak hanya akan membantu mengurangi emisi tetapi juga "meningkatkan kemakmuran (dan) membuat kota menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup."

Pemotongan 90 persen emisi di kawasan perkotaan hingga 2050

"Ini menunjukkan bahwa sudah seharusnya menggunakan teknologi dan praktik yang teruji untuk mengurangi emisi dari daerah perkotaan hingga 90 persen pada tahun 2050, dengan teknologi dan praktik yang sudah kita miliki," ujar Sarah Colenbrander, penulis utama laporan CUT.

Pemotongan 90 persen itu akan menghasilkan lebih dari setengah pengurangan karbon yang diperlukan dunia, dan pada saat yang sama menciptakan "tempat-tempat di mana orang lebih sehat dan lebih produktif."

Laporan CUT menunjukkan berbagai inisiatif yang saat ini sudah dilakukan oleh berbagai kota dengan membangun infrastruktur dan kebijakan perkotaan yang berkelanjutan. Misalnya dengan menghilangkan subsidi bahan bakar fosil dan mendukung alat transportasi alternatif.

Selain itu, kota-kota bisa mengembangkan strategi untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan sosial serta industri yang rendah karbon sambil mengembangkan rencana transisi bagi pekerja dan industri berbasis bahan bakar fosil. Kota-kota juga bisa mengembangkan cara pembangunan dan konstruksi alternatif lebih ramah lingkungan daripada menggunakan baja dan beton.

Kebijakan kota ramah iklim yang sudah berjalan

Laporan CUT memberikan banyak contoh kota dan daerah yang telah menerapkan prinsip pembangunan rendah karbon, sekaligus menerapkan sistem partisipatif dan kebijakan untuk memberantas kemiskinan dan mengurangi ketidaksetaraan.

Medellin di Kolumbia misalnya, yang puluhan tahun dikenal sebagai pusat perdagangan narkoba dan dijuluki "kota paling mematikan di dunia," sekarang menawarkan standar hidup yang lebih tinggi berkat rencana pembangunan kota yang ramah lingkungan. Antara lain dengan meningkatkan moda transporasi yang sudah lama ditinggalkan, yaitu kereta gantung yang menghubungkan daerah-daerah miskin kota. Angkutan umum inovatif ini sekarang mengangkut 256 juta penumpang per tahun.

Kota Indore di India berubah dari kota kabut asap dan sampah kotoran manusia di jalan-jalan pada tahun 2016, dan menjadi kota paling bersih di India tahun 2018. Perubahan dramatis itu berkat proyek-proyek pengelolaan limbah yang ambisius, yang didanai oleh sektor publik dan swasta secara bersama-sama, serta perubahan peraturan di tingkat nasional.

Di Jerman, transisi ke energi terbarukan selama dua dekade terakhir - dari 6 persen produksi listrik alternatif pada 2000 menjadi 38 persen pada 2018, menghasilkan ratusan ribu lowongan kerja baru, lewat berbagai proyek kemitraan antara pemerintah federal dan pemerintah kota serta inisiatif energi oleh warga.

Menantikan impuls dari Pertemuan Aksi Iklim PBB

Salah satu masalah utama yang akan dibahas pada KTT Aksi Iklim PBB minggu depan di New York adalah bagaimana dunia dapat mewujudkan "transformasi ekonomi yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan." Dalam laporannya, CUT mengatakan bahwa kota-kota akan memainkan peran kunci untuk berkontribusi pada perubahan ini.

"[KTT Iklim PBB] adalah waktu bagi pemerintahan nasional untuk menunjukkan kepemimpinan mereka dan merebut peluang kawasan perkotaan," menurut laporan itu. Dengan negara-negara meningkatkan upaya mereka untuk mengurangi emisi karbon menjelang Konferensi Perubahan Iklim COP26 akhir 2020," sangat penting bahwa kota berada di jantung prioritas ekonomi dan pembangunan rendah karbon."

CUT memperingatkan bahwa 15 bulan ke depan akan menjadi "masa-masa kritis dalam mengatasi krisis iklim." Para pemimpin dunia akan berkumpul tahun 2020 untuk mengintensifkan sasaran dan target iklim mereka dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca sampai 45 persen selama dekade berikutnya. hp/ae

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kursi: Lebih dari Sekedar Tempat Duduk
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Empat kaki, satu tempat duduk dan sebuah sandaran: Tidak ada hal lain yang dibutuhkan untuk membuat ...
Lyari Girls Cafe: Pupuk Percaya Diri bagi Perempuan Pakistan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Pakistan bukan negeri yang ramah bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Sebab itu sek...
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Yute adalah tanaman unik yang bisa menghasilkan serat nabati sebagai bahan baku tali tambang. Di Ban...
AS Pertimbangkan Kembali Perlakuan Khusus untuk Hong Kong, Sanksi untuk Cina
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Di hadapan parlemen AS, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo pada Rabu (27/05), meny...
Kematian George Floyd Akibat Dicekik Polisi Minneapolis AS, Picu Kemarahan Warga
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kematian seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd, akibat lehernya dicekik oleh polisi di Minneapol...
Wabah dan Kekeringan: Bencana Berganda Melanda Warga Miskin India
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Protokol pencegahan wabah sekilas sangat mudah. Penduduk diimbau menjaga kebersihan dan mencuci tan...
Parlemen Cina Sahkan UU Anti Subversi buat Hong Kong
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kamis (28/5) Kongres Rakyat Nasional(NPC) secara aklamasi meloloskan legislasi kontroversial itu, de...
Bagaimana Wabah Corona Pengaruhi Harapan Hidup Penderita Penyakit Kronis
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Thomas menderita stroke pada awal April. Sekitar waktu yang bersamaan, gambar dramatis di bangsal-ba...
Apa Bahaya Sekolah Via Zoom dan Aplikasi Pelacakan Data?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kondisi gawat darurat kesehatan publik terkait pandemi Covid-19, ibarat hentakan keras yang membangu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV