Kiri Kanan
Gigitan lebih dari 200 ular selama puluhan tahun untuk mendapatkan penawar
Elshinta
Selasa, 24 September 2019 - 08:43 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Gigitan lebih dari 200 ular selama puluhan tahun untuk mendapatkan penawar
BBC Indonesia - Gigitan lebih dari 200 ular selama puluhan tahun untuk mendapatkan penawar

Setiap lima menit seseorang, di suatu tempat, meninggal karena gigitan ular, sementara empat orang lainnya menjadi cacat permanen.

Tetapi terdapat beberapa orang yang tetap mengambil risiko besar melakukan eksperiman dengan reptil ini.

Salah satunya adalah Tim Friede yang tinggal di negara bagian Wisconsin, AS. Dia memfilmkan dirinya digigit ular beracun dan kemudian mengunggah videonya ke YouTube.

Selalu kesakitan

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tim Friede menceritakan pengalamannya digigit ular di YouTube.

Pada salah satu video, setelah dua kali dengan cepat ular mamba menggigitnya, Tim berbicara ke kamera. Dia tidak menghiraukan darah yang mengalir dari lengannya.

"Saya langsung merasa sakit jika digigit mamba hitam. Ini seperti disengat seribu lebah. Lebah kemungkinan memiliki satu atau dua miligram bisa, tetapi gigitan mamba kemungkinan berisi 300 sampai 500 miligram.

"Saya mengalami pembengkakan setelahnya. Selama beberapa hari kemudian saya bisa dibilang hanya berbaring. Dari pembengkakan yang dialami, saya dapat memperkirakan jumlah bisa yang disuntikkan ular. Sangat menyakitkan," katanya dengan santai.

Berbahaya dan tidak etis

Tetapi tidak semua orang terkagum-kagum seperti penggemarnya di YouTube.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tim Friede mengatakan tubuhnya telah memiliki cukup kekebalan.

"Kita tidak mengetahui apa yang dilakukan orang-orang ini. Ini tidak etis dan berbahaya. Kami tidak bekerja sama dengan mereka," kata Dr Stuart Ainsworth dari Liverpool School of Tropical Medicine.

Lembaganya adalah salah satu yang sedang mencari penangkal racun baru dan universal.

Biasanya vaksin baru pertama-tama dicoba pada tikus dan binatang laboratorium lainnya, percobaan pada manusia dilakukan dalam keadaan yang terkontrol setelah dianggap aman.

Tetapi di industri obat dunia memang kurang terdapat panduan dalam melakukan penelitian anti-bisa.

Risiko meninggal

Friede dengan tegas menyangkal pandangan bahwa dia membahayakan dirinya sendiri hanya untuk melonjakkan jumlah pengikut di media sosial.

"Saya bukan melakukan ini untuk membuat video YouTube - saya ingin menyelamatkan nyawa dan melakukan sesuatu yang berbeda. Saya hanya menggunakan YouTube untuk menemukan dokter yang bersedia bekerja sama," katanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tim Friede mengatakan dirinya nyaris meninggal puluhan kali.

Dari hampir 3.000 spesies ular, hanya sekitar 200 jenis yang memiliki bisa yang dapat mematikan atau melumpuhkan manusia.

Friede telah digigit lebih 200 ekor ular hidup dalam dua puluh tahun terakhir. Selain itu dia juga telah 700 kali lebih menyuntikkan bisa ke tubuhnya.

"Jika Anda tidak benar-benar kebal terhadap bisa ular seperti mamba hitam, sistem syaraf tepi Anda akan terkena. Yang berarti diafragma lumpuh dan Anda tidak bisa bernafas, mata tertutup dan Anda tidak bisa berbicara, gerakan Anda semakin perlahan, Anda menjadi lumpuh. Ini tidak akan mengenai sistem syaraf utama, jadi Anda masih dapat berpikir - sampai Anda meninggal," kata Friede.

Gigitan kobra mengerikan

Friede memelihara sejumlah ular berbisa di halaman belakangnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mamba hitam adalah salah satu ular paling mematikan di dunia.

"Saya mempunyai kobra air dari Afrika. Gigitannya mengerikan."

Bisa kobra air memiliki neurotoxin yang menyerang sel syaraf.

"Kobra lain memiliki bisa yang berisi zat perusak sel/cytotoxins penyebab cedera sel yang mematikan/necrosis, sama seperti ular derik. Kobra ini dapat mencaplok jari atau bahkan tangan."

Friede bekerja berdasarkan teori bahwa dengan menerima bisa dalam dosis kecil, seseorang dapat membangun sistem kekebalan tubuh. Tetapi metodologinya ini sangat dikecam.

Menciptakan kekebalan

Metode yang sama - dengan menggunakan binatang - sebenarnya telah membuat kita memiliki satu-satunya anti-bisa yang ada sekarang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ular ditakuti, tetapi juga dipuja di banyak kebudayaan.

Cara memproduksi penawar bisa nyaris tidak berubah sejak abad ke-19. Racun dalam dosis kecil disuntikkan ke kuda atau domba, dan kemudian antibodi binatang dikumpulkan dari darahnya.

Friede, 51 tahun, mantan supir truk, memang bukanlah ahli kekebalan dan dia tidak pernah kuliah di universitas . Tetapi ketakutannya terbunuh mahluk beracunlah yang membuatnya melakukan tindakan yang aneh ini sejak 20 tahun lalu.

Menggandakan antibodi

Hasil pemeriksaan kesehatan meyakinkannya bahwa metodenya efektif.

Hak atas foto Swaminathan Natarajan
Image caption Anti-bisa sangat mahal dan dapat menyebabkan alergi.

"Dibandingkan orang-orang lain saya memiliki antibodi pelawan bisa dalam jumlah dua kalinya. Ini telah dipastikan tes laboratorium," katanya.

Sekitar dua tahun lalu, video YouTube-nya ditonton ahli imunologi Jacob Glanville. Dia berhenti menjadi ilmuwan senior di perusahaan obat raksasa Pfizer untuk mendirikan perusahaannya sendiri yang berkecimpung dalam bidang anti-bisa.

"Yang dilakukan Tim menakjubkan, tetapi memang berbahaya dan saya tidak pernah mengusulkannya kepada siapapun," kata Glanville.

Tetapi perusahaannya tetap menggunakan sampel darah Friede untuk membuat jenis baru anti-bisa.

Penyakit yang tidak diperhatikan

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organisation (WHO), 5,4 juta orang digigit ular setiap tahun. Jumlah korban meninggal sekitar 81.000 sampai 138.000 orang dan lebih dari 400.000 lainnya mengalami cacat permanen.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di banyak tempat di dunia manusia dan ular hidup bersama-sama.

Tetapi baru pada tahun 2017, WHO mengelompokkan gigitan ular sebagai penyakit tropis yang tidak diperhatikan.

Tanggal 19 September kemudian dijadikan sebagai hari kesadaran gigitan ular. Hal ini dilakukan guna mengatasi masalah yang telah melumpuhkan masyarakat pedesaan Asia, Afrika dan Amerika Selatan.

Tikus

Bulan Mei tahun ini, Wellcome Trust mengumumkan kucuran dana sebesar US$100 juta atau Rp1,4 triliun untuk menemukan obat dan anti-bisa yang efektif.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Obat yang baru dikembangkan diuji pada binatang.

Memang banyak organisasi lain yang juga berusaha mengembangkan obat yang aman dan terjangkau.

Tetapi kontrak dengan Glanville ini akan membuat Friede menerima cukup banyak uang jika mereka sampai berhasil mengembangkan vaksin baru.

"Penelitiannya masih akan memakan waktu lama - kami baru akan memulai tes pada tikus."

Ekstremisme demi tujuan tertentu

Glanville dan Friede dikecam banyak ilmuwan karena pendekatan mereka yang tidak biasa. Tetapi kedua orang ini tetap membela penelitian mereka dengan tegas.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tim Friede mengatakan dirinya mengambil risiko besar demi tujuan tertentu.

"Kami tetap memperhatikan bioetika dengan sangat seksama. Kami menggunakan model yang sama dengan yang telah digunakan pada penelitian dimana subyeknya juga berisiko tinggi terpapar pada hal-hal lain, seperti cedera karena pekerjaan, HIV, dll," kata Glanville.

Meskipun mengakui pendekatannya tidaklah mudah ditiru orang lain, Tim Friede mengatakan cara ini kemungkinan akan menghasilkan sesuatu.

"Ada tujuan tertentu di balik ekstremisme saya. Saya mengambil risiko untuk menemukan anti-bisa yang terjangkau dan universal."

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Program Medis Kuba di Luar Negeri Jadi Sumber Kontroversi
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Sebuah program medis Kuba di luar negeri yang banyak dipuji dituduh telah ikut mendorong protes di n...
Bentrokan di Lapangan Baghdad, Sedikitnya 3 Tewas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Pasukan keamanan Irak menembakkan peluru tajam dan gas air mata untuk mengatasi bentrokan baru denga...
Kamboja Minta RI Tangkap Pemimpin Oposisi, Tapi Kemudian Dibatalkan
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Kamboja telah meminta pemerintah Indonesia untuk menangkap pemimpin oposisi Sam Rainsy ketika dalam ...
Pantai Timur Australia Diamuk Kebakaran Hutan
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Sejumlah kebakaran hutan membakar seluruh pantai timur Australia pada hari Sabtu (16/11). Petugas pe...
Trump Minta Tokyo Bayar AS$ 8 Miliar Atas Penempatan Pasukan AS di Jepang
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Presiden AS Donald Trump meminta Jepang untuk melipatgandakan pembayarannya untuk pasukan AS yang di...
Polisi Paris Tembakkan Gas Air Mata Saat Peringatan HUT Rompi Kuning
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Polisi Paris menembakkan gas air mata di barat laut dan selatan Paris pada hari Sabtu (16/11) untuk ...
Turki: Serangan Milisi Kurdi Tewaskan 10 Orang di Al-Bab Suriah
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Kementerian Pertahanan Turki mengatakan, Sabtu (16/11), sebuah serangan bom mobil yang dilakukan ole...
Tentara China Bersihkan Barikade di Hong Kong, Warga Cemas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Puluhan Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA membantu membersihkan barikade yang dipasang oleh p...
Israel Melancarkan Serangan Terhadap Hamas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Israel mengatakan, telah melakukan serangan udara terhadap Hamas di Jalur Gaza pada Sabtu (16/11), m...
Hong Kong Menimbang Langkah Darurat untuk Akhiri Demo
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Pemerintah Hong Kong mungkin sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk meningkatkan upaya mereda...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)