Kiri Kanan
Hong Kong: Harga hunian tidak terjangkau, banyak pasutri harus hidup sendiri-sendiri
Elshinta
Selasa, 01 Oktober 2019 - 15:34 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Hong Kong: Harga hunian tidak terjangkau, banyak pasutri harus hidup sendiri-sendiri
BBC Indonesia - Hong Kong: Harga hunian tidak terjangkau, banyak pasutri harus hidup sendiri-sendiri

Apakah Anda bisa tinggal terpisah dari suami atau istri Anda? Pasar hunian yang sangat mahal di Hong Kong memaksa banyak keluarga harus tinggal terpisah - dengan hanya sedikit solusi di pelupuk mata.

Lam Lok dan Jason Chau jatuh cinta ketika mereka bekerja di Disneyland pada musim panas tahun 2012. Jason menyukai kepribadian Lam yang supel, sementara Lam mengagumi bentuk punggung Jason yang kuat. Jason lantas mengajaknya makan malam dan Lam pun mau.

Tiga tahun kemudian mereka menikah dan memiliki seorang anak. Akan tetapi, tidak seperti kisah cinta yang dijalani, kehidupan nyata mereka jauh dari kisah dongeng.

Lam, berusia 31 tahun, tinggal bersama orang tuanya di North Point, di Distrik Timur Pulau Hong Kong. Jaraknya satu jam perjalanan dari Pulau Tsing Yi, di mana Jason (35 tahun) juga tinggal bersama ayah-ibunya.

Anak perempuan mereka yang masih berumur tiga tahun, bernama Yu, menghabiskan hari Senin sampai Kamis di rumah Lam, dan berakhir pekan di rumah Jason. Ketiganya tidak bisa pindah ke salah satu rumah keluarga, kata Lam, karena ruang tidurnya terlalu sempit untuk diisi dua orang dewasa dan satu anak.

"Saya tidak sanggup pada mulanya. Kami kadang meragukan pernikahan kami sendiri karena hidup terpisah membuat kami merasa seperti masih lajang," ungkap Lam. "Butuh waktu lebih dari setahun sampai kami mulai terbiasa dengan pola hidup seperti ini."

Pada bulan pertama setelah Yu lahir, Lam kesulitan merawat bayi itu, meskipun sudah dibantu sang Ibu. "Suami saya tidak bisa berbagi tugas membesarkan Yu karena ia tinggal sangat jauh. Kami juga tidak bisa melihat perkembangan Yu bersama-sama," ungkapnya.

Jika Anda pikir situasi seperti ini terdengar aneh, secara mengejutkan, kondisi tersebut justru menjadi semakin umum di tengah pasar hunian Hong Kong yang amat sangat tidak terjangkau.

Lam dan Jason berada di tengah meningkatnya jumlah pasangan menikah yang tidak bisa tinggal bersama dalam satu atap.

Harga tinggi, ekspektasi rendah

Hampir tiap satu dari 10 pasangan menikah di Hong Kong tidak tinggal bersama pasangan mereka. Dan bagi mereka yang tinggal bersama, hingga 12% di antara mereka yang berusia 25-34 tahun tinggal menumpang dengan orang tua mereka, menurut data pemerintah tahun 2018.

Lam menyalahkan lokasi rumah mereka yang berada di tanah dengan peraturan penggunaan lahan terbatas serta harga properti Hong Kong yang selama sembilan tahun berturut-turut menjadi yang termahal di dunia.

Menurut Studi Demografi Keterjangkauan Hunian Internasional 2019, yang meranking 309 kawasan metropolitan di delapan negara, Hong Kong diranking sebagai pasar yang paling tidak terjangkau.

Harga rata-rata rumah di sana berada di kisaran 21 kali penghasilan tahunan rata-rata suatu rumah tangga; sebagai perbandingan, harga rumah di pasar Eropa yang paling mahal - kawasan London dan sekitarnya - hanya seharga 8,3 kali penghasilan tahunan rata-rata rumah tangga.

Bahkan untuk menyewa kamar kos saja - yang biasanya terbentuk dari unit apartemen yang diberi sekat-sekat untuk menampung lebih banyak orang - sulit, biayanya mencapai HK$4 ribu (Rp7 juta) per bulan. Biasanya kamar itu hanya bisa muat satu tempat tidur.

Penghasilan tahunan rata-rata pekerja di Hong Kong yang berusia 15-24 tahun yaitu HK$10.750 (19,5 juta), dan sedikit lebih tinggi, HK$21.000 (38 juta), bagi pegawai usia 30-39.

Bahkan, walaupun suami dan istri sama-sama memiliki penghasilan yang baik dari karir masing-masing, "kelas menengah sulit membeli rumah sendiri dengan ukuran yang layak", ungkap Michael Rowse, mantan direktur jenderal program pemerintah InvestHK.

Kemarahan terhadap masalah permukiman di sana turut memicu gelombang unjuk rasa yang terjadi di Hong Kong belakangan.

Meskipun demonstrasi mulanya disebabkan oleh rancangan undang-undang ekstradisi yang kini sudah dicabut, ada pula kekhawatiran terhadap pengaruh Beijing serta jalan buntu untuk mencapai demokrasi yang lebih baik.

Demonstrasi juga didorong rasa frustrasi terhadap kegagalan pemerintah untuk menanggulangi masalah kesenjangan - persepsi bahwa pemerintah lebih membela para pengembang properti ketimbang warganya sendiri - ditambah kekhawatiran tentang dampak para imigran dari daratan terhadap inventaris permukiman menjadi faktor-faktor lain yang ikut memicu protes.

Lam, seorang pekerja media, dan Chau, staf Disneyland, sama-sama memiliki pendapatan di bawah rata-rata. Keduanya tidak membayar uang sewa kepada orang tua masing-masing, tapi tetap kesulitan menabung untuk membayar cicilan rumah dan pengeluaran terkait anak mereka.

"Kami berencana tinggal bersama, tapi dalam jangka pendek hal itu tidak mungkin," ujar Chau.

Hak atas foto Megumi Lim
Image caption Kathy Tam, 28 tahun, dan Louis Lee, 32 tahun, berhasil mendapatkan perumahan publik setelah mendaftar tahun 2012, bertahun-tahun sebelum mereka menikah pada 2017

Bersama tapi terpisah

Agar bisa tinggal bersama, banyak pasangan muda Hong Kong yang mencari alternatif untuk tempat tinggal pribadi dalam bentuk perumahan umum. Tapi tidak mudah mendapatkan rumah susun umum; akibat tingginya permintaan tapi rendahnya ketersediaan, waktu tunggu rata-rata bisa mencapai lima setengah tahun. Sampai Juli saja, sudah ada 147 ribu pendaftar di daftar tunggu.

Kathy Tam, 28 tahun, dan suaminya, Louis Lee (32 tahun), berhasil mendapatkan rumah susun publik setelah mendaftar sejak tahun 2012, bertahun-tahun sebelum akhirnya menikah pada tahun 2017. "Kami sudah yakin pada satu sama lain, sehingga - bahkan tanpa rumah susun untuk tinggal bersama, kami memutuskan untuk menikah," ujar Tam.

Karena Lee sudah membuat perencanaan, mereka hanya harus tinggal terpisah selama satu tahun sebelum akhirnya pindah ke rumah susun seluas 21 meter persegi, di mana kini mereka tinggali bersama seekor kucing.

"Tidak tinggal bersama untuk jangka panjang akan membuat kami merasa keluarga kami tidak lengkap, makanya sekarang kami sangat bersyukur bisa tinggal bersama. Kami tidak akan berpikir untuk mempunyai anak tanpa ini," katanya.

Keengganan Tam dan Lee untuk memiliki anak tanpa tinggal bersama mencerminkan dampak yang lebih besar bagi wilayah tersebut, karena masa depan populasi Hong Kong ada di tangan pasangan-pasangan muda seperti mereka.

Kawasan itu memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan terus menurun; tingkat kelahirannya jatuh lebih dari 50% dari 16,8 kelahiran per 1.000 orang pada tahun 1981, menjadi 7,7 pada tahun 2017, menurut data pemerintah setempat.

Hong Kong juga merupakan salah satu negara dengan populasi menua terbesar di Asia. Jumlah penduduk lanjut usia di sana akan menjadi sepertiga populasi pada tahun 2036 mendatang.

Jika angka kelahiran yang rendah terus terjadi, jumlah anak-anak berusia di bawah 15 tahun hanya akan memenuhi 10% jumlah populasi Hong Kong pada tahun 2066.

Hak atas foto Megumi Lim
Image caption Joyce Leung, 30 tahun, tinggal di rumah bersama orang tuanya alih-alih sang suami, Wilfred Wong, 30 tahun. Ia tidur di kasur bertingkat masa kecilnya yang dijejali berbagai boneka binatang

Menjaga percikan cinta itu tetap hidup

Demografi penduduk bukan jadi satu-satunya masalah jika para pasangan tinggal terpisah, tetapi juga dasar-dasar hubungan mereka. Bagaimana cara menjaga pernikahan Anda agar tetap sehat ketika Anda tidak tinggal bersama dengan pasangan?

Wilfred Wong dan Joyce Leung, sama-sama berusia 30 tahun, kini tinggal bersama keluarga masing-masing: Joyce, di kamar dengan kasur bertingkat masa kecilnya yang dijejali berbagai boneka binatang; sementara Wilfred tinggal di Kowloon, berjarak 40 menit di seberang pelabuhan.

Keduanya tahu bahwa mereka harus menunggu bertahun-tahun hingga akhirnya bisa tinggal bersama, tapi tetap memutuskan menikah awal tahun ini.

Wilfred mengatakan bahwa mereka berkirim pesan dan membuat jadwal telepon dan kencan untuk memastikan bahwa mereka tetap dekat. "Kedengarannya aneh," ujarnya, "tetapi tinggal terpisah sebenarnya bisa menjaga percikan cinta dalam pernikahanmu."

Sama seperti Wilfred dan Joyce, Lam dan Jason juga berkencan dan berjalan-jalan bersama ke Jepang setiap kali orang tua mereka punya waktu untuk membantu mengurus Yu, anak mereka. Terkadang, mereka menghabiskan malam di hotel lokal, dan membawa Yu jalan-jalan ke Disneyland untuk piknik keluarga.

Setiap minggunya, Jason akan mencoba menyelipkan waktu lebih banyak untuk bersama istri dan anaknya dengan mengantar mereka pulang sebelum ia sendiri pulang ke rumahnya di Tsing Yi menggunakan kereta bawah tanah.

Hak atas foto Megumi Lim
Image caption Ma Hoi-shing, 69 tahun, kerap tinggal terpisah dari istrinya, Jin Guo Fei, 62 tahun.

Tetap saja, meskipun para pasangan bisa menemukan waktu untuk dinikmati bersama, tinggal terpisah bisa menciptakan kesepian - terlepas dari usia mereka.

Rasa sepi itu kerap mendera Ma Hoi-shing yang sudah berusia 69 tahun, seorang mantan pegawai di kasino Macau. Ia tinggal terpisah dari istrinya yang berusia 62 tahun, Jin Guo Fei, yang pertama ia lihat ketika tengah berjudi.

Rumah Ma hanya berbentuk ruangan kos seluas 5,5 meter persegi tanpa jendela, dengan harga sewa sebesar dua pertiga dana subsidi bulanan dari pemerintah sebesar HK$5 ribu (Rp9 juta) yang diterimanya.

Sementara Jin secara rutin pulang ke rumahnya di Hangzhou, China daratan setiap beberapa bulan sekali, sebagiannya karena masalah kesehatan yang dideritanya akibat tinggal di rumah kos Ma yang tidak berventilasi.

"Rumah kos itu sangat kecil dan sangat sulit bagi saya untuk tinggal di sana," ungkap Jin.

Ma sudah mendaftarkan dirinya untuk mendapat rumah susun publik Hong Kong agar keduanya bisa tinggal di lingkungan yang lebih baik. Untuk saat ini mereka hanya menghabiskan sedikit waktu untuk bersama. Lagi-lagi, walaupun mereka tahu akan menghadapi berbagai tantangan karena tinggal terpisah, mereka menikah.

Bahkan di tahun ketiga penantian mereka akan rumah subsidi pemerintah tersebut, Jin mengatakan bahwa hidup mereka berdua dangat menyenangkan.

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris dengan judul The married couples in Hong Kong who live apart pada laman BBC Worklife

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Program Medis Kuba di Luar Negeri Jadi Sumber Kontroversi
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Sebuah program medis Kuba di luar negeri yang banyak dipuji dituduh telah ikut mendorong protes di n...
Bentrokan di Lapangan Baghdad, Sedikitnya 3 Tewas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Pasukan keamanan Irak menembakkan peluru tajam dan gas air mata untuk mengatasi bentrokan baru denga...
Kamboja Minta RI Tangkap Pemimpin Oposisi, Tapi Kemudian Dibatalkan
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Kamboja telah meminta pemerintah Indonesia untuk menangkap pemimpin oposisi Sam Rainsy ketika dalam ...
Pantai Timur Australia Diamuk Kebakaran Hutan
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Sejumlah kebakaran hutan membakar seluruh pantai timur Australia pada hari Sabtu (16/11). Petugas pe...
Trump Minta Tokyo Bayar AS$ 8 Miliar Atas Penempatan Pasukan AS di Jepang
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Presiden AS Donald Trump meminta Jepang untuk melipatgandakan pembayarannya untuk pasukan AS yang di...
Polisi Paris Tembakkan Gas Air Mata Saat Peringatan HUT Rompi Kuning
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Polisi Paris menembakkan gas air mata di barat laut dan selatan Paris pada hari Sabtu (16/11) untuk ...
Turki: Serangan Milisi Kurdi Tewaskan 10 Orang di Al-Bab Suriah
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Kementerian Pertahanan Turki mengatakan, Sabtu (16/11), sebuah serangan bom mobil yang dilakukan ole...
Tentara China Bersihkan Barikade di Hong Kong, Warga Cemas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Puluhan Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA membantu membersihkan barikade yang dipasang oleh p...
Israel Melancarkan Serangan Terhadap Hamas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Israel mengatakan, telah melakukan serangan udara terhadap Hamas di Jalur Gaza pada Sabtu (16/11), m...
Hong Kong Menimbang Langkah Darurat untuk Akhiri Demo
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Pemerintah Hong Kong mungkin sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk meningkatkan upaya mereda...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)