Australia Khawatir Resiko Serangan Teror Jika Pulangkan Perempuan ISIS
Elshinta
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:41 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Australia Khawatir Resiko Serangan Teror Jika Pulangkan Perempuan ISIS
ABC.net.au - Australia Khawatir Resiko Serangan Teror Jika Pulangkan Perempuan ISIS

Menteri Dalam Negeri Australia, Peter Dutton mengatakan Australia beresiko mendapat serangan teror besar, bila pemerintah membantu memulangkan keluarga pejuang ISIS dari Suriah.

Keluarga Australia di Suriah

Peter Dutton mengatakan dirinya mendapat masukan bahwa beberapa perempuan dari keluarga ISIS adalah kelompok garis keras, karena suami atau pasangan mereka berjuang membela ISIS di Suriah.

"Mereka ini dalam penilaian kami, tidak semua, hanya beberapa diantara mereka memiliki potensi dan kapasitas untuk kembali ke sini dan membuat kekacauan yang memakan korban besar," kata Dutton kepada Radio 2GB.

"Jadi saya kira tidak mengejutkan kalau kita mengatakan tidak akan mengirimkan tentara untuk menyelamatkan orang-orang seperti ini."

Sekitar 20 perempuan asal Australia dengan lebih dari 40 anak-anak masih berada di kamp pengungsi al-Hawl di Suriah Utara, setelah anggota keluarga mereka tewas berjuang membela ISIS.

Beberapa diantara perempuan ini mengatakan mereka dijebak untuk pergi ke Suriah dan telah meminta bantuan pemerintah Australia untuk menyelamatkan mereka dari kamp pengungsi.

Namun Peter Dutton mengatakan masukan yang diterimanya tidaklah demikian.

"Masukan yang saya dapatkan mengenai para perempuan itu mengatakan mereka tidaklah dibujuk atau ditipu oleh suami atau pacar mereka," katanya.

"Mereka pergi dengan sukarela dan memiliki pandangan yang sama fundamentalnya dengan teroris pria yang kita lihat berjuang di Suriah dan Irak."

Pernyataan Peter Dutton ini muncul saat Turki mulai melakukan operasi militer di kawasan utara Suriah, lokasi dimana kamp pengungsi berada, setelah Amerika Serikat menarik pasukannya.

Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan Australia prihatin dengan aksi Turki dan memperingatkan ini bisa membuat ISIS bangkit kembali.

Ia mengaku sudah mengadakan kontak langsung dengan Amerika Serikat, Kamis pagi (10/10), selain juga sudah berbicara dengan pemerintah Turki.

"Kami khawatir mengenai kemungkinan serangan ini terhadap warga Kurdi, kami juga khawatir mengenai kemungkinan munculnya ISIS kembali," kata PM Morrison.

Sementara itu, Departemen Dalam Negeri Australia mengkonfirmasi sedikitnya 17 warga Australia, yang berkewarganegaraan ganda dan bergabung dengan ISIS, telah dicabut kewarganegaraan Australianya.

Namun mereka menolak memberikan rincian nama.

Belum jelas berapa diantara 20 perempuan Australia yang berada di kamp al-Hawl yang telah dicabut kewarganegaraannya.

Namun, PM Morrison mengatakan anak-anak dari mereka tidak akan dicabut haknya sebagai warga negara Australia.

Lihat berita selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 157
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once