Tak Kenal Wiranto, "Yang Penting Serang Pejabat Itu"
Elshinta
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:41 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Tak Kenal Wiranto,
DW.com - Tak Kenal Wiranto, "Yang Penting Serang Pejabat Itu"

Dalam konferensi persnya, Jumat (11/10), Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyampaikan temuan-temuan baru atas pemeriksaan pasutri tersangka penusukan Wiranto. Keduanya disebut melakukan aksi spontan menyerang pejabat negara dan aparat kepolisian, mereka bahkan tidak tahu siapa Wiranto.

“Nanti saya menyerang bapak yang turun dari heli, kamu tusuk anggota polisi siapa saja yang dekat,” kata Dedi menirukan ucapan Syahril kepada istrinya.

Aksi yang dilakukan tersangka didasari motif tersulut emosi karena beberapa hari lalu, polisi telah lebih dulu menangkap ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi, yakni Abu Zee Ghuroba.

“Abu Rara sendiri merasa takut, stres dan tertekan setelah mendengar ketuanya (meskipun dia tidak dalam hubungan kelompok aktif) di kelompok Abu Zee ini tertangkap," jelasnya.

“(Wah ini tertangkap Abu Zee), maka saya khawatir saya akan tertangkap,” ujarnya seraya meniru pernyataan tersangka.

Maka Syahril segera berkomunikasi dengan istrinya untuk siap-siap melakukan aksi. Secara tiba-tiba hari itu Syahril melihat warga berbondong-bondong datang ke Alun-Alun, Menes, Pandeglang, Banten. Ia merasa inilah saat yang tepat baginya melakukan aksi penyerangan, yang diyakini terdapat pejabat negara serta aparat kepolisian.

Dedi menjelaskan mengapa pihak kepolisian selalu menjadi target aksi serupa, karena menurutnya selama 17 tahun lebih kepolisian punya rekam jejak melakukan upaya preventive strike terhadap kelompok ekstrem. Sehingga tak heran, kepolisian menjadi sasaran utama mereka.

Hingga kini, kepolisian masih mengejar mastermind atau dalang dibalik kelompok-kelompok radikal yang terdeteksi telah tersebar di Jatim, Jateng, Morowali, Sibolga, Bandung, Manado dan Bali.

Baca juga: Residu Pilpres di Balik Tuduhan "Rekayasa" Penusukan Wiranto

Berpura-pura menyalami Wiranto

Tersangka awalnya berpura-pura ingin menyalami Wiranto, saat turun dari mobilnya di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. Seperti kebanyakan warga lainnya hal ini tidak terasa mencurigakan sama sekali. Seketika, Syahril mengeluarkan kunai dan langsung menusuk Wiranto, sebanyak dua kali.

Insiden ini meninggalkan luka tusukan di bagian perut kiri Wiranto. Tersangka juga melukai Kapolsek Menes, Kompol Dariyanto, dibagian punggung. Serta ajudan Wiranto, Fuad yang juga terluka di bagian dada sebelah kiri atas dan seorang pegawai Universitas Mathla'ul Anwar.

Tak lama, seluruh korban terluka langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Pandeglang, Banten untuk mendapat pertolongan pertama. Sementara kedua pelaku penusukan langsung diciduk saat itu juga.

Mengetahui hal ini, Presiden Jokowi langsung menginstruksikan kepada petugas di lapangan untuk menyiapkan pemindahan Wiranto menuju Rumah Sakit Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, menggunakan helikopter.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Polisi Dedi Prasetyo menyatakan, Syahril mengidentifikasi Syahril dan istrinya terpapar paham radikal.

Pengamanan pejabat negara ditingkatkan

Presiden Joko Widodo secara tegas mengatakan bahwa jaringan terorisme ini harus diberantas. Ia langsung memerintahkan Kapolri, Kepala BIN yang juga didukung oleh TNI, untuk mengusut tuntas kasus ini hingga menindak tegas pelaku, sampai ke jaringan terorisnya.

“Mengajak untuk memerangi radikalisme dan memerangi terorisme yang ada di tanah air kita. Hanya dengan upaya kita bersama terorisme dan radikalisme akan bisa kita selesaikan berantas dari negara yang kita cintai,” ujarnya usai menjenguk Wiranto, di RSPAD, Kamis (10/10) sore.

Wakil Presiden, Jusuf Kalla yang juga datang menjenguk Wiranto mengatakan, sebenarnya masing-masing pejabat negara pasti sudah mendapatkan pengawalan dasar yang sesuai SOP

“Tentu tidak disangka karena ini pertama kali dari orang yang mencederai pejabat dengan tikaman,” ujarnya.

Menjawab banyak spekulasi beredar tentang rencana kelompok-kelompok radikal untuk menggagalkan pelantikan Presiden pada 20 oktober mendatang, Jusuf Kalla tegaskan hal tidak berpengaruh.

“Yang jelas bahwa di Indonesia ini kelompok radikal masih ada dan itu berkeliaran. Kita sendiri juga mengetahui memang kepolisian, Densus, dan BIN memang selalu peringatkan hal itu,” tambahnya.

Sementara itu Sekretaris Kabinet, Pramono Anung menyampaikan bahwa Presiden telah memberi arahan untuk meningkatkan pengamanan terhadap pejabat negara, menyikapi insiden penusukan terhadap Wiranto.

“Presiden langsung memberikan arahan agar semua pejabat sekarang ini dalam kondisi yang seperti ini untuk dilakukan pengamanan dasar karena sekarang ini kan memang banyak di era pak Jokowi, para pejabat menteri dan sebagainya yang sebenernya tidak mau dikawal, tidak pakai pengawalan,” katanya.

Ia menambahkan, pengawalan sebenarnya tidak perlu terlalu berlebihan. Namun kewaspadaan menjadi penting, karena pada kenyataannya ancaman seperti ini benar terjadi. Menurutnya insiden ini membuka mata semua orang bahwa benar sel-sel jaringan teroris masih ada dan perlu diwaspadai.

Upaya menekan tindakan ekstrimis

Mengingat tersangka merupakan bagian dari jaringan radikal, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan perlu peningkatan sosialisasi pemahaman moderasi agama.

“Bukan agamanya yang dimoderasi, karena agama itu pasti sempurna karena datangnya dari Tuhan Yang Maha Sempurna, tapi cara kita memahami ajaran agama, mengamalkan ajaran itulah yang harus dimoderasi,” ujarnya.

Pemahaman moderasi agama berarti jangan sampai ada yang terjebak atau terperosok pada tindakan yang berlebihan. “Lawannya harus senantiasa moderat,” tambahnya.

Ia mengimbau kepada seluruh jajarannya di Kementerian Agama untuk lebih giat mensosialisasikan ini, agar pengamalan ajaran agama tidak berbelok dari yang seharusnya.

(pkp/hp)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Setahun Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis di Taiwan, Belum Juga Tercapai ‘Kebahagiaan Selamanya‘
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
Ketika Taiwan menjadi tempat pertama di Asia yang mengizinkan pernikahan sesama jenis tahun lalu, s...
Bagaimana Mengenali Teori Konspirasi Pandemi Covid-19?
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
Warga dunia kini sedang berada di tengah pusaran krisis dampak pandemi Covid-19. Bukan hanya masalah...
Kasus Kematian COVID-19 Brasil Tembus 20 Ribu, Kaum Muda Cenderung Lebih Banyak
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
Lebih banyak kaum muda yang dilaporkan meninggal karena COVID-19 di Brasil dibandingkan dengan negar...
Selamatkan Lufthansa, Pemerintah Jerman Ambil Alih 20 Persen Saham
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
Dalam sebuah upaya penyelamatan, pemerintah Jerman dan Lufthansa menyepakati pengalihan 20 persen sa...
Benarkah CIA Tulis Lagu Scorpions Berjudul Wind of Change?
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
"Take me To the magic of the moment Of a glory night Where the children of tomorrow Dream the...
Muslim Timur Tengah Rayakan Idul Fitri Dari Dalam Karantina
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
Kaum muslim di seluruh dunia mengakhiri Ramadan dengan rasa duka, menyusul aturan karantina yang ber...
Cina Dituduh ‘Langkahi‘ Hong Kong Loloskan UU Anti-Subversi 
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:17 WIB
Aktivis pro demokrasi di Hong Kong mengajak warga menentang rencana pemerintah Beijing mengajukan Un...
Turki Deportasi Dua Perempuan Pendukung ISIS dan Empat Anaknya ke Jerman
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:17 WIB
Kedua keluarga mendarat di bandar udara Frankfurt Kamis malam (21/5) usai dideportasi dari Turki, la...
PBB Kecam Malaysia Usai Tangkapi Buruh Migran Dengan Dalih Pengendalian Wabah
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:17 WIB
Utusan khusus PBB untuk Hak Migran mengecam tindakan pemerintah Malaysia menggerebek kantung-kantung...
Puluhan Fosil Mamut Raksasa Ditemukan di Lokasi Proyek Bandara Baru Mexico City
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:17 WIB
Sebuah tim arkeologi di Mexico City telah menemukan sisa-sisa tulang belulang lebih dari 60 mamut ra...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV