Kiri Kanan
"Saya Dipercaya RI 1 Untuk Membangun Lab Sains Terpadu ": Yane Ansanay Doktor Fisika Perempuan Pertama Asal Papua
Elshinta
Kamis, 17 Oktober 2019 - 08:24 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
ABC.net.au - "Saya Dipercaya RI 1 Untuk Membangun Lab Sains Terpadu ": Yane Ansanay Doktor Fisika Perempuan Pertama Asal Papua

Kembali ke kampung halaman usai menyelesaikan studi di AS, fisikawan perempuan pertama asal Papua, Yane Oktovina Ansanay, bertekad mengakhiri krisis energi di Papua melalui pemanfaatan teknologi energi baru dan terbarukan.

Doktor Fisika Perempuan Papua


Yane Ansanay, 33 tahun, meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang Fisika dari North Carolina State University di Amerika Serikat pada tahun 2015.

Setelah sebelumnya ia menamatkan studi master Fisika juga di almamater yang sama.

Gelar doktor fisika perempuan pertama asal Papua ini diraihnya setelah sukses mengungguli ilmuwan fisika dari berbagai negara seperti Jepang, China, Amerika dan Eropa dan mendapatkan beasiswa Graduates Research Assistant -PhD Candidate dari North Carolina State University.

Lama mengenyam pendidikan di luar negeri tidak membuat perempuan kelahiran Jayapura ini lupa dengan tanah kelahirannya.

Sebaliknya kecintaan terhadap Papua juga yang mendasari keputusannya memilih menekuni studi fisika terapan khususnya energi baru dan terbarukan.

"Saya mengambil studi fisika bio material dengan spesifikasi energi baru dan terbarukan."

"Karena saya lihat ini sangat dibutuhkan di Papua dan potensinya sangat besar." katanya saat ditemui ABC di Jakarta.

"Di Papua belum semua desa atau kampung mendapat aliran listrik."

"Walau ada program pemerataan listrik dari pemerintah tapi prakteknya sendiri mengalami kendala karena topografi Papua yang memang sulit berbukit-bukit atau pegunungan."

"Jadi harus ada pendekatan lain yang lebih sesuai dengan alam Papua untuk penuhi kebutuhan energi," tuturnya.

Yane Ansanay menambahkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan ini sangat mendesak dilakukan di Papua.

Tidak hanya untuk energi listrik, masyarakat Papua juga membutuhkan sumber energi alternatif untuk menggantikan minyak tanah yang masih digunakan secara luas di Papua."

"Kalau dibanyak daerah udah umum pakai gas ya, tapi di Papua belum, kami masih umum pakai minyak tanah."

"Seminggu sekali atau dua minggu sekali mobil Pertamina masuk mendrop minyak tanah dan orang-orang akan berjejer 10-20 meter mengantri minyak tanah."

"Itu pemandangan umum tidak cuma di pedalaman tapi juga di kota Jayapura." tambahnya.

Yane Ansanay mengatakan tanah Papua sangat kaya dengan bahan-bahan alam yang bisa dikonversi menjadi energi terbarukan.

Ia melirik banyaknya limbah buah-buahan di Pasar Papua yang bisa dimanfaatkan sebagai bagai pembuat bioetanol.

"Hal yang sederhana limbah buah-buahan dari pasar, kalau ada buah yang tidak dikonsumsi atau sisa ini bisa dimanfaatkan untuk bio etanol."

"Karena bioethanol kalau proses pembuatannya sempurna itu bisa jadi pengganti bensin, tapi kalau yang sederhana yang bisa dibuat di rumah-rumah itu bisa jadi pengganti minyak tanah," paparnya.

Yane mengaku telah mengujicobakan proyek bio etanolnya ini, namun diakui masih perlu jalan panjang untuk merealisasikan mimpinya menghadirkan sumber energi alternatif.

Sebagai langkah awal, ia kini bergabung sebagai staf pengajar studi Teknik geofisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Cendrawasih, Papua.

"Di Uncen kami punya tim energi baru dan terbarukan, kita tengah meneliti potensi mikro algae untuk pengganti solar, itu endemik di setiap tempat di dunia."

"Tapi sejauh ini saya tertarik untuk mengembangkan bio etanol untuk mengurangi sampah."

"Saya berharap sekarang setelah menjadi dosen penuh di kampus, ide energi bioethanol ini bisa dikembangkan." tuturnya.

Laboratorium sains terpadu Papua

Selain menjadi doktor fisika perempuan pertama di Papua, Yane Ansanay juga menjadi pendiri Gerakan Papua Muda Inspiratif, sebuah yayasan yang menghimpun sumber daya manusia muda berprestasi dari berbagai lintas disiplin ilmu pengetahuan asal Papua.

Gerakan ini didapuk untuk mengawaki pembangunan sumber daya manusia Papua yang inovatif.

Lewat gerakan ini pula, Yane Ansanay menerima tugas baru dari pemerintah untuk memimpin rencana pendirian laboratorium sains teknologi terpadu di Papua.

"Saya dipercayakan oleh RI 1, Pak Jokowi, untuk membangun laboratorium terpadu bersertifikasi."

"Nantinya ini akan menjadi lab gabungan fisika, kimia, biologi dan IT untuk menghasilkan berbagai penelitian untuk menghasilkan produk industri dari sumber daya alam yang ada di Papua dan dikelola oleh orang Papua," ungkap Yane.

Yane Ansanay menambahkan jika terealisasi laboratorium terpadu ini akan mampu menjawab tantangan yang selama ini dihadapi kalangan akademisi dan ilmuwan di Papua dalam melakukan penelitian sains dan teknologi.

"Fasilitas lab yang kami miliki di Papua khususnya di Uncen masih terbatas."

"Instrumen yang kita miliki masih yang standar saja."

"Misalnya ketika kami ingin melakukan pengukuran karakterisasi fisika kimia dari bahan yang kami teliti, itu selalu harus dikirim keluar daerah seperti ke Bogor, Jakarta, Malang atau ITB yang memiliki instrumen lebih lengkap."

Dengan lab terpadu ini nantinya instrumen yang kita miliki akan memiliki standar sertifikasi nasional dan internasional," tegasnya.

Selain itu kehadiran laboratorium terpadu ini nantinya juga diharapkan dapat menjadi daya tarik ilmuwan asal Papua untuk giat berkiprah di tanah kelahirannya sendiri.

"Kalau terealisasi lab ini bisa dikembangkan menjadi lahan pekerjaan baru bagi pemuda Papua. Karena Pemda Papua sebenarnya sudah banyak kirim anak belajar ke luar negeri untuk studi lanjut."

"Tapi kadang karena di luar negeri mereka sudah terekspos dengan teknologi yang canggih, maka ketika kembali ke Papua instrumennya serba terbatas mereka jadi kecewa."

"Saya harap lab ini akan mengisi gap ketimpangan itu sehingga mereka mau kembali dan berkarya di Papua."

Anak jenius asal Papua

Bakat menonjol Yane Ansanay di bidang Fisika sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah menengah.

"Fisika ilmu yang menarik karena bisa menjelaskan banyak hal yang ada di alam atau hal sederhana yang ada disekitar kita."

"Misal kita lihat awan bergerak, itu kan karena angin dan itu bisa dijelaskan dengan teori fisika." katanya.

Prestasinya dibidang Fisika ini kemudian ditemukan oleh program pencarian anak jenius yang dilakukan oleh Profesor Johannes Surya pada 2003.

Yane lolos seleksi mengikuti pendidikan di Surya Institut yang dikhususkan bagi anak dengan bakat dasar kuat atau jenius dan mendapat gemblengan langsung dari fisikawan Johannes Surya untuk mengikuti ajang Olimpiade Fisika Internasional.

"Tahun 2003-2004 setelah kelas 1 SMA, saya lolos ikut sekolah dengan Profesor Johanes Surya di Tangerang. Muridnya semua anak-anak pintar dari berbagai daerah, dari 14 orang, saya perempuan satu-satunya dan dari Papua."tutur Yane.

Yane kemudian melanjutkan studi fisikanya di Universitas Pelita Harapan, dan lalu kemudian meraih beasiswa untuk meneruskan sekolah masternya di North Carolina State University di Amerika Serikat.

Namun menurutnya Papua masih memiliki banyak sosok lain yang mumpuni di bidang fisika.

Ia menyebut nama rekannya yang juga alumnus North Carolina State University, yakni Maya Wospakrik.

Maya kini menjadi Peneliti Fisika Nuklir di Fermilab, sebuah laboratorium sains di Illinois Amerika Serikat.

Selain itu ada juga Anieke Boaire, perempuan pemenang First Step to Nobel Prize, sebuah kompetisi internasional Bergengsi dalam Bidang Fisika.

"Saya bermimpi, akan ada lebih banyak lagi perempuan Papua yang mampu bersaing di kancah nasional dan internasional," ungkapnya.

Khusus di bidang Fisika, ia mengaku optimistis masih ada banyak anak-anak muda Papua yang menaruh minat tinggi pada bidang yang satu ini.

"Mereka itu ada minat, saya lihat tantangan sebagai pengajar di Papua agak lebih dibandingkan dengan dosen di daerah lain."

"Mengajar anak-anak Papua harus perlahan-lahan, kalau bagi yang sudah punya dasar yang kuat itu bisa lebih cepat, tapi kalau bagi yang belum kita harus memberikan pemahaman lebih.

"Approachnya harus tepat dan dosen harus paham psikologi," tuturnya.

Simak berita-berita lainnya dari ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Program Medis Kuba di Luar Negeri Jadi Sumber Kontroversi
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Sebuah program medis Kuba di luar negeri yang banyak dipuji dituduh telah ikut mendorong protes di n...
Bentrokan di Lapangan Baghdad, Sedikitnya 3 Tewas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Pasukan keamanan Irak menembakkan peluru tajam dan gas air mata untuk mengatasi bentrokan baru denga...
Kamboja Minta RI Tangkap Pemimpin Oposisi, Tapi Kemudian Dibatalkan
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Kamboja telah meminta pemerintah Indonesia untuk menangkap pemimpin oposisi Sam Rainsy ketika dalam ...
Pantai Timur Australia Diamuk Kebakaran Hutan
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Sejumlah kebakaran hutan membakar seluruh pantai timur Australia pada hari Sabtu (16/11). Petugas pe...
Trump Minta Tokyo Bayar AS$ 8 Miliar Atas Penempatan Pasukan AS di Jepang
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Presiden AS Donald Trump meminta Jepang untuk melipatgandakan pembayarannya untuk pasukan AS yang di...
Polisi Paris Tembakkan Gas Air Mata Saat Peringatan HUT Rompi Kuning
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Polisi Paris menembakkan gas air mata di barat laut dan selatan Paris pada hari Sabtu (16/11) untuk ...
Turki: Serangan Milisi Kurdi Tewaskan 10 Orang di Al-Bab Suriah
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Kementerian Pertahanan Turki mengatakan, Sabtu (16/11), sebuah serangan bom mobil yang dilakukan ole...
Tentara China Bersihkan Barikade di Hong Kong, Warga Cemas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Puluhan Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA membantu membersihkan barikade yang dipasang oleh p...
Israel Melancarkan Serangan Terhadap Hamas
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Israel mengatakan, telah melakukan serangan udara terhadap Hamas di Jalur Gaza pada Sabtu (16/11), m...
Hong Kong Menimbang Langkah Darurat untuk Akhiri Demo
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB
Pemerintah Hong Kong mungkin sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk meningkatkan upaya mereda...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)