Trump Bela Keputusan Tarik Pasukan AS dari Suriah
Elshinta
Jumat, 18 Oktober 2019 - 18:05 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Trump Bela Keputusan Tarik Pasukan AS dari Suriah
VOA Indonesia - Trump Bela Keputusan Tarik Pasukan AS dari Suriah
Presiden AS Donald Trump, Rabu (16/10), mendapat teguran keras dari para anggota Kongres dari kedua partai terkait keputusannya menarik pasukan AS dari Suriah Timur Laut. Penarikan itu segera disusul oleh serangan Turki terhadap laskar Kurdi Suriah, yang merupakan sekutu penting AS dalam perang melawan teroris ISIS. Dengan suara mayoritas, DPR AS pada hari Rabu juga memutuskan untuk mendukung resolusi yang mengecam keputusan Trump. Trump sendiri mengatakan ia meminta serangan Turki di Suriah Utara dihentikan. Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Rabu, ia menarik pulang tentara AS sebagaimana yang telah ia janjikan pada kampanye kepresidenannya. "Ini waktunya membawa pulang tentara kita. Begitulah. Tidak ada tentara kita yang cedera atau terluka. Itu karena sayalah presidennya dan kitalah bosnya. Ingat itu," kata Trump. Trump menolak tuduhan bahwa ia telah memberi Turki ‘lampu hijau’ untuk menyerang Suriah Utara dalam percakapan teleponnya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.   "Saya menulis surat begitu percakapan itu selesai, surat yang sangat tegas. Tidak pernah ada pemberian lampu hijau," tambah Trump. Satu delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden Mike Pence kini berada di Ankara dengan tugas membujuk Erdogan agar mencapai kesepakatan gencatan senjata di Suriah Utara. Jika tidak, Turki akan menghadapi sanksi-sanksi keras dari Amerika. Para anggota Kongres AS telah menyatakan keraguan bahwa ancaman sanksi-sanksi akan menghentikan pertumpahan darah yang dipicu oleh pasukan dukungan Turki sepekan silam. Pendukung Trump, Senator Lindsey Graham dari Fraksi Republik mengatakan, penarikan pasukan AS menciptakan kekosongan di Suriah Utara yang dengan cepat diisi oleh musuh-musuh AS. "Rusia dan Iran bukan teman-teman kita. Mereka tidak akan melindungi kepentingan Amerika. Kurdi adalah sahabat kita. Mereka telah ditinggalkan," kata Graham. DPR AS, hari Rabu, memutuskan dengan suara 354 berbanding 60 dalam mendukung resolusi yang mengecam keputusan Trump. Seusai pemungutan suara, Trump bertemu dengan wakil-wakil kedua partai di Gedung Putih. Para anggota Demokrat meninggalkan tempat pertemuan setelah Trump kabarnya menyebut petinggi fraksi Demokrat Nancy Pelosi sebagai “politisi kelas tiga.” "Saya pikir, hasil pemungutan suara itu, banyaknya suara – lebih dari dua per tiga anggota fraksi Republik yang memutuskan untuk menentang apa yang presiden lakukan – kemungkinan mengena ke presiden karena ia terguncang oleh itu. Dan itu sebabnya kami tidak dapat melanjutkan pertemuan karena ia tidak memahami realitasnya," ujar Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Sementara itu anggota Kongres dari Faksi Republik mengecam aksi Pelosi meninggalkan tempat pertemuan. Di antaranya adalah Kevin McCarthy, pemimpin minoritas di DPR. "Pada waktu terjadi krisis, pemimpin seharusnya tetap tinggal, suka atau tidak suka dengan apa yang disampaikan, dan benar-benar bekerja untuk menyelesaikan masalah," ujar Kevin. Sementara para legislator meminta Trump untuk mengubah keputusannya mengingat situasi di lapangan di Suriah telah berubah. Pasukan pemerintah Suriah bergabung bersama laskar Kurdi dan milisi lokal lainnya untuk menghadang invasi Turki di bagian utara. Setelah memasuki kota penting Manbij hari Selasa (15/10), pasukan tersebut memasuki Kobani, kota perbatasan yang strategis, pada Rabu malam. Rusia telah berjanji akan mencegah pertempuran apapun antara Turki dan pasukan pemerintah Suriah yang didukung Moskow. [uh/lt]    
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Parlemen Hong Kong Lakukan Debat Akhir tentang Lagu Kebangsaan China
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Parlemen Hong Kong, Kamis (4/6) memulai debat akhir mengenai RUU kontroversial yang akan menghukum m...
Iran Tandatangani Kontrak Ekspor Listrik ke Irak
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Iran telah menandatangani kontrak dua tahun dengan Irak untuk mengekspor listrik ke negara tetanggan...
Chili Catat Kematian Terbesar Dalam Sehari Akibat COVID-19
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Pihak berwenang menyatakan Chili, yang melaporkan kasus virus corona terbanyak di Amerika Selatan, m...
Uni Eropa Bersikukuh Anggap Guaido Ketua Majelis Nasional Venezuela
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Uni Eropa, Kamis (4/6), menyatakan, keputusan Mahkamah Agung Venezuela untuk mengukuhkan sekutu Pres...
India, Australia Tanda Tangani Kesepakatan Pertahanan dan Dagang
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
India dan Australia meningkatkan hubungan mereka dengan serangkaian kesepakatan, Kamis (4/6), termas...
CDC: Pasien UGD untuk Penyakit Bukan Covid-19 Menurun Bulan April
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Suatu laporan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyatakan kunjungan ke ruang...
China Longgarkan Akses Penerbangan Internasional
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Badan pengawas penerbangan China mengatakan, Kamis (4/6), akan mengizinkan lebih banyak maskapai pen...
Jokowi Targetkan Tes Covid-19 Capai 20 Ribu Per Hari
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Setelah mencapai target 10.000 tes COVID-19 per hari, Presiden Joko Widodo ingin meningkatkannya men...
Corona Datang, Petani Mawar Tak Lagi Raup Keuntungan
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Kota Batu dikenal sebagai kota wisata dan kota bunga. Beraneka jenis bunga dikirim dari kota ini ke ...
Pemerintah Diminta Lebih Agresif Terkait Diagnosa Pasien Corona
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:55 WIB
Pemerintah pusat sampai saat ini tidak pernah mempublikasikan data Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yan...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV