Apakah Jet Pribadi Perlu Dilarang Demi Perlindungan Lingkungan?
Elshinta
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Apakah Jet Pribadi Perlu Dilarang Demi Perlindungan Lingkungan?
DW.com - Apakah Jet Pribadi Perlu Dilarang Demi Perlindungan Lingkungan?

Banyak delegasi yang hadir di KTT Iklim COP25 di Madrid akan datang dengan pesawat terbang. Beberapa peserta bahkan akan tiba dengan jet pribadi. Penerbangan adalah moda perjalanan yang "intensif karbon", artinya menyebabkan emisi CO2 yang cukup tinggi.

Kondisi ini sudah sering dikritik aktivis lingkungan. Karena para politisi dan selebriti yang sering menyerukan perlindungan iklim dianggap munafik ketika memperumit masalah perlindungan iklim dengan moda perjalanannya.

"Bahkan ketika mereka bermaksud baik, orang-orang yang sangat kaya tidak berhenti menghancurkan kehidupan dunia," tulis aktivis lingkungan Inggris George Monbiot dalam sebuah kolom di harian terkemuka Inggris, The Guardian.

George merujuk pada konferensi iklim yang pernah diselenggarakan Google Juli lalu, yang menampilkan banyak tokoh terkemuka, termasuk mantan Presiden AS Barack Obama, Prince Harry dan aktor Hollywood Leonardo DiCaprio. - tiba di salah satu dari 114 jet pribadi yang daatng ke Verdura Resort di Italia.

Perjalanan dengan pesawat pribadi merusak?

Di Forum Ekonomi Dunia di Davos Januarim 2019, posting sejarawan Belanda Rutger Bregman menjadi viral setelah dia menulis bahwa "1500 jet pribadi telah terbang ke sini untuk mendengar Sir David Attenborough berbicara tentang bagaimana kita menghancurkan planet ini."

Perjalanan udara kebanyakan tidak dilakukan untuk popularitas pribadi. Di kota-kota besar AS, Amerika Selatan dan Asia yang sering dilanda kemacetan parah, para pebisnis biasa mengandalkan pesawat untuk menghemat waktu. Di Sao Paulo, Brasil, misalnya, permintaan atas helikopter pribadi meningkat pesat, juga selama negara itu dilanda krisis ekonomi. Perkembangan yang sama terlihat di metropolitan Asia di India, Cina dan Indonesia.

Dalam survei majalah Business Jet Traveler tahun 2018, lebih 1400 eksekutif dan individu berpendapatan tinggi menyatakan bahwa kenyamanan, privasi, dan keamanan yang menjadi faktor kunci dalam keputusan mereka untuk menggunakan pesawat pribadi.

Tetapi sebagian besar responden mengatakan mereka biasanya melakukan penerbangan pendek. 77% responden mengatakan penerbangan tipikalnya berjarak kurang dari 2.400 kilometer, hanya 7% yang mengatakan mereka menggunakan jet pribadi untuk penerbangan antarbenua.

Amerika Utara memimpin di dunia dalam hal kepemilikan jet pribadi, dengan armada lebih dari 13.600 pesawat. Peringkat kedua adalah Eropa dan Rusia, dengan kurang dari 2900 pesawat pribadi.

Lebih mewah, lebih banyak emisi

Kenyatannya, bepergian dengan pesawat memang tidak ramah lingkungan. Penerbangan pulang pergi dari Berlin ke New York di kelas ekonomi, bernilai emisi antara 1,5 dan 2 ton CO2, menurut Badan Energi Internasional.

Sebuah studi Bank Dunia dari 2013 memperkirakan, penumpang pesawat komersial yang melakukan perjalanan di kelas satu bertanggung jawab atas sekitar tiga kali lipat emisi penumpang di kelas ekonomi, karena kursi di kelas satu membutuhkan lebih banyak ruang daripada di kelas ekomomi.

Sebuah analisis lembaga think tank Inggris, Common Wealth, baru-baru ini menunjukkan, seorang penumpang yang bepergian dengan pesawat pribadi untuk jarak pendek memancarkan sekitar empat hingga 15 kali lipat emisi penumpang pesawat kelas ekonomi - dan antara 75 sampai 250 kalilipat emisi CO2 dari perjalanan dengan kereta api.

hp/

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV