Bagaimana Seorang Perempuan Rusia Menjadi Bintang Tari Perut di Mesir
Elshinta
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Bagaimana Seorang Perempuan Rusia Menjadi Bintang Tari Perut di Mesir
DW.com - Bagaimana Seorang Perempuan Rusia Menjadi Bintang Tari Perut di Mesir

Johara jarang tampil sederhana. Setiap kali diundang, penari perut berusia 31 tahun itu mengenakan kostum mewah bertabur pernak-pernik cemerlang, dengan pakaian dalam yang terbuat dari sutra dan rok panjang yang terbelah di bagian sisi dan menyingkap kaki panjangnya. Rambutnya yang hitam tergerai bebas, ikut berguncang mengikuti goyangan tubuh, sementara para pengunung, laki dan perempuan, merekam tariannya dengan ponsel digenggam.

Hampir setiap hari Johara tampil di kelab malam, pesta atau pernikahan di hotel-hotel mewah. Dan lebih dari satu juta penggemar mengikuti kehidupannya di Instagram.

Johara yang berarti perhiasan dalam bahasa Arab merupakan nama panggung bagi Ekaterina Andreeva, seorang perempuan Rusia. Sejak beberapa tahun terakhir dia mencari peruntungan di Kairo yang merupakan tempat kelahiran tari perut. Namun bagaimana seorang asing seperti Ekaterina mampu mencatat sukses melakoni tradisi kuno tarian Arab di Kairo?

Ekaterina mulai belajar menari di usia tiga tahun. Pada usia 13 dia kehilangan partner menari lantaran "dibajak" oleh penari lain. Praktik semacam ini lazim di Rusia yang mengalami kelangkaan penari pria. Namun peristiwa itu justru menggariskan nasib baik bagi Ekaterina. Karena tanpa penari pria, dia terpaksa mengambil peran sebagai penari perut di sebuah acara televisi Rusia.

Dan sejak saat itu lah dia diundang untuk mengajar dan mengikuti kompetisi tari di seantero negeri. Dan ketika dia tuntas memuaskan dahaga karir di negeri sendiri, Ekaterina memutuskan bertaruh nasib di negeri yang melahirkan tari perut, Mesir.

Di sana dia mendapati industri yang mulai meredup. Bintang masa lalu seperti Nagwa Fouad sudah tidak lagi bergoyang. Meski penari legendaris seperti Dina Talaat Sayed atau Fifi Abdou masih digandrungi, lanskap tari perut Kairo mulai berubah dan menjadi lebih ramah buat penari asing yang menjajal nasib seperti Ekaterina.

"Generasi lama penari perut Mesir sudah mulai menua," kata Hany Rasem, pengusaha pesta pernikahan yang kerap menyewa jasa penari perut. "Tidak ada generasi baru penari perut asal Mesir yang bagus," imbuhnya. Dan sebab itu pula Ekaterina bisa diminta tampil di lima pesta pernikahan dalam semalam.

Tapi ada alasan lain kenapa penari asing sepertinya bisa mencetak sukses di Kairo. Seperti kebanyakan masyarakat Arab, penduduk Mesir menjelma kian konservatif dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini tidak banyak perempuan yang bersedia melakoni profesi tersebut. Istilah "anak penari perut" bahkan sudah menjadi semacam hinaan.

"Sebagai orang asing, saya lebih dihormati karena mereka melihat saya sebagai seniman," kata Ekaterina sembari menambahkan kewarganegaraan Rusia melindunginya dari stigma negatif masyarakat.

Namun tidak demikian halnya dengan birokrasi Mesir. Ekaterina harus memohon izin kerja untuk setiap pesta pernikahan yang dibanderol sehara USD 1,365 atau hampir Rp. 20 juta. Namun popularitasnya sedemikian tinggi, para hartawan Kairo yang mengundangnya bersedia membayar ongkos tersebut dari kantong sendiri.

Ironisnya Ekaterina pernah mendekam di penjara lantaran didakwa mengenakan pakaian yang terlalu seronok. Kasusnya memicu kontroversi di seluruh negeri dan videonya saat menari dengan pakaian tersebut ditonton empat juta kali. Saat dibebaskan, Ekaterina jauh lebih terkenal ketimbang sebelumnya. Dan dia terus menari dengan pakaian yang sama tanpa pernah mendapat masalah dengan kepolisian. (rzn/vlz)



Ketika industri tari perut di Mesir meredup dirundung konservatisme agama, penari asing berdatangan meramaikan suasana. Seperti Ekaterina Andreeva yang menjadi bintang di tempat kelahiran tarian tradisional Arab itu.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Australia Akan Paksa Facebook dan Google Bayar Konten Berita
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Australia akan menjadi negara pertama yang meminta Facebook dan Google untuk membayar konten berita ...
Jadi Wisatawan Virtual di Katedral Notre Dame
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Katedral Notre Dame di Paris yang terkenal sejagat, awal 2019 silam hangus dilalap si jago merah. Se...
Rekaman Fotografi Lanskap Berlin di Puncak Wabah Corona
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Kota Berlin, yang biasanya riuh oleh aktivitas manusia sempat membisu akibat pandemi corona. Kondisi...
Fakta Menakjubkan Seputar Pepohonan
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Pepohonan menyerap karbon dari atmosfer, menjadi rumah bagi satwa dan meningkatkan kesejahteraan men...
Perlindungan Satwa Liar di Belize Terancam Pandemi Corona
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Konservasi satwa liar terancam punah di negara kecil Belize di Karibia, selama ini mengandalkan kipr...
Asosiasi Dokter Korea Selatan Tolak Rencana Penambahan Kuota Dokter
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Sekitar seperempat klinik medis di Korea Selatan ditutup pada hari Jumat (14/08) sebagai bentuk prot...
Cerita Pengajar Muda di Papua: Mengajar Via Radio Meski Tak Menjangkau Semua Lokasi
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Anggi Crestamia (29) adalah seorang Pengajar Muda (PM) dari Yayasan Indonesia Mengajar yang sudah ha...
Afghanistan Bebaskan 80 dari 400 Tahanan Terakhir Taliban
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Pemerintah Afghanistan mulai membebaskan tahanan terakhir Taliban yang berjumlah 400 orang. Seorang ...
Kendalikan Otak Anda Supaya Tidak Terlalu Cemas dan Khawatir
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Pada situasi serba tidak menentu seperti saat ini, banyak orang terkubur dan terobsesi dalam pikiran...
Mengenal Kembali Henry Pu Yi, Kaisar Terakhir Cina
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:55 WIB
Di sebuah taman di botani di kota Beijing, Cina, pada suatu hari yang cerah di satu musim panas tahu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV