Museum Vagina, Dorong Dialog Tentang Subyek Tabu Terkait Tubuh Perempuan
Elshinta
Senin, 09 Desember 2019 - 08:38 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Museum Vagina, Dorong Dialog Tentang Subyek Tabu Terkait Tubuh Perempuan
VOA Indonesia - Museum Vagina, Dorong Dialog Tentang Subyek Tabu Terkait Tubuh Perempuan
Pertengahan November lalu, sebuah museum tak biasa dibuka di London, Inggris, yaitu Museum Vagina yang bertujuan untuk meningkatkan dialog tentang subyek-subyek tabu terkait tubuh perempuan. Museum yang dibanjiri pengunjung setiap harinya ini, berawal dari survei tiga tahun lalu yang menunjukkan bahwa 65 persen perempuan berusia 16 hingga 25 tahun tidak memiliki pengetahuan anatomi dasar dan bahkan tidak mendapat informasi yang cukup tentang isu-isu kesehatan ginekologis.  Setelah kampanye dan kontribusi dari para aktivis di seluruh dunia, sebuah museum yang dimaksudkan untuk mendidik dan memberi informasi tentang anatomi ginekologis, serta menjadi wahana untuk bicara dan berdialog tentang subyek-subyek tabu terkait tubuh perempuan, dibuka di London. “The Vagina Museum” ini dibangun di sebuah lokasi kecil yang terkenal di London, di Camden’s Stables Market. Dari luar museum ini kelihatan seperti toko atau kafe. Di bagian dalam memang ada semacam toko souvenir dan pameran, lengkap dengan buku-buku, kartu, stiker dan lencana, hingga perhiasan bertema vagina.  Proyek ini diluncurkan pada Maret 2017 setelah pendiri dan direktur museum ini, Florence Schechter, menyelenggarakan suatu pameran dan pertunjukkan di negara itu. Dua setengah tahun kemudian, dan berkat sumbangan dari lebih seribu orang yang totalnya mencapai sekitar 50 ribu poundsterling atau hampir mencapai satu miliar rupiah, Florence berhasil mendapatkan lokasi untuk membangun museum itu. “Dalam acara-acara yang kami langsungkan beberapa tahun sebelumnya tampak bahwa orang-orang sangat ingin terlibat dengan isu-isu ini. Mereka sebenarnya sangat peduli tetapi sulit untuk menemukan tempat yang inklusif dan aman untuk membahasnya lebih jauh,” ujar Florence. Survei Tunjukkan Banyak Orang Tak Paham Isu Kesehatan Ginekologis Survei yang dilakukan The Eve Appeal (satu-satunya badan riset dan pendanaan di Inggris yang berupaya meningkatkan kesadaran perempuan tentang kanker ginekologi) pada tahun 2016, menunjukkan bahwa 65 persen perempuan berusia 16-25 tahun merasa malu menggunakan kata “vagina” atau “vulva.” Mereka juga tidak memiliki pengetahuan anatomi dasar. Kurang dari seperempat responden mengatakan mereka memiliki informasi yang memadai tentang isu-isu kesehatan ginekologis. Jajak pendapat lain mendapati bahwa lebih dari separuh warga Inggris tidak dapat memberi label atau nama yang tepat pada alat kelamin perempuan yang ditunjukkan lewat diagram. “Sangat penting bagi kita untuk dapat berdiskusi tentang anatomi, tanpa merasa ada stigma apapun, atau malu ketika membahasnya,” ujar Sarah Creed, kurator museum itu, kepada wartawan. “Harapan saya hal ini menandai awal perubahan pola pikir dan memulai pembicaraan tentang hal ini.” Pendidikan Jadi Misi Utama Museum Sarah Creed menunjukkan pameran pertama museum itu yang diberi judul “Muff Busters : Vagina Myths and How to Fight Them” atau “Muff Busters : Mitos Vagina dan Cara Melawannya.” Pendidikan tampaknya merupakan misi utama pembukaan museum ini. Mereka yang datang tidak saja dapat melihat dan berdiskusi tentang seks, seksualitas, identitas gender, kesehatan seksual dan reproduksi; tetapi juga isu-isu yang lebih luas dari itu. Nah, supaya lebih banyak pengunjung yang tertarik datang dan mendorong terobosan pemikiran tentang hal ini, diputuskan untuk tidak menyebut museum ini sebagai “museum ginekologis” tetapi “museum vagina.” Penggagas museum ini juga ingin menghapus stigma tentang kata itu sendiri, yang kerap dibuang demi eufemisme, atau hanya digunakan untuk merujuk pada “alat kelamin perempuan” yang samar-sama dan tidak informatif, serta tidak memasukkan makna lain seperti trans, non-binary, atau interseksual. “Menyebut kata vagina, harusnya seperti mengucapkan kata hidung, mata, atau mulut,” ujar Sarah Creed. “Ini hanya bagian lain dari tubuh.” Pameran pertama museum ini telah dibuka pertengahan November lalu dan tidak memungut biaya sama sekali. Museum akan buka setiap hari dan melangsungkan tur serta diskusi dan pertunjukan-pertunjukkan terkait isu perempuan. Yang harus terus dipikirkan adalah bagaimana membuat pengunjung terus datang ke museum itu dengan maksud dan tujuan yang sama. Bukan sekedar karena ingin tahu dan foto-foto.  Sejauh ini sudah ada "museum vagina online" yang berbasis di Austria. Juga "Phallological Museum" di Islandia yang memamerkan lebih dari 215 penis dan bagian penis berbagai mamalia darat dan laut. [em] Sumber: forbes, guardian, time
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV