Dinamika Umat Muslim di India
Elshinta
Senin, 09 Desember 2019 - 08:38 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Dinamika Umat Muslim di India
VOA Indonesia - Dinamika Umat Muslim di India
Putusan Mahkamah Agung India baru-baru ini mengizinkan umat Hindu untuk membangun kuil di sebuah kota di India Utara di mana sebuah masjid abad ke-16 dirobohkan oleh serangan massa pada tahun 1992. Sebagian kalangan berharap putusan atas salah satu perselisihan yang paling lama dan paling kontroversial diantara mayoritas Hindu India dan komunitas Muslim minoritas itu, akan membuka jalan bagi rekonsiliasi. Namun yang lainnya mengkhawatirkan hal itu justru meningkatkan rasa tidak aman pada umat Muslim di bawah pemerintahan nasionalis Hindu. Warga seperti biasa melakukan kegiatan di daerah Muslim terbesar di New Delhi setelah putusan pengadilan yang mengizinkan umat Hindu  membangun sebuah kuil di kota Ayodhya. Ini lah tempat dimana situs yang selama puluhan tahun diperebutkan dengan umat Islam. Warga berharap putusan itu akan meredam ketegangan akibat perselisihan pahit itu. Tetapi di antara sebagian umat Muslim ada yang merasa pasrah dan kecewa. "Kami sudah menerimanya. Tidak ada gunanya menolak .... Mereka yang punya kekuatan akan menjalankan keinginan mereka," kata Rahmat Ali, pemilik bengkel di New Delhi Sementara Mohammad Qayoom, seorang pengusaha mengatakan, "Situasi yang lazim di negara ini sekarang, umat Islam memang sedikit ditekan." Bagi umat Hindu membangun kuil di situs dimana sebuah masjid pernah berdiri di Ayodhya memenuhi impian  lama.  Kota itu diyakini sebagai tempat kelahiran Dewa Rama. Tetapi bagi kelompok Muslim, perintah pengadilan yang memberi kaum Muslim lahan alternatif untuk membangun masjid, tidak menjamin keadilan bagi penodaan masjid mereka. "Sebenarnya merupakaan penistaan lain terhadap masjid. Hak kami terus diambil. Namun perintahnya  seperti ini.  Dan hal itu yang menambah kepedihan atas pengambilan tanah seluas lima hektar itu," kata Kamal Farooqui, Anggota, Dewan Hukum Pribadi Muslim India. Mengeluarkan putusan yang akan memuaskan umat Hindu dan Muslim dalam pertikaian paling sengit di India tidak pernah mudah. "Vonis itu mempertimbangkan fakta dan hukum, dan juga memperhitungkan sejarah dan pengaturan sosial, politik, dan lingkungan saat ini di negara ini dan selesai, saya kira tindakan yang sangat seimbang," kata Neerja Chowdhury, seorang komentator politik. Perdana Menteri Narendra Modi tidak membesar-besarkan kemenangan hukum bagi warga Hindu nasionalis tersebut, dan menyebutnya bukan sebuah kemenangan atau kekalahan bagi siapa pun. "Di India Baru seharusnya tidak ada tempat untuk ketakutan, kepahitan dan sikap negatif," kata Narendra. Sebagian warga menerima pesan itu dan berharap pemerintahnya fokus pada masalah yang lebih penting ketika  ekonomi yang menurun membebani banyak orang. "Tidak ada gunanya umat Hindu dan Muslim terlibat lagi dalam masalah kuil dan masjid ini. Rakyat berjuang untuk kehidupan mereka sehari-hari," kata Mohammad Naseem Azam, pemilik sebuah agen perjalanan. Tetapi bagi para pemimpin Muslim tantangannya adalah memastikan pemerintah nasionalis Hindu yang dipimpin Modi tidak menjalankan agenda pertama Hindu di negara itu, yang juga disebut rashtra. "Kita bukan Hindu rashtra, kita bukan Muslim rashtra, kita adalah rashtra sekuler. Dan sekuler berarti kita memiliki hak fundamental," kata Kamal Farooqui. Itulah yang menjadi seruan umat Islam,  keamanan dan kesetaraan bagi generasi masa depan mereka.  [my/em]    
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV