Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Elshinta
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
BBC Indonesia - Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri bulan April tahun lalu.

Dia yang membuat kata Medemer menjadi populer di Ethiopia.

Istilah bahasa Amharic itu secara harafiah berarti "penambahan", tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi "bersatu", mewakili apa yang Perdana Menteri Abiy Ahmed lakukan sebagai pendekatan khas Ethiopia dalam menangani tantangan yang dihadapi negaranya.

Kata itu semakin sering terdengar setelah bukunya dengan judul yang sama diluncurkan dalam sebuah acara mewah di Ethiopia pada bulan Oktober. Ratusan ribu eksemplar dicetak dalam dua bahasa yang paling populer - Amharic dan Afaan Oromoo.

Lewat 16 bab dan 280 halaman buku itu, ia menjelaskan pandangannya, yang dikatakannya telah ia kembangkan sejak masih kanak-kanak.

Abiy ingin menciptakan rasa persatuan nasional di tengah-tengah perbedaan etnis, dan pada saat bersamaan juga ingin mendukung keberagaman. Kesuksesannya meniti cita-cita tersebut akan menandai masa kepemimpinannya.

Image caption Medemer diterbitkan dalam bahasa Amharic dan Afaan Oromoo.

Apa inti filosofi medemer?

Inti dari filosofinya yaitu keyakinan bahwa pandangan yang berbeda dan bahkan bertentangan, dapat disatukan dan bahwa kompromi dapat dicapai. Pemikirannya itu juga merupakan sebuah penolakan terhadap dogma.

Sejak berkuasa, Abiy benar-benar meninggalkan cara negaranya diperintah selama 30 tahun terakhir.

Ia meninggalkan sistem negara keamanan garis keras, untuk mendorong pendekatan yang lebih liberal dalam berpolitik.

Ia juga mengatakan bahwa usaha para pendahulunya dalam menerapkan pendekatan Marxist dan statis demi terciptanya pembangunan ekonomi telah gagal, karena pendekatan tersebut merupakan sesuatu yang asing bagi Ethiopia.

"Kita memerlukan falsafah Ethiopia yang berdaulat, yang berasal dari sifat dasar warga Ethiopia, yang dapat mengatasi masalah kita... dan dapat merangkul kita semua," tulisnya di Medeemer.

Dia mengatakan budaya Ethiopia memandang penting kebersamaan dan kerja sama.

Para pengecamnya mengatakan meskipun hal itu terdengar baik, tetapi pemikiran itu tidak menawarkan cara praktis untuk bergerak maju atau memberikan panduan tentang bagaimana kompromi dapat dicapai.

Pada bulan April, pengamat politk Hilina Berhanu mengatakan meskipun medeemer mudah dipahami dan "menjadi penawar rasa sakit" terhadap berbagai hal yang terjadi sebelumnya, hal itu tidak memiliki kompleksitas yang diperlukan untuk menghadapi masa depan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengumuman Hadiah Nobel menjadi berita besar di Ethiopia pada bulan Oktober.

Mengapa Abiy memenangkan Nobel Perdamaian?

  • Ketegasan inisiatifnya untuk mengatasi konflik perbatasan dengan negara tetangga Eritrea
  • Reformasi penting yang memberikan rakyatnya harapan akan kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah
  • Berjanji memperkuat demokrasi
  • Terlibat dalam sejumlah proses perdamaian dan rekonsiliasi kawasan
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV