Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Elshinta
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
BBC Indonesia - Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?

Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berupaya menemukan sumber masalah pada seorang pria yang mengeluh sakit luar biasa, di bagian kepala, leher, dan perut.

Setelah menjalankan tes dengan bantuan mesin pemindai, tes urine, tes tekanan darah, dan pemeriksaan fisik, mereka menyimpulkan bahwa pasien tersebut bukan korban keracunan makanan atau menderita penyakit misterius. Si pasien sakit akibat melahap salah satu jenis cabai terpedas di dunia.

Jenis cabai tersebut dikenal dengan sebutan "Carolina Reaper", yang tingkat kepedasannya mencapai 275 kali lipat dari cabai jenis jalapeno. Pasien berusia 34 tahun tersebut memakannya dalam sebuah kompetisi makan.

Untungnya, penyempitan arteri di otaknya dapat ditangani dan ia pun dapat dipulihkan.

Hak atas foto PuckerButt Pepper Company
Image caption Cabai jenis reaper ditanam di Carolina Selatan, AS, dan dikenal sebagai varietas cabai terpedas di dunia.

Kasus ini merupakan contoh yang ekstrem. Tapi jutaan - bahkan mungkin miliaran - orang di seluruh dunia secara rutin menyantap makanan super pedas yang bisa menimbulkan sensasi "kebakaran" di lidah yang membuat kita sibuk mencari segelas air dan tak jarang menderita sakit perut setelahnya. Mengapa?

Hubungan manusia dengan cabai sudah berlangsung selama ribuan tahun dan tren tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kemunduran - jumlah produksi global cabai malah meningkat dari 27 juta ton ke 37 juta ton sepanjang tahun 2007 hingga 2018.

Insting evolusi

Laporan analisis pasar dari perusahaan IndexBox menunjukkan bahwa rata-rata setiap orang makan hampir lima kilogram cabai sepanjang tahun lalu. Jika rata-rata berat satu cabai adalah 20 gram, maka kira-kira setiap orang mengonsumsi 250 cabai sepanjang tahun.

Masyarakat di negara-negara tertentu menyukai cabai yang lebih pedas ketimbang penyuka cabai di negara-negara lainnya.

Di Turki, orang-orang makan cabai sampai rata-rata 86,5 gram sehari - tertinggi di dunia, diikuti Meksiko (rata-rata 50,95 gram sehari).

Jadi mengapa kita menyukai makanan pedas?

Penjelasannya cukup rumit dan melibatkan penelusuran psikologis seputar kecenderungan manusia mengejar tantangan dan insting evolusi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Produksi global cabai mencapai 37 juta ton pada 2018.

Rahasia alam

Bahkan proses evolusi yang memungkinkan cabai menghasilkan capsaicin (komponen yang menimbulkan rasa pedas) masih diperdebatkan.

Para ilmuwan menyadari bahwa tanaman cabai menjadi semakin kuat dan mereka memproduksi rasa pedas untuk mengusir mamalia dan serangga.

Tapi burung-burung tidak punya masalah dengan rasa pedas.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tidak seperti mamalia dan serangga, burung tidak punya masalah dengan rasa pedas.

Peneliti dari Universitas Arizona, AS, menemukan mengapa mekanisme ini efektif bagi tanaman cabai.

Sistem pencernaan mamalia akan menghancurkan biji-biji cabai dan mencegah biji tersebut menjadi benih dan berkembang.

Berbeda dengan burung: biji-biji cabai lewat begitu saja dan akan keluar bersama kotoran mereka, untuk kemudian tumbuh menjadi tanaman baru.

Jadi, jika tanaman cabai mengembangkan mekanisme untuk melindungi diri dari mamalia, kenapa mekanisme tersebut gagal berlaku pada manusia?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kompetisi makan cabai seperti yang dilaksanakan di Hanghzou, China, ini menjadi semakin populer di penjuru dunia.

Fenomena ini cukup mengejutkan mengingat manusia umumnya mengasosiasikan rasa pahit dengan racun - salah satu mekanisme untuk bertahan.

Ada beberapa petunjuk yang menjelaskan mengapa manusia menjadi satu-satunya mamalia yang makan cabai.

Sensasi terbakar

Salah satu teorinya adalah bahwa manusia mengembangkan selera makan pedas karena makanan pedas memiliki fungsi antijamur dan antibakteri.

Manusia mulai menyadari bahwa makanan pedas akan lebih tahan lama - rasa pedasnya menjadi penanda bahwa makanan tersebut belum basi.

Hipotesis ini dikemukakan oleh pakar biologi dari Cornell University, Jennifer Billing dan Paul W. Sherman, pada 1998.

Mereka menganalisis ribuan resep tradisional berbasis daging di 36 negara dan menemukan bahwa bumbu-bumbu lebih banyak digunakan di negara-negara dengan iklim hangat, di mana makanan akan lebih mudah basi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Apakah kesukaan kita terhadap cabai merupakan mekanisme untuk mencegah keracunan makanan?

"Di negara beriklim hangat, hampir semua resep berbasis daging mengandung setidaknya salah satu jenis bumbu, termasuk bumbu dengan rasa yang sangat pedas, sementara di negara-negara yang lebih dingin, umumnya makanan disajikan tanpa bumbu, atau sedikit sekali," demikian simpulan kedua ilmuwan tersebut.

Negara-negara seperti Thailand, Filipina, India, dan Malaysia, merupakan negara-negara dengan penggunaan bumbu terbanyak, sementara Swedia, Finlandia, dan Norwegia menjadi negara dengan penggunaan bumbu paling sedikit.

"Saya percaya bahwa resep-resep makanan merupakan bukti sejarah yang menggambarkan perlombaan evolusi antara manusia dan parasit kita. Mikroba bersaing dengan kita untuk mendapatkan makanan," ujar Sherman.

"Apapun yang kita lakukan dengan makanan - pengeringan, memasak, pengasapan, penggaraman, atau penambahan bumbu - adalah upaya untuk menjaga kita dari keracunan."

Antidot untuk rasa hambar?

Pakar antropologi makanan Kaori OConnor memberi penjelasan lainnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Turki, salah satu produsen cabai terkemuka di dunia, juga memiliki tingkat konsumsi cabai perorangan tertinggi.

Ia menjelaskan bahwa, seperti halnya tebu dan kentang, cabai merupakan bahan makanan yang tidak dikenal di benua Eropa sebelumnya. Tapi, setelah bangsa Eropa mencapai benua Amerika dan mulai memperluas jalur dagang, cabai mulai mendunia.

"Cabai mulai dikenal di kalangan petualang dari benua Eropa," ujar OConnor.

Cabai kemudian mulai diadopsi di berbagai resep makanan di seluruh dunia, termasuk di India, China, dan Thailand.

"Kita bisa membayangkan, dulunya makanan di Eropa terasa sangat hambar. Tapi kehadiran cabai dapat memperkuat rasa, sama halnya dengan gula."

Tantangan dan sakit perut

Namun, ada pula teori lain yang menjelaskan kecintaan kita terhadap cabai: