Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Elshinta
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
BBC Indonesia - Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir

Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga terhadap perubahan terencana atas hukum ekstradisi di kawasan tersebut.

Rancangan Amandemen Undang-Undang Hukum Ekstradisi (ELAB) Hong Kong dapat memungkinkan tersangka pelaku kejahatan dikirim ke luar negeri untuk menjalani proses persidangan, bahkan ke tempat yang tidak menjalin kesepakatan ekstradisi dengan Hong Kong.

Yang mengkhawatirkan adalah bahwa dengan undang-undang itu orang dapat dikirim ke China daratan untuk disidang. Para pengunjuk rasa mengatakan bahwa hal itu dapat membuat mereka menghadapi persidangan yang tidak adil, dan akan mempermudah China memburu musuh politik mereka di Hong Kong.

Enam bulan berjalan, RUU itu telah dicabut namun amarah warga semakin berkembang. Kali ini mereka fokus terhadap pemerintah dan dugaan tindak kekerasan polisi.

Berikut adalah foto-foto terbaik yang menggambarkan amarah warga Hong Kong selama enam bulan terakhir.

Pemandangan dari atas menunjukkan ribuan pengunjuk rasa berpawai melewati jalanan dalam aksi demonstrasi baru menentang RUU Ekstradisi yang kontroversial di Hong Kong pada 16 Juni 2019 Hak atas foto STR
Image caption Setelah aksi unjuk rasa besar-besaran yang pertama, pemerintah Hong Kong mengatakan bahwa mereka akan menunda RUU Ekstradisi - namun itu saja tidak cukup bagi para penentangnya. Tanggal 16 Juni, sekitar dua juta warga Hong Kong turun ke jalan untuk menuntut dicabutnya RUU tersebut secara keseluruhan.
Seorang pengunjuk rasa merusak lambang Hong Kong setelah para pemrotes menerobos masuk ke dalam markas pemerintahan di Hong Kong pada 1 Juli 2019, bertepatan dengan peringatan ke-22 tahun penyerahan kota tersebut dari pihak Inggris ke China Hak atas foto Getty Images
Image caption Pada 1 Juli, dalam salah satu momen paling dramatis dari unjuk rasa yang terjadi, ratusan orang menerobos masuk ke dalam gedung markas pemerintahan Hong Kong. Mereka menduduki gedung itu semalaman, merusak lambang kota dan menyemprotkan cat ke kalimat slogan yang terpampang di dinding.
Pengunjuk rasa melemparkan balik gas air mata ke arah para polisi Hak atas foto AFP
Image caption Dalam unjuk rasa berbulan-bulan itu, sebuah kelompok yang disebut garis keras muncul. Berpakaian serba hitam dan dengan hati-hati menyembunyikan identitas, mereka akan berhadapan dengan polisi setelah aksi damai - menciptakan siklus kekerasan.
Seorang polisi antihuru-hara mendorong wartawan menggunakan tongkatnya Hak atas foto Huw Evans picture agency
Image caption Seiring polisi yang menggunakan langkah-langkah lebih keras dalam membubarkan massa, hubungan antara keduanya semakin buruk. Beberapa warga Hong Kong kini menuduh polisi melakukan tindak kekerasan dan menuntut digelarnya penyelidikan independen terhadap mereka.
Para pria berkaos putih dengan tongkat terlihat di Yuen Long setelah menyerang para pengunjuk rasa anti-RUU Ekstradisi di stasiun kereta di Hong Kong, China, pada 22 Juli 2019. Hak atas foto Reuters
Image caption Salah satu momen kunci dalam unjuk rasa terjadi di Yuen Long, di mana para pria berkaos putih yang diyakini merupakan anggota geng triad - kelompok penjahat terencana - menyerang para penumpang kereta. Polisi yang terlambat datang ke lokasi kejadian memicu tuduhan bahwa mereka sengaja menjauh.
Polisi menggunakan meriam air Hak atas foto AFP
Image caption Pada awal September, polisi mulai menggunakan taktik baru - menyemprotkan cairan berwarna biru yang tak bisa dihilangkan sehingga mereka yang kabur dapat dikenali. Ribuan orang ditangkap dalam kurun enam bulan terakhir.

Pada 30 September, para pengunjuk rasa membentuk rantai manusia yang membentang ke seantero Hong Kong, sebagai sebuah referensi terhadap aksi protes demokrasi Baltic Way yang juga membentuk rantai manusia melintasi Latvia, Estonia dan Lithuania.

Orang-orang berkumpul dalam aksi pawai anti-pemerintah di dalam pusat perbelanjaan di distrik Sha Tin di Hong Kong pada 22 September 2019 Hak atas foto Getty Images
Image caption Aksi unjuk rasa telah mencapai hampir semua sudut Hong Kong dan menyebabkan gangguan yang signifikan. Ini adalah salah satu aksi damai yang dilakukan di dalam sebuah pusat perbelanjaan di Sha Tin, jauh dari pusat utama kawasan komersial.
Seorang perempuan berjalan melewati sebuah dinding di Hong Kong yang ditutupi berbagai pesan dalam bentuk catatan-tempel. Hak atas foto Getty Images
Image caption Dinding Lenno telah menjadi sebuah fitur di kota yang dilanda protes - terowongan dan jembatan telah ditempeli berbagai pesan dukungan, amarah dan solidaritas. Namun mereka terkadang juga menjadi tempat bentrokan.
Seorang perempuan melambaikan bendera Inggris saat terjadi unjuk rasa di dekat markas pemerintahan di Hong Kong pada 21 Juni 2019 Hak atas foto Getty Images
Image caption Perempuan ini, yang jauh lebih tua dari sebagian besar pengunjuk rasa, merupakan sosok yang biasanya secara rutin hadir dalam berbagai aksi. Sambil melambaikan bendera Inggris, ia kemudian dikenal dengan sebutan Nenek Wong, dan mengatakan kepada wartawan bahwa ia khawatir akan masa depan tapi juga merindukan masa-masa kolonial. Ia sudah lama tidak muncul dalam aksi protes.
Sebuah ambulans tampak dikelilingi ribuan pengunjuk rasa yang berpakaian hitam saat digelar unjuk rasa menentang RUU Ekstradisi yang kontroversial di Hong Kong pada 16 Juni 2019 Hak atas foto Getty Images
Image caption Salah satu tuntutan pengunjuk rasa adalah bahwa pemerintah harus berhenti mengelompokkan aksi unjuk rasa mana pun sebagai aksi ricuh. Mereka merujuk pada foto-foto seperti ini - massa membuka jalan bagi ambulans yang lewat - sebagai bukti bahwa mereka terorganisir dan tertib.
Pemandangan dari atas menunjukkan pitu masuk (kanan atas) kampus dan sisa puing-puing yang ditinggalkan para pengunjuk rasa yang membarikade diri mereka di dalam kampus Universitas Politeknik Hong Kong di distrik Hung Hom, Hong Kong, pada 22 November 2019 Hak atas foto Getty Images
Image caption Betapa mudanya beberapa pengunjuk rasa menjadi sangat kontras ketika kampus Universitas Politeknik Hong Kong menjadi latar insiden pengepungan yang dramatis. Para pengunjuk rasa membarikade diri mereka di dalam kampus selama berhari-hari dan menembakkan bom bensin dan anak panah ke arah polisi. Pada akhirnya, kepala sekolah sejumlah SMA datang untuk meyakinkan siswa mereka untuk pulang.
Polisi Hak atas foto Getty Images
Image caption Berbagai kejadian yang berlangsung di Hong Kong membuat banyak orang bertanya-tanya kenapa para pengunjuk rasa rela mempertaruhkan hidup dan kebebasan mereka. Banyak di antaranya yang percaya bahwa masa depan Hong Kong dalam bahaya.
Pengunjuk rasa menggunakan batu bata untuk membarikade diri di dekat kampus Universitas Politeknik Hong Kong di distrik Tsim Sha Tsui pada 18 November 2019 Hak atas foto Getty Images
Image caption Dalam enam bulan terakhir, para pengunjuk rasa menunjukkan sampai sejauh mana mereka siap beraksi untuk mempertahankan keunikan identitas Hong Kong dan kebebasan yang mereka miliki.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)