Robot Pemulung Selamatkan Sungai dari Pencemaran
Elshinta
Rabu, 19 Februari 2020 - 02:04 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Robot Pemulung Selamatkan Sungai dari Pencemaran
DW.com - Robot Pemulung Selamatkan Sungai dari Pencemaran

Memulung plastik dari sungai-sungai di Malaysia sebelum mencemari samudra adalah tugas "Interceptor" sejak beberapa tahun silam. Wahana pembersih sungai bertenaga matahari itu didesain dan dikembangkan oleh LSM Belanda, Ocean CleanUp, dan kini sudah beroperasi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Kapal sepanjang 24 meter itu menyedot sampah plastik lewat "mulut" yang terdapat di bagian haluan. Selain mampu menampung hingga 50 ton sampah per hari, Interceptor juga beroperasi secara otonom dan minim polusi suara.

Baca juga: Pergub Anies: Kantong Plastik Dilarang Beredar di Jakarta Mulai Juli 2020

Sejak Oktober silam salah satu wahana buatan Ocean CleanUp ini ditempatkan di sungai Klang yang tercemar berat. "Sungai sudah seperti tempat pembuangan sampah terapung," kata Syaiful Azmen Nordin, Direktur Landasan Lumayan, mitra bisnis Ocean CleanUp di Malaysia. "Kapal tidak bisa lewat karena banyak plastik. Sekarang Anda bisa melihat kondisi sungai yang mulai terbebas dari sampah mengapung."

LSM Belanda itu sebenarnya sudah aktif menggaet pemerintah dan pelaku usaha lokal untuk membersihkan Sungai Klang sejak 2016. Sungai Klang yang melintasi ibu kota Kuala Lumpur setiap tahun mengalirkan 15.000 ton sampah ke laut. Dengan begitu Klang termasuk daftar 50 sungai paling tercemar di Bumi.

"Kami tahu sasaran membersihkan 1.000 sungai sangat ambisius, tapi juga sangat penting," kata juru bicara Ocean CleanUp, Joost Dubois. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pihak perusahaan membuat empat wahana Interceptor dengan harga mencapai 770.000 Euro per unit.

Selain Kuala Lumpur, Interceptor juga sudah diturunkan di Jakarta, Bangkok, dan kelak di Los Angeles.

Di Sungai Klang yang membentang sepanjang 120 km itu keberadaan Interceptor melengkapi tujuh pintu air yan dibangun antara lain untuk mencegah sampah. Limbah plastik yang dikumpulkan selanjutnya dikirimkan ke tempat pembuangan akhir. Nantinya Ocean CleanUp berharap bisa mendaur ulang plastik yang didulang.

Baca juga: Asia Tegas Menolak Jadi Tempat Pembuangan Sampah Negara Maju

Menurut Syaiful, pihaknya sejauh ini sudah membersihkan 50.000 ton sampah dari sungai Klang sejak mengawali proyek empat tahun lalu. "Kami mengumpulkan ban, boneka, bahkan mayat hewan. Tapi umumnya plastik," kata dia. Namun keberadaan Interceptor akan menjadi percuma jika masyarakat tidak membantu.

"Sebagian orang tidak bisa melihat dampak membuang sampah sembarangan. Mereka membuang plastik di jalan dan akan berakhir di sungai," imbuhnya. "Jika kita mengubah perilaku kita sendiri, kita bisa membantu membersihkan sungai-sungai kita."

rzn/rap (afp)



Sebuah wahana otonom diterjunkan ke Sungai Klang di Malaysia untuk membersihkan sampah plastik. Sejak empat tahun beroperasi, robot bernama Interceptor itu sudah menampung 50.000 ton sampah.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Melihat Terpukulnya Kartel Narkoba Meksiko karena Lockdown Corona
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB
Jika Anda berkunjung ke Pasar Tepito di Mexico City, tidak ada barang yang tidak dapat Anda temukan,...
Wabah Corona Geser Tradisi Pesakh dan Ramadan
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB
Pandemi Corona menempatkan umat beragama di dunia dalam situasi limbung. Tiga perayaan penting Islam...
PM Inggris Dibawa ke RS karena Corona, Ratu Elizabeth Minta Rakyat Bersatu
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB
Minggu (05/04), Ratu Inggris Elizabeth II dalam pidato resmi kerajaan angkat bicara mengenai pandemi...
Bisnis Pendakwah Kristen di Brasil Ikut Terancam Covid-19
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB
"Virus corona adalah hukuman Tuhan", kata Valdemiro Santiago, kepala Universal Church of G...
Universitas John Hopkins: Angka Infeksi Covid-19 Jerman Tembus 100.000 Kasus
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB
John Hopkins University sampai Senin pagi (6/4) mencatat jumlah infeksi virus corona SARS-CoV-2 di ...
Ribuan Mahasiswa Kedokteran Jerman Bantu Perangi Wabah Corona
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB
Charlotte Dubral, mahasiswa kedokteran berusia 24 tahun, tengah menjalani program Erasmus di Polandi...
Belum Ada Kasus COVID-19 di NTT, Dokter: Terkendala Alat Diagnostic Test
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB
Hingga Senin (06/04), sebanyak 31 Provisi di Indonesia sudah melaporkan kasus COVID-19 dengan total ...
Bagaimana Pariwisata Global Bereaksi Hadapi Dampak Virus Corona?
Minggu, 05 April 2020 - 01:45 WIB
Bagaimana Pariwisata Global Bereaksi Hadapi Dampak Virus Corona?
Pentingnya Pelayanan Konseling Psikologis Selama Lockdown di Italia
Minggu, 05 April 2020 - 01:45 WIB
Sonia Tranchina, 38, telah hidup terkurung bersama dua anaknya dan anjing mereka di apartemen seluas...
Angela Merkel: Ada Harapan, Tapi Tidak Cabut Restriksi Keluar Rumah
Minggu, 05 April 2020 - 01:44 WIB
Saat Jerman dan dunia menghadapai pandemi COVID-19, masa Paskah yang berlangsung minggu depan akan &...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV