Virus Corona Mengubah Cara Manusia Menghormati Pemakaman
Elshinta
Kamis, 26 Maret 2020 - 02:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Virus Corona Mengubah Cara Manusia Menghormati Pemakaman
DW.com - Virus Corona Mengubah Cara Manusia Menghormati Pemakaman

Di kota Bergamo, Italia utara, truk-truk militer yang membawa korban meninggal akibat virus corona lalu lalang setiap hari. Ada begitu banyak korban meninggal akibat virus corona dan Italia tidak punya cara lain untuk mengangkut ratusan peti mati berisi jenazah korban pandemi corona ke krematorium selain menggunakan truk-truk militer.

Rekaman truk-truk militer pembawa jenazah tersebut telah beredar di jagat maya dan mendapat atensi dunia. Pesan suram yang tersirat adalah ketika orang meninggal di tengah pandemi virus corona, mereka tidak didampingi oleh orang-orang terkasih di sisinya, virus tidak peduli tentang penghormatan terakhir, atau duka kerabat dan teman.

Jumlah orang yang terinfeksi virus corona di kota Bergamo lebih banyak daripada provinsi lain di Italia. Menurut pihak berwenang setempat, pekan lalu saja lebih dari 300 orang tewas di sana. Sebagian besar meninggal di kamar rumah sakit tanpa didampingi kerabat atau teman, untuk setidaknya memegang tangan mereka atau bercerita untuk mengurangi ketakutan mereka. Karena bahaya infeksi, pengunjung tidak diizinkan masuk rumah sakit, dan banyak anggota keluarga yang melakukan karantina sendiri.

Virus membuat aturan baru

Mirisnya, virus corona mempunyai aturan sendiri. Salah satunya adalah bahwa kematian yang disebabkan oleh virus corona tidak dapat ditangani seperti biasanya. Aturan lainnya adalah bahwa yang berduka karena kehilangan kerabat atau teman harus tetap sendirian. Pemakaman yang terjadi di Italia utara belum pernah terjadi sebelumnya, yakni berlangsung dengan sangat cepat dan tidak adanya pelayat. Daftar pemakaman masih panjang, dan menurut hukum Italia orang masih tidak boleh bertemu.

Di tengah aturan untuk menjaga jarak, orang-orang tidak dapat mengunjungi satu sama lain, teman dan kerabat tidak dapat berkumpul secara langsung untuk berbagi kenangan tentang almarhum. Tidak ada pelukan yang menghibur dan tidak ada upacara pemakaman yang dihadiri keluarga dan teman. Tampaknya, yang berduka pun harus mencari dukungan dari dalam diri mereka sendiri, atau dengan melakukan panggilan telepon dan video ke keluarga.

Orang-orang pun seringkali mengetahui kabar duka tentang teman atau orang yang mereka kenal lewat pemberitaan di surat kabar. Pada 13 Maret, surat kabar lokal L'Eco di Bergamo menerbitkan sepuluh halaman penuh berita kematian. Tampaknya virus tidak hanya menentukan bagaimana kehidupan kita sehari-hari, tetapi juga bagaimana kita meninggalkan kehidupan, atau berkabung.

Kematian dikesampingkan

Sejarawan Perancis Philippe Ariès dalam studinya History of Death, menunjukkan bahwa hubungan antara manusia Barat dan kematian berubah secara dramatis pada abad ke-19. Pada saat itu, selama ribuan tahun kematian adalah sesuatu yang sangat dekat dengan manusia, menjadi bagian yang diterima dalam kehidupan. Tetapi manusia modern, menurut Ariès, mengesampingkan hal tentang kematian karena rasa takut. Pada masyarakat modern yang berorientasi pada pencapaian, kematian tidak termasuk dalam hal yang direncanakan. Kematian itu dianggap sebagai gangguan.

Saat ini, ketika orang mati, mereka jarang dikelilingi oleh keluarga dan teman-teman dan malah cenderung terabaikan. Di beberapa bagian Eropa selatan, situasinya masih agak berbeda, terutama di tempat-tempat di mana anggota keluarga dari berbagai generasi masih hidup bersama di bawah satu atap. Mereka masih menjadikan lingkaran kehidupan sebagai fokus utama. Namun, apa yang dijelaskan Ariés pada tahun 1978 sepenuhnya benar bahwa kematian telah menjadi asing bagi kita dan menghilang dari kehidupan sehari-hari.

Manusia modern mendapat gambaran kematian sebagai produk budaya, dihilangkan dari kenyataan, yaitu, ketika orang mati di panggung, film dan televisi, sering kali dengan cara yang spektakuler dan melibatkan banyak darah. Kematian mengalami penurunan makna dan berubah menjadi bentuk seni, yang tanpa henti mereproduksi penindasannya sendiri.

Disadarkan kembali oleh kematian

Di tengah pandemi virus corona, situasinya sekarang berbeda. Di Lombardy, orang yang meninggal harus dibawa ke krematorium dengan truk-truk militer. Jelas bahwa konvoi kendaraan militer ini telah membuat kematian benar-benar dekat dan terlihat, seolah-olah kematian telah menyadarkan manusia bahwa hal ini nyata dan hadir di tengah-tengah kehidupan, serta mustahil untuk diabaikan.

Di sebagian besar dunia, kehidupan publik saat ini terhenti, seperti halnya kegiatan konsumsi dan produksi, karena masyarakat berjuang untuk menahan penyebaran wabah. Terlepas dari biaya yang besar, umat manusia telah berfokus pada martabat dan perlindungan manusia. Mungkin perjuangan ini bisa menjadi penghiburan kecil bagi semua orang yang saudara, teman atau tetangganya harus meninggalkan dunia ini.

(pkp/gtp)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Siapkah Dunia Mencontoh Sistem Pendapatan Dasar Universal dari Finlandia?
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Penulis asal Finlandia, Tuomas Muraja, menggambarkan dirinya kurang lebih seperti "kelinci perc...
Kasus Pedofilia Picu Keretakan di Gereja Katolik Polandia 
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Jakub dan Bartek Pankowiak hidup di kota kecil bernama Pleszew di jantung Polandia. Ayah mereka seor...
Para Pelacak dari Unit Penelusuran dan Pelacakan Kontak Covid-19
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Di negara bagian Bayern, Jerman, Franziska Weiss adalah satu dari sekitar 2500 pelacak kontak Covid-...
Seantero AS Protes Kematian George Floyd
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Trump Kerahkan Ribuan Tentara-Polisi, Otopsi Floyd Tunjukkan Sesak Napas dan Pembunuhan
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Senin (01/06) bahwa ia mengerahkan ribuan...
Langgar Larangan Beroperasi, Sisha Bar di Jerman Munculkan Klaster Baru
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Para petugas penelusiran kontak dari dinas kesehatan hingga kini berhasil melakukan pelacakan dan me...
“Mencari Vaksin Corona, Nasionalisme Adalah Hal Terakhir Yang Kita Butuhkan”
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Ketika perusahaan-perusahaan obat di seluruh dunia berlomba menemukan vaksin corona, bisakah mereka ...
Apakah Social Distancing Selama Pandemi Corona Sebabkan Lebih Banyak Kasus Bunuh Diri?
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Pada awal Maret, ketika wabah corona sampai ke Eropa dan social distancing serta lockdown diterapkan...
Serukan Wudhu dengan Wiski dan Vodka, Aktor Maroko Dituduh Menista Agama
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Aktor Maroko, Rafik Boubker, yang berusia 47 tahun ditahan setelah videonya beredar di media sosial....
Tiga Gadis Kecil Indonesia di Jerman Menginspirasi, Tiga Perempuan Antisampah Wujudkan Donasi Buah Tampah Indonesia
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Di suatu senja saat menikmati buah-buahan, di meja makan rumahnya di Bonn, Jerman, seperti biasa ket...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV