Berlapang Dada: Terpisah Sementara dengan Keluarga di Indonesia
Elshinta
Kamis, 26 Maret 2020 - 02:41 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Berlapang Dada: Terpisah Sementara dengan Keluarga di Indonesia
ABC.net.au - Berlapang Dada: Terpisah Sementara dengan Keluarga di Indonesia

Akibat pandemik virus corona, sejumlah warga Indonesia di Australia mengaku sudah berbesar hati menerima kenyataan jika mereka untuk sementara tidak dapat bertemu atau berkumpul dengan keluarganya.

Sebelumnya ada sejumlah mahasiswa dan peserta program bekerja sambil berlibur di Australia (WHV) yang mengaku menyesal karena mereka sedang berada di Indonesia, sehingga belum tahu kapan bisa kembali ke Australia.

Hal ini terkait dengan keputusan Pemerintah Australia telah memutuskan untuk menutup perbatasan mereka dari kunjungan mereka yang bukan warga negara atau penduduk tetap, atau PR.

Sekarang ada pula warga Indonesia di Australia yang harus berpisah dari pasangan dan anak-anaknya, karena situasi yang semakin tidak memungkinkan mereka berkumpul.

Seperti yang diakui Asty Rastiya, mahasiswi di Deakin University di Melbourne, yang juga seorang istri dan ibu dari dua orang anak.

Awalnya, suami dan anak-anak Asty akan menyusul terbang ke Melbourne, tanggal 22 Maret kemarin.

Mereka berencana untuk menetap di Australia, di saat Asty menyelesaikan studinya.

"Suami saya sudah resign [berhenti] dari pekerjaannya, siap berangkat ke sini. Kami coba cari penerbangan untuk Kamis malam [tanggal 19 Maret] namun tidak dapat," kata Asty kepada Natasya Salim dari ABC News.

Tadinya mereka ingin mempercepat kedatangan ke Melbourne, sebelum larangan bagi warga asing ke Australia.

Asty mengaku ia pun tak mungkin pulang ke Indonesia, karena masih ada banyak harus ia bereskan di Australia.

"Kalau pulang ke Indonesia tidak sederhana juga kan. Masalahnya saya sudah terikat kontrak sewa rumah selama satu tahun, kalau dihentikan sekarang, akan kena denda," ujarnya.

Untuk menyiapkan kedatangan keluarganya, Asty juga sudah mencari-cari tempat tinggal yang nyaman bagi anak-anaknya.

"Suami saya tahu saya perjuangan keras saya mencari rumah selama dua bulan," tambahnya.

Ia mengaku tidak akan pulang ke Indonesia, karena menurutnya "bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri".

"[Seandainya pulang], saya tidak tahu akan bertemu siapa, menyentuh apa, dan berpotensi membawa virus ke rumah."

Tidak menyangka Australia langsung tutup

Bayu Erlangga, mahasiswa S2 di University of Queensland, tidak menyangka jika Pemerintah Australia memberlakukan larangan masuk bagi warga asing dalam waktu yang begitu cepat.

Sebelumnya ia juga memiliki rencana untuk membawa keluarganya menetap di Australia.

"Kemarin sebenarnya pertimbangan saya bukan untuk pulang, tapi mempercepat kedatangan keluarga ke sini," kata pria yang baru hampir satu bulan berada di Australia ini kepada ABC News.

"Namun ketika diumumkan oleh Perdana Menteri Scott Morrison, sayangnya visa mereka belum keluar, kalau sudah, saya pasti sudah mempercepat keberangkatan mereka ke sini."

Bayu mengaku berlapang dada menerima kenyataan, kini ia berharap agar kondisi keluarganya tetap sehat di tengah meningkatnya jumlah kasus COVID-19 di Indonesia setiap harinya.

"Saya harap mereka tetap sehat dan tetap menjaga kesehatan sampai semua ini selesai dan mereka bisa menyusul."

Ingin pulang karena tanggung jawab

Berbeda dengan Asty dan Bayu, Derwin Tambunan, mahasiswa di University of Queensland yang juga adalah seorang ayah dari dua orang anak, berencana untuk kembali ke Indonesia demi bertemu keluarganya di Jakarta.

"Kekhawatiran saya sebenarnya karena anak saya masih bayi dua orang dan mereka saat ini tinggal dengan istri dan dua orang pembantu," kata pria asal Jakarta ini.

"Ada kemungkinan minggu-minggu ke depan saya akan melanjutkan kuliah saya [melalui jalur online] di Indonesia."

Sebagai seorang kepala keluarga, Derwin merasa bertanggung jawab untuk memastikan keluarganya terhindar dari penularan virus corona dengan tetap berada di rumah.

"Saya harus melindungi keluarga agar mereka tidak terlalu bosan di rumah sehingga memaksa keluar dari rumah. Karena virus [corona] ini bukan masalah kita keluar sebentar atau lama tapi kapan terpaparnya," katanya.

Ia mengaku masih ada "perasaan was-was", karena istrinya yang kadang masih bekerja di luar rumah, meski ia mengaku masih percaya dengan asisten rumah tangganya.

Tapi Derwin masih mempertimbangkan untuk pulang ke Indonesia, karena ia khawatir dengan resiko tertular dalam perjalanan.

"Apalagi harus melewati bandara dan naik pesawat. Dan setelah sampai di Bandara Soekarno Hatta harus karantina sendiri lagi selama 14 hari," katanya, meski tetap berencana akan pulang.

Larangan ke luar negeri

Selasa malam (24/03), pemerintah Australia telah melarang warga negaranya ke luar negeri.

Larangan ini diterapkan dengan alasan agar mencegah mereka datang kembali ke Australia dengan membawa resiko menularkan virus corona atau membawa virus ke luar negeri.

Perkecualian diberikan kepada sejumlah kategori, termasuk warga Australia yang memang tinggal dan bekerja di luar negeri, perjalanan yang berkaitan dengan kepentingan nasional, atau mereka yang bekerja di bidang kemanusiaan.

Sementara bagi mereka yang bukan warga negara atau permanent resident Australia perlu waspada jika ingin keluar Australia, karena mereka tidak diperbolehkan kembali masuk untuk saat ini.

Sejumlah maskapai penerbangan, termasuk maskapai milik Australia, Qantas dan Jet Star juga akan menghentikan penerbangan internasional mulai akhir Maret sampai setidaknya akhir Mei mendatang.

Simak berita lainnya di ABC Indonesia dan ikuti kami di Facebook dan Twitter.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gaji dan THR Sejumlah Perawat Indonesia Dipotong Saat Berjuang Hadapi Corona
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Di saat merayakan Idul Fitri sejumlah pekerja lepas, termasuk tenaga kesehatan, ada yang belum menda...
Bagaimana Kota Wuhan Bisa Melakukan Jutaan Tes Virus Corona Dalam Sehari?
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Petugas kesehatan di kota Wuhan, kota virus corona berasal, mengatakan dalam waktu satu hari saja, y...
Dapat Digunakan Tahun Ini: Australia Uji Coba Vaksin COVID-19 ke Manusia
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Perusahaan bioteknologi Novavax mulai melakukan uji coba vaksin COVID-19 ke manusia di kota Melbourn...
Sebagian Siswa Australia Kembali ke Sekolah, Satu Positif Corona di Sydney
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Setelah dua bulan belajar jarak jauh, Senin pekan ini (25/05) menandai hari pertama sebagian besar m...
Jepang Mengaku Berhasil Tangani Virus Corona dengan Cara Unik
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Jepang mencabut status keadaan darurat pandemi virus corona. Perdana Menteri Shinzo Abe menyatakan t...
Saat Pandemi di Indonesia, Ada Kemungkinan 300 Ribu Sampai 450 Ribu Kehamilan Tambahan
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Usia pernikahan Eustachia Retno dan Emmanuel Ricky baru genap sebulan. Pasangan ini baru melangsungk...
China Ancam Hong Kong Dengan Aturan Lebih Ketat
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Pemerintah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang baru di Hong Kong setelah ker...
Raja Pane Wartawan Indonesia Yang 40 Tahun Bersahabat Erat Dengan Iwan Fals
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Bagaimana anda membina persahabatan apalagi bila sahabat anda itu salah satu pemusik legendaris di I...
Tenaga Medis Muslim Asal Indonesia Dapat Dukungan dari Rekan Kerja Saat Ramadan
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Di tengah pandemi virus corona di Australia, sejumlah tenaga medis dan kemanusiaan adalah Muslim dan...
Pembatasan Belum Dilonggarkan, Restoran di Sydney dan Victoria Sudah Laris Dipesan
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Menteri Utama Negara Bagian New South Wales, Gladys Berejiklian mengatakan, pub, kafe, dan restoran ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV