Situasi Makin Mengkhawatirkan: Dokter di Australia Desak Pengadaan Alat Medis
Elshinta
Kamis, 26 Maret 2020 - 02:41 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Situasi Makin Mengkhawatirkan: Dokter di Australia Desak Pengadaan Alat Medis
ABC.net.au - Situasi Makin Mengkhawatirkan: Dokter di Australia Desak Pengadaan Alat Medis

Tenaga medis di Australia, termasuk kalangan dokter telah mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan untuk menyediakan alat perlindungan diri (APD) untuk memerangi wabah virus corona.

  • Persediaan masker di rumah sakit di Queensland diperkirakan tinggal seminggu lagi
  • Pemerintah Australia sudah memesan 30 juta masker tambahan
  • Obat-obatan banyak menghilang di apotek, meski pasokannya tidak berkurang

Di negara bagian Queensland, sebuah perusahaan pemasok peralatan medis mengatakan ratusan rumah sakit mulai kehabisan masker bedah.

Pemerintah Federal Australia sudah menjanjikan akan menyediakan 30 juta masker tambahan dalam waktu dua minggu.

Namun direktur sebuah perusahaan pemasok yang bisa menyediakan peralatan untuk 500 rumah sakit mengatakan banyak rumah sakit hanya memiliki persediaan untuk seminggu saja.

Pemilik sebuah klinik di ibukota Queensland Brisbane yang menangani 150 pasien setiap hari mengatakan ia hanya memiliki "100 masker bedah di gudang" dan situasinya sekarang "sangat mengkhawatirkan".

Asosiasi Medis Australia di Queensland (AMAQ) mengatakan banyak staf di rumah sakit khawatir pasokan alat perlindungan diri akan habis.

Mereka meminta departemen kesehatan di negara bagian tersebut, Queensland Health mengatasi masalah yang sudah "menimbulkan kekhawatiran dan rasa marah di kalangan dokter yang berada di garis depan krisis COVID-19".

Selasa kemarin (24/03), Menteri Kesehatan Australia, Greg Hunt mengatakan tambahan masker yang dipesan akan datang, sebagai tambahan dari 160 ribu alat tes yang sudah tiba.

Namun ia meminta agar para dokter untuk melakukan pemeriksaan "jarak jauh" dengan pasien mulai tanggal 30 Maret, sehingga akan mengurangi kemungkinan para dokter terkena virus.

Menurut Dr Maria Boulton, seorang dokter yang memiliki klinik besar di Windsor, Brisbane yang biasanya menangani 15 ribu pasien, situasinya dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan bagi para dokter.

"Saya kira situasinya di Queensland sudah sampai di titik dimana kita harus beranggapan semua orang sudah terkena virus corona," kata Dr Boulton.

Ketika menemui pasien, setiap dokter harusnya mengenakan masker N95, selain juga sarung tangan, kacamata, dan juga pakaian pelindung lengkap.

Namun menurut Dr Boulton di kliniknya yang harus menangani 150 pasien setiap hari, mereka sekarang hanya memiliki 100 masker bedah bersama dengan beberapa masker N95 yang mereka beli dari toko bangunan Bunnings awal Februari lalu.

"Kami sedang mengusahakan konsultasi dengan pasien lewat telepon, namun layanan medis yang biasanya dilakukan tetap berjalan, misalnya membuka bekas luka dan melakukan vaksinasi terhadap bayi," kata Dr Boulton.

"Yang mengkhawatirkan kami adalah kita harus memperlakukan semua orang seperti mereka terkena virus namun belum positif dites, jadi kami harus menggunakan alat perlindungan diri (APD) lengkap."

"Saya juga mengkhawatirkan resepsionis, perawat, kolega di rumah sakit. Mereka harus terus bekerja namun tanpa peralatan yang memadai ini sangat mengkhawatirkan." kata Dr Boulton.

Obat-obatan penting pun banyak dibeli berlebihan oleh konsumen

Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di banyak apotek di Australia, dimana warga membeli berbagai obat-obatan, tidak sekedar membeli tisu toilet atau cairan pembersih tangan, atau hand sanitiser saja.

Caroline Diamantis, pemilik Apotek Balmain Community di Sydney mengatakan dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

"Saya sudah menjadi apoteker selama 32 tahun dan saya tidak pernah melihat keadaan panik seperti sekarang ini, juga pembelian besar-besaran dan juga informasi palsu yang beredar," katanya kepada ABC.

"Kami tidak punya lagi thermometer, tidak ada lagi Panadol, dan juga barang seperti obat asma seperti Ventolin."

"Warga beranggapan bahwa mereka harus membawa Ventolin, bila mereka terkena virus, sehingga mereka bisa bernapas lebih baik."

"Padahal ini tidak benar sama sekali dan menyebabkan stok habis dimana-mana."

Oleh karena itu, pemerintah Australia sudah mengeluarkan larangan pembelian obat-obatan berlebihan.

Pembatasan yang sudah dilakukan adalah obat asma Ventolin dan Panadol untuk anak-anak.

Pasokan obat sebenarnya tidak kurang

Medicines Australia adalah lembaga yang menaungi semua pabrik pembuatan dan pemasok obat-obatan.

Dirketur eksekutifnya, Elizabeth de Somer mengatakan tidak ada kekurangan pasokan, hanya ada penundaan pengiriman.

"Ada tekanan begitu tinggi karena konsumen membeli dalam terlalu banyak." katanya.

"Perusahaan obat sudah meningkatkan produksi mereka. Mereka juga sudah meningkatkan order dari luar negeri, dan permintaan itu sudah dipenuhi," kata de Somer.

Medicines Australia mengatakan pasok obat-obatan masih cukup tersedia di Australia, namun tidak mengatakan sampai kapan hal tersebut akan terjadi.

Namun menurut John Blackburn, dari LSM The Institute for Integrated Economic Research Australia mengatakan soal obat-obatan, Australia rentan di saat terjadi krisis dunia seperti sekarang ini.

"Kita harus melihat seberapa banyak ketergantungan kita dengan obat impor dan bertanya apakah kita rentan atau tidak."

"Karena kalau kita mengimpor 90 persen obat-obatan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau pasokan itu terganggu," kata Blackburn.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Beredar Petisi Terkait Koleksi Indonesia di Perpustakaan Nasional Australia
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Sebuah petisi online sekarang sedang beredar yang ditujukan kepada Perpustakaan Nasional Australia (...
Australia Tetap Prioritaskan Membantu Indonesia Saat Pandemi Virus Corona
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Strategi bantuan luar negeri Australia di masa pandemi COV...
New Normal di Australia yang Belum Tentu Bisa Ditiru Negara Lain
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Kondisi new normal sedang banyak dibicarakan di hampir sem...
WNI di Amerika Serikat: Sikap Rasialis Makin Terasa Sejak Trump Berkuasa
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Aksi unjuk rasa dan kerusuhan yang terjadi di berbagai kot...
Bisakah Warga di Australia Menolak Kembali ke Kantor dam Bekerja Dari Rumah?
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Kemungkinan untuk kembali bekerja di kantor atau tempat ke...
Pemilik Bisnis Kebugaran Asal Indonesia di Australia Melihat Peluang Baru
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Sejak warga Australia dianjurkan diam di rumah sebagai upa...
Australia dan Indonesia Bersiap Diri Untuk Pariwisata Dalam Negeri
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Pemerintah negara bagian Australia, New South Wales (NSW) ...
Melanggar Aturan Terkait Virus Corona, Siswa Asrama di Melbourne Dikeluarkan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaSebanyak 24 siswa Trinity College, yang dikenal sebagai asr...
Ingat Indonesia, Reynold Poernomo Hidangkan Cendol di MasterChef Australia
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaHampir semua peserta menitikkan air mata dalam acara Master...
Baru Bisa Beli Baju Hangat: Sepertiga Ibu Tunggal di Australia Miskin
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:53 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaMusim dingin di Australia kali ini dirasakan berbeda oleh a...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV