Ada Lebih Dari 30 Persen Kasus Corona Yang Tak Tunjukkan Gejala Sakit
Elshinta
Jumat, 27 Maret 2020 - 12:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ada Lebih Dari 30 Persen Kasus Corona Yang Tak Tunjukkan Gejala Sakit
DW.com - Ada Lebih Dari 30 Persen Kasus Corona Yang Tak Tunjukkan Gejala Sakit

Laporan pemerintah Cina tentang kasus COVID-19tanpa gejala sakit atau asimptomatik yang dilansir The South China Morning Post itu juga dikonfirmasi kelompok pakar kesehatan Jepang.

Hiroshi Nishiura, pakar epidemiologi di Hokkaido University, yang memimpin tim pakar medis Jepang, menyebutkan bahwa dari seluruh warga Jepang pasien COVID-19 yang dievakuasi dari episentrum pandemi Wuhan, sebanyak 30,8% dari mereka tidak menunjukkan gejala sakit.

Dalam sebuah surat kepada International Journal of Incetious Diseases, pakar epidemiologi itu menyebutkan, ada celah perbedaan antara laporan dari Cina, dengan estimasi berbasis diagnosa kasus di luar Cina. Hal itu menunjukkan adanya jumlah substansial kasus yang didiagnosis terlalu ceroboh.

Kasus itu juga menunjukkan bahwa asumsi mengenai gejala sakit setelah terinfeksi virus corona yang akan muncul antara 5 hari sampai dua minggu harus dicermati lagi. Sebab dalam lebih dari 30% kasus COVID-19, gejalanya tidak muncul atau muncul tiga minggu kemudian.

Laporan mengenai tingginya kasus COVID-19 asimptomatik dari Cina, amat kontras dengan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO. Lembaga itu menyebut, kasus transimisi virus lewat pasien asimptomatik sangat jarang. WHO memperkirakan kasusnya hanya sekitar satu sampai tiga persen.

Regulasi tes virus corona berbeda-beda

Terkait kasus infeksi virus corona tanpa gejala sakit dan bahaya penularan virus ini, pejabat kesehatan nasional di berbagai negara punya tafsiran masing-masing. Juga strategi untuk menghambat penyebaran virus corona SARS-CoV-2 di tiap negara berbeda-beda.

Korea Selatan menerapkan strategi dan regulasi test virus corona secara nasional, tidak peduli apakah warga menunjukkan gejala atau tidak, mengisolasi pasien COVID-19 secara komprehensif dan menerapkan secara ketat ketentuan “social distancing“. Tindakan ini terbukti efektif memperlambat penyebaran virus corona.

Sebagian besar negara anggota Uni Eropa termasuk Jerman serta Amerika Serikat menerapkan strategi yang hampir sama, yakni hanya melakukan test virus corona kepada orang yang menunjukkan gejala sakit mirip flu. Efeknya, jumlah infeksi baru virus SARS-CoV-2 naik secara drastis.

Di Jerman, jika melakukan kontak langsung dengan orang yang terinfeksi corona, tapi tidak menunjukan gejala sakit, biasanya mereka diperintahkan untuk mengisolasi diri. Tapi sejauh ini tidak ada mekanisme pengawasannya.

Korea Selatan punya pengalaman tangani MERS

Berbagai tindakan efektif yang dilakukan Korsel banyak mengacu pada penanganan krisis wabah virus corona MERS tahun 2015 silam. Sejak krisis itu, pemerintah punya legaitas untuk mengakses data dan informasi personal, ponsel serta kartu kredit milik warganya.

Dengan begitu, siapa yang terinfeksi COVID-19 bisa diketahui datanya secara akurat. Pergerakan warga yang terinfeksi virus corona juga bisa terus dimonitor. Data kemudian secara anonim diunggah lewat sebuah app, sehingga semua orang bisa melihat dengan siapa ia melakukan kontak.

Pemerintah Korsel juga mempermudah akses warga untuk melakukan tes virus corona dengan mendirikan “check point“ dan tenda-tenda pemeriksaan. Sejauh ini 300.000 warga Korsel sudah ditest.

Setiap harinya, 20.000 warga Korsel bisa dites di sarana ini, atau di 40 sarana test “drive through“ yang disiapkan. Dari 50 juta populasi Korsel, tercatat 6000 terinfeksi dan 120 meninggal. Saat ini laju infeksi baru hanya 100 per hari. (as/yf)



Pemerintah Cina melaporkan, lebih dari 30 persen orang yang positif terinfeksi COVID-19, terlambat atau tidak menunjukkan gejala sakit. Kasus ini membuktikan bahwa masa inkubasi virus bisa lebih panjang dari dua minggu.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bantuan Langit di Masa Sulit - Inilah Santo dan Santa Pelindung di Agama Katholik
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Penderitaan mereka jadi inspirasi spiritual bagi ratusan juta umat Katholik di dunia. Sebelas peremp...
Lebih dari 100 Orang Terinfeksi Covid-19 Setelah Kebaktian di Gereja Frankfurt
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Sekitar 40 kasus infeksi Covid-19 ditemukan di kota Frankfurt dan sekitarnya di Jerman, yang dikaitk...
Dua Orang Tertular Virus Corona dari Cerpelai
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Cerpelai dengan virus corona dilaporkan telah menginfeksi dua orang di Belanda. Penularan dari cerpe...
Kasus Corona Meningkat, 15.000 Pengungsi Rohingya Dikarantina di Bangladesh
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Sekitar 15.000 pengungsi Rohingya kini dikarantina di kamp-kamp pengungsian besar di Bangladesh, dem...
Jerman Akan Cabut Peringatan Perjalanan ke 31 Negara Eropa
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Pemerintah Jerman bermaksud mencabut peringatan perjalanan untuk perjalanan wisata ke 31 negara Erop...
Daerah Tujuan Wisata di Eropa Mulai Dibuka Setelah Lama Alami Lockdown
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Menjelang liburan musim panas di Eropa, negara-negara yang secara tradisional menjadi tujuan utama w...
WHO Hentikan Ujicoba Hydroxychloroquine Untuk Obati Covid-19
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, uji klinis obat anti malaria Hydroxych...
Anjing Bisa Endus Bau Khas Infeksi Covid-19
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Universitas Helsinki?di Finlandia melakukanriset dengan memanfaatkan anjing yang sudah dilatih sebag...
Setahun Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis di Taiwan, Belum Juga Tercapai ‘Kebahagiaan Selamanya‘
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
Ketika Taiwan menjadi tempat pertama di Asia yang mengizinkan pernikahan sesama jenis tahun lalu, s...
Bagaimana Mengenali Teori Konspirasi Pandemi Covid-19?
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:18 WIB
Warga dunia kini sedang berada di tengah pusaran krisis dampak pandemi Covid-19. Bukan hanya masalah...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV