Air Menjadi Senjata Ampuh di Suriah Utara?
Elshinta
Jumat, 27 Maret 2020 - 12:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Air Menjadi Senjata Ampuh di Suriah Utara?
DW.com - Air Menjadi Senjata Ampuh di Suriah Utara?

Suriah mengonfirmasi kasus COVID-19 pertama pada awal minggu ini. Di tengah krisis wabah corona, air semakin langka di wilayah-wilayah yang dikelola oleh Kurdi di Suriah utara. Pemasok air terpenting bagi sekitar setengah juta orang di wilayah itu, kini tidak bisa beroperasi. Namun alasan terhentinya pasokan air ini tampaknya lebih bersifat politis daripada teknis.

Stasiun pompa Alouk, yang terletak sekitar sepuluh kilometer di timur laut Serekaniye, berada di bawah kendali Turki dan milisinya. Sementara wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi di Suriah utara, telah lama menjadi duri bagi Turki. Ini pula yang menjadi alasan mengapa Turki menginvasi sebagian wilayah Kurdi Suriah di sepanjang perbatasan pada awal Oktober 2019. Dengan operasi bernama sandi "Operation Peace Spring" stasiun pompa Alouk kini jatuh ke tangan Turki.

Kekurangan air di saat yang sangat fatal

Air dari stasiun Alouk sudah tidak mengalir sejak Sabtu, 21 Maret lalu, demikian ujar Misty Buswell, direktur regional International Rescue Committee, IRC, kepada DW. Dari markas besar di ibu kota Yordania, Amman, Buswell menjelaskan bahwa telah terjadi gangguan berulang kali pada pasokan air sejak Oktober lalu. "Penghentian (pasokan) air ini tidak mungkin terjadi pada waktu yang lebih buruk lagi," tambahnya.

Buswell menyatakan keprihatinan khususnya bagi mereka yang berada di kamp-kamp pengungsi di wilayah Kurdi. Sekitar 67.000 orang terkurung di kamp di Al-Hol karena kebijakan karantina yang diberlakukan akibat wabah corona. Dengan terputusnya pemasokan air, bahkan untuk cuci tangan saja orang akan kesulitan. "Jika COVID-19 mencapai kamp-kamp, penyakit akan merembet seperti api," Buswell memperingatkan.

Sementara itu, pemerintah daerah Kurdi telah berusaha memasok air dengan mendatangkan tangki-tangki air, termasuk juga dari truk pemadam kebakaran. Demikian dikatakan Michael Wilk, dokter yang secara teratur menjadi relawan untuk layanan medis di wilayah Kurdi. Wilks mengatakan dia baru saja berbicara dengan kepala Bulan Sabit Merah Kurdi di wilayah Rojava. "Dia (kepala Bulan Sabit Merah) telah bekerja keras hingga kelelahan, dan berada di ujung ketahanannya," kata dokter asal Jerman itu kepada DW.

Bahkan jika air kembali mengalir, fasilitas medis tetap kesulitan untuk bisa terus berjalan, ujar Wilk. Ia geram, pengendalian wabah corona akan kian sulit akibat berhentinya pasokan air. Para dokter tidak dapat memberikan yang lebih daripada sekadar layanan dasar.

Wilk tahu dari pengalamannya sendiri bahwa peralatan unit perawatan intensif tidak tersedia di sini. Kasus COVID-19 pun hanya dapat diidentifikasi dengan mengamati gejala-gejalanya, karena laboratorium terdekat untuk melakukan tes berada di ibu kota Suriah, Damaskus.

Lagi-lagi etnis Kurdi diabaikan

Wilk ingat bahwa baru setahun lalu milisi Kurdi mengusir ISIS dari pertahanan terakhirnya di Baghouz. Ini adalah pertempuran yang dibayar mahal oleh orang-orang Kurdi, lebih dari 11.000 orang tewas dalam pertempuran tersebut. Tetapi alih-alih berterima kasih atas pengorbanan mereka, "orang Kurdi kembali diabaikan."

Dan ISIS masih belum juga terberantas habis. Propaganda lokal menunjukkan bahwa kelompok itu mengeksploitasi krisis COVID-19 untuk kepentingan mereka. "Apa pun yang membuat situasi di wilayah Kurdi lebih genting akan dimainkan oleh kaum Islamis," ujar Wilk.

Perebutan kekuasaan dan krisis kemanusiaan

Melalui aplikasi obrolan di internet, relawan Jerman Felix Anton mengatakan kepada DW bahwa telah terjadi kerusuhan di sebuah penjara di Hasakah. Di penjara itu ditahan 5.000 orang ISIS oleh pasukan Kurdi Peshmerga pada awal bulan ini.

Anton, yang telah tinggal di wilayah yang dikelola Kurdi di Suriah utara selama dua tahun, mengatakan dia bisa mengingat ada sekitar 10.000 istri ISIS yang berkewarganegaraan asing ditahan di kamp di Al-Hol. Di kamp itu banyak juga anak yang dilahirkan oleh para perempuan yang berasal dari Jerman. Dia memperingatkan bahwa kerusuhan bisa terjadi di sana jika kondisinya memburuk.

Kamal Sido, spesialis ahli Timur Tengah dari GfbV, organisasi Jerman yang bergerak membantu orang-orang yang rentan dan terancam, mengatakan bahwa gangguan pemasokan air berdampak kepada hampir satu juta orang.

Sido tidak merahasiakan siapa yang ia anggap bertanggung jawab atas ketegangan ini: Turki. Dia mengatakan pendekatan yang dilakukan Turki menunjukkan bahwa negara itu "akan berusaha keras untuk memperkuat kekuasaannya di Suriah utara dan menghalangi administrasi otonom oleh penduduk sipil setempat. Kebijakan Turki menginjak-injak hukum kemanusiaan internasional," tegasnya. (ae/hp)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Serukan Wudhu dengan Wiski dan Vodka, Aktor Maroko Dituduh Menista Agama
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Aktor Maroko, Rafik Boubker, yang berusia 47 tahun ditahan setelah videonya beredar di media sosial....
Tiga Gadis Kecil Indonesia di Jerman Menginspirasi, Tiga Perempuan Antisampah Wujudkan Donasi Buah Tampah Indonesia
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Di suatu senja saat menikmati buah-buahan, di meja makan rumahnya di Bonn, Jerman, seperti biasa ket...
Melihat Lebih Lanjut Cara Twitter Berikan Label di Cuitan
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Perusahaan media sosial Twitter baru-baru ini memberi pelabelan di cuitan yang dipublikasikan di pla...
Masa Depan Suram, Warga Hong Kong Pertimbangkan Emigrasi
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Setelah disetujui oleh Kongres Rakyat Nasional Cina (NPC), Undang-undang Keamanan Nasional untuk Hon...
India Usir Diplomat Pakistan Atas Tuduhan Spionase
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Pemerintah India mengusir dua pejabat kedutaan besar Pakistan di New Delhi. Keduanya dituduh terliba...
Wartawan DW Ditembaki Polisi AS Saat Meliput Kerusuhan di Minneapolis
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Kerusuhan yang dipicu protes atas tewasnya warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi terus ber...
Cina Ancam Balas AS, Jerman Tawarkan Mediasi
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Pemerintah Cina mengancam bakal membalas tindak Presiden Donald Trump membatasi akses mahasiswa asal...
Lawan Korupsi di Vatikan, Paus Terbitkan Peraturan Tender dan Pengadaan Barang
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Paus Fransiskus baru saja meloloskan peraturan baru untuk pengadaan barang dan belanja di Vatikan. P...
Robot Buatan Denmark Bantu Test Swab Virus Corona
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Para peneliti di University of Southern Denmark mengumumkan, sukses membuat robot pertama yang bisa ...
Siapa Elon Musk, Pengusaha Sukses di Balik SpaceX?
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB
Elon lahir tahun 1971 di Afrika Selatan dari ibunya yang seorang model dan ahli diet, Maye Musk, dan...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV