Profesor Ariel Heryanto Masuki Usia Pensiun, Tapi Masih Akan Terus Berkarya
Elshinta
Jumat, 27 Maret 2020 - 12:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Profesor Ariel Heryanto Masuki Usia Pensiun, Tapi Masih Akan Terus Berkarya
ABC.net.au - Profesor Ariel Heryanto Masuki Usia Pensiun, Tapi Masih Akan Terus Berkarya

Salah satu akademisi asal Indonesia yang bekerja di luar negeri adalah Profesor Ariel Heryanto. Dalam beberapa tahun terakhir, ia memimpin lembaga bernama Herb Feith Indonesian Engagement Center, bagian dari Monash University di Melbourne.

Ariel memulai karir akademiknya di Universitas Satya Wacana di Salatiga, Jawa Tengah, hingga akhirnya bekerja di beberapa negara, termasuk Singapura dan Australia.

Awal Maret lalu, Ariel mengakhiri tugasnya di Herb Feith Indonesian Engagement Center, sekaligus memasuki usia pensiun.

Herb Feith Indonesian Engagement Center adalah lembaga yang dibuat untuk meningkatkan keterlibatan Australia dengan Indonesia dalam berbagai bidang.

Pada awalnya, kami ingin bertatap muka dengan beliau, namun di tengah merebaknya wabah virus corona maka perjumpaan tersebut dibatalkan.

Berikut wawancara wartawan ABC Sastra Wijaya dengan Profesor Ariel Heryanto yang dilakukan lewat email.

Sekarang setelah pensiun dari Herb Feith, apa yang akan anda lakukan dalam hubungan dengan Monash?

Saya pensiun dari kepegawaian lembaga, artinya tidak lagi menerima gaji sepeser pun.

Tapi saya tidak pensiun dalam pengertian "retired" dalam bahasa Inggris, yakni tidak bekerja apa-apa.

Saya sangat berbahagia mendapat kehormatan dari Monash University sebagai Emeritus Professor.

Dengan status ini saya masih menjadi bagian dari kegiatan universitas, walau banyak yang bersifat sukarela dan informal. Saya sudah menerima undangan untuk menjadi dosen tamu.

Juga ikut dalam panel membimbing tesis mahasiswa, walau bukan sebagai pembimbing utama. Saya siap membantu, jika dibutuhkan universitas dalam berbagai kegiatan mereka yang lain.

Selama memimpin Herb Feith, pencapaian apa yang paling berkesan buat anda?

Ada dua hal yang paling membahagiakan saya. Pertama, membangun kembali komunitas akademik di Monash University dan sekitarnya yang berfokus ke Indonesia.

Dulu komunitas di sini pernah berjaya. Lalu sempat lesu atau tercerai-berai beberapa tahun.

Kedua, menjadi bagian dari upaya universitas dan fakultas [Arts] untuk membina dan memperluas persahabatan dan kerjasama dengan berbagai mitra baru di Indonesia.

Sejauh pengamatan saya, tingkat dan lingkup kerjasama Universitas Monash dengan Indonesia dalam tiga tahun terakhir belum pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya.

Mungkin dalam hal ini, Monash berada di garis terdepan dalam pergaulan dengan Indonesia, jika dibandingkan universitas lain di Australia.

Yang dulu pernah ada adalah kedekatan terbatas satu unit di Monash, yakni Centre of Southeast Asian Studies dengan Indonesia. Sekarang universitas secara menyeluruh.

Bagaimana anda melihat apa yang anda sudah lakukan selama ini?

Di dunia akademik, saya belum ada apa-apanya. Seperti sebutir debu.

Tetapi bila anda memahami latar belakang keluarga kami dari kelas sosial yang sangat sederhana, dan latar belakang orangtua saya yang melahirkan dan mengasuh saya, maka Anda bisa memahami betapa bersyukur dan mujur karir saya selama ini.


Dulu akademisi banyak menulis untuk menyampaikan gagasan-gagasan mereka, apakah ini masih jadi cara yang efektif?

Ya, jelas. Secara kelembagaan, setiap akademikus dituntut berkarya-tulis. Proses kerja menulis itu dipantau, dilaporkan dan dinilai secara berkala. Biasanya setiap tahun.

Yang bekerja baik diberi penghargaan, atau kenaikan pangkat. Yang kurang dibina, ditegur, atau dihukum, jika bukan dikeluarkan.

Tentu saja, kerja akademikus tidak hanya meneliti dan menuliskan laporan penelitian.

Dalam jangka panjang, tidak ada masyarakat yang bisa bertahan dan maju tanpa sumbangan para sarjana dan akademikusnya.

Tidak ada karya akademik yang bagus tanpa pengorbanan dan modal yang besari dari negara dan masyarakat yang bersangkutan.

Maka layaklah jika investasi besar-besaran itu diharapkan menghasilkan sumbangan sebesar atau lebih besar daripada investasi yang sudah dikeluarkan.

Ataukah keterlibatan di media sosial merupakan cara  yang harus diikuti untuk bisa tetap relevan?

Kalau dibilang "harus" ya tidaklah. Atau mungkin "belum".

Masalahnya media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar penduduk dunia.

Artinya dunia tanpa media sosial menyusut semakin sempit. Siapa yang ingin terkucil di dunia yang menyempit itu?

Tetapi tidak semua gagasan akademis layak atau mampu tertampung di media sosial, karena sosok dan watak mendasar media sosial itu serba singkat, sederhana, cepat.

Bagaimana pendekatan yang ideal menurut anda bagi akademisi untuk berbagi pemikirannya di media sosial?

Saya tidak tahu bagi rekan-rekan akademikus yang lain, tapi bagi saya pribadi, media sosial itu melatih saya dua hal.

Pertama, ia melatih saya menyampaikan gagasan secara singkat dan hemat kata.

Kedua, ia melatih saya bertutur secara gamblang.

Kedua hal itu mungkin kedengaran sepele. Tetapi sesungguhnya sangat penting, bahkan di dalam lingkungan akademik sendiri.

Namun sejak awal, saya juga menyadari keterbatasan media sosial.

Tidak semua gagasan dan tidak semua topik pas untuk dibahas apalagi diperdebatkan di media sosial.

Misalnya, masalah-masalah yang sangat rumit, kompleks atau penuh nuansa.

Media sosial bukan tempat yang tepat untuk merenungkan atau menganalisa sebuah masalah berhari-hari. Derap kerja akademik biasanya tahunan.

Anda banyak memberikan komentar atau gugatan di media sosial, apakah maksudnya untuk memancing percakapan dan diskusi atau menyebarkan pikiran anda?

Saya cepat bosan dengan apa yang saya kerjakan sehari-hari.

Kalau ada apps atau software minta di-update, saya tunggu, prosesnya lama.

Saya buka media sosial sambil menunggu. Kalau saya mengalihkan atau meng-copy file yang besar dari satu folder ke folder lain, prosesnya lama, saya buka media sosial.

Kalau saya nonton tv, lalu keluar iklan, saya buka media sosial.

Tetapi, kalau sudah buka media sosial, bakat iseng dan usil saya kadang-kadang keluar secara tidak direncanakan.

Bagaimana pendapat anda secara umum mengenai dunia akademisi di Indonesia sekarang? Dalam berbagai bidang produktivitas, gagasan yang bisa mengubah dunia, keterlibatan dalam politik praktis sehari-hari?

Indonesia kaya akan orang yang cerdas.

Tapi sayang, lembaga dan manajemen pendidikan di Indonesia tidak bertumbuh sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan para mahasiswa dan sarjana yang serba cerdas di sana.

Tentu saja ada beberapa perkecualian. Tapi kita bicara secara umum pada tingkat nasional. Bukan hanya di kota-kota terbesar di sana.

Terjadi ketimpangan serius antara orang-orang yang cerdas di satu pihak, dan kerja kelembagaan yang kurang cerdas.

Akibatnya, sebagian besar mereka yang cerdas giat dan menyalurkan gagasan cemerlang serta waktu kerja mereka di luar lembaga pendidikan.

Ada yang lari ke industri media. Ada yang ke LSM. Ada yang ke partai politik. Atau ke perusahaan swasta multi-nasional. Atau merantau ke luar Indonesia.

Karena tenaga yang bagus-bagus itu terpental ke luar lembaga pendidikan, maka usaha membenahi di dalam lembaga jadi sulit, jadi seperti lingkaran setan.

Simak berita-berita lainnya dari ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gaji dan THR Sejumlah Perawat Indonesia Dipotong Saat Berjuang Hadapi Corona
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Di saat merayakan Idul Fitri sejumlah pekerja lepas, termasuk tenaga kesehatan, ada yang belum menda...
Bagaimana Kota Wuhan Bisa Melakukan Jutaan Tes Virus Corona Dalam Sehari?
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Petugas kesehatan di kota Wuhan, kota virus corona berasal, mengatakan dalam waktu satu hari saja, y...
Dapat Digunakan Tahun Ini: Australia Uji Coba Vaksin COVID-19 ke Manusia
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Perusahaan bioteknologi Novavax mulai melakukan uji coba vaksin COVID-19 ke manusia di kota Melbourn...
Sebagian Siswa Australia Kembali ke Sekolah, Satu Positif Corona di Sydney
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Setelah dua bulan belajar jarak jauh, Senin pekan ini (25/05) menandai hari pertama sebagian besar m...
Jepang Mengaku Berhasil Tangani Virus Corona dengan Cara Unik
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Jepang mencabut status keadaan darurat pandemi virus corona. Perdana Menteri Shinzo Abe menyatakan t...
Saat Pandemi di Indonesia, Ada Kemungkinan 300 Ribu Sampai 450 Ribu Kehamilan Tambahan
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Usia pernikahan Eustachia Retno dan Emmanuel Ricky baru genap sebulan. Pasangan ini baru melangsungk...
China Ancam Hong Kong Dengan Aturan Lebih Ketat
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Pemerintah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang baru di Hong Kong setelah ker...
Raja Pane Wartawan Indonesia Yang 40 Tahun Bersahabat Erat Dengan Iwan Fals
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Bagaimana anda membina persahabatan apalagi bila sahabat anda itu salah satu pemusik legendaris di I...
Tenaga Medis Muslim Asal Indonesia Dapat Dukungan dari Rekan Kerja Saat Ramadan
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Di tengah pandemi virus corona di Australia, sejumlah tenaga medis dan kemanusiaan adalah Muslim dan...
Pembatasan Belum Dilonggarkan, Restoran di Sydney dan Victoria Sudah Laris Dipesan
Selasa, 26 Mei 2020 - 05:15 WIB
Menteri Utama Negara Bagian New South Wales, Gladys Berejiklian mengatakan, pub, kafe, dan restoran ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV