Bantuan China Pada Dunia Untuk Virus Corona Hanya Pencitraan?
Elshinta
Jumat, 27 Maret 2020 - 12:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Bantuan China Pada Dunia Untuk Virus Corona Hanya Pencitraan?
ABC.net.au - Bantuan China Pada Dunia Untuk Virus Corona Hanya Pencitraan?

Seiring dengan pelambatan kasus baru COVID-19 di negaranya, China menawarkan bantuan kepada negara-negara lain dalam pertarungan melawan virus corona, termasuk ke Indonesia.

  • China kirimkan jutaan masker dan perlengkapan medis lainnya ke banyak negara untuk tangani virus corona
  • Pejabat China mendapat kecaman karena dianggap telah menutupi saat virus corona mulai merebak di Wuhan
  • Kini China berupaya untuk membangun reputasi sebagai pemimpin global dalam atasi pandemik

China mengirim pasokan medis dan peralatan pelindung seperti masker ke banyak negara dan telah memberikan US$ 20 juta untuk Organisasi Kesehatan Dunia.

"Anda memberikan buah persik kepada saya, dan sebagai balasannya saya memberi Anda batu giok putih sebagai bentuk persahabatan," kata juru bicara kementerian luar negeri China Geng Shuang kepada wartawan pekan lalu.

"Ini adalah wujud kebajikan tradisional China yang mengajarkan kami untuk membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar.

"Kami akan memperkuat kerja sama dengan negara lain dalam menanggapi tantangan COVID-19 sambil bersama-sama membangun komunitas yang akan menjadi bagian dari masa depan umat manusia."

Tetapi di saat menawarkan bantuan kepada beberapa negara yang paling terpukul di Eropa, Beijing juga terlibat perang kata-kata dengan Washington mengenai siapa yang harus bertanggung jawab atas wabah awal.

Inilah yang perlu Anda ketahui.

Siapa yang dibantu China?

Penawaran bantuan dan penjualan pasokan medis yang krusial dari China semakin banyak dan dikirim dengan cepat, tetapi kami telah berupaya menyusun daftar apa saja yang diberikan Beijing.

Menurut Kementerian Luar Negeri China, negeri tirai bambu ini telah memberikan bantuan kepada 82 negara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Uni Afrika.

Di antara negara-negara yang dibantunya adalah Pakistan, Laos, Thailand, Iran, Korea Selatan, Jepang, Kamboja, Filipina, Mesir, Afrika Selatan, Irak, Etiopia, Kazakhstan, Belarus, Cuba, dan Chili.

China juga telah membantu negara-negara di Eropa, yang menjadi wilayah dengan jumlah kasus COVID-19 terbesar saat ini, terutama Italia, Prancis, Spanyol, Yunani, Serbia, dan negara Uni Eropa lainnya.

Lebih dari 20 ahli medis dan sekitar 26 ton persediaan bantuan telah dikirim ke Italia, di antaranya persediaan ventilator, monitor, peralatan pelindung dan obat-obatan penting lain.

China juga memberi Spanyol 500.000 masker dan telah mengirim 1 juta masker ke Perancis. Negara Uni Eropa lainnya akan menerima 2 juta masker bedah, 200.000 masker N95 dan 50.000 testing kit.

Pakistan telah menerima sekitar 15.000 alat tes corona, sementara Jepang telah menerima 100.000 masker. Korea Selatan telah menerima kiriman 5 juta masker.

Karena keterbatasan pasokan alat medis, China mencoba membantu dengan menjadi tuan rumah konferensi video jarak jauh dengan pejabat kesehatan di seluruh dunia, menawarkan wawasan dan pengalamannya sebagai negara pertama yang menangani wabah besar.

Indonesia terima 8 ton bantuan dari China

Indonesia juga ikut kebagian bantuan.

Hari Senin (23/03), Pemerintah Indonesia Kementerian Pertahanan menerima 8 ton lebih bantuan alat kesehatan dari China ke Indonesia.

Total bantuan yang diberikan China yakni sebanyak 12 ton, berisi alat pelindung diri (APD) yang terdiri atas 7,2 ton pakaian pelindung, 128 kg masker bedah jenis N95, 110 kg sarung tangan sekali pakai, 700 kg masker sekali pakai, dan 775 kg kacamata pelindung.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengatakan telah berkomunikasi dengan Menteri Pertahanan China mengenai kebutuhan bantuan Indonesia dalam menghadapi Covid-19.

Dalam komunikasinya tersebut, Prabowo juga mengirimkan daftar kebutuhan Indonesia kepada Menhan China.

"Secara umum apa yang dibutuhkan oleh rumah sakit adalah alat kesehatan, ventilator, alat rapid test, APD," kata Prabowo kepada wartawan di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta hari Senin lalu (23/03).

Mengapa China menawarkan bantuan?

Bantuan China datang saat terjadi ketegangan pada sistem internasional, menyusul banyaknya negara yang lebih memprioritaskan kebutuhan warganya sendiri daripada kebutuhan tetangganya.

Ketegangan ini terlihat jelas di antara negara-negara Uni Eropa, wilayah dengan jumlah infeksi tertinggi saat artikel ini dibuat.

Awal bulan Maret, Jerman dan Prancis dikecam negara-negara Uni Eropa saat mereka mengambil posisi untuk menjaga stok persediaan medis yang diproduksi di dalam negeri.

Langkah memprioritaskan dalam negeri telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pandemi corona berpotensi merusak solidaritas di dalam Uni Eropa.

Amerika Serikat, saat pandemi Ebola memiliki peran besar dalam skala global, belum berada di garis depan saat ini.

Mengingat riwayatnya dalam konflik internasional, banyak pihak kini memuji China karena bantuan yang ditawarkannya.

Namun akademisi dari Australian National University (ANU) dengan konsentrasi keahlian tentang China, Graeme Smith, punya analisis yang berbeda.

"[Strategi bantuan] ini digunakan rezim untuk membalikkan narasi dari China sebagai sumber dan penyebab wabah, menjadi narasi China yang bisa mengendalikan dan secara efektif menyelamatkan dunia dari pandemi ini," katanya.

"Ini adalah tentang mengendalikan narasi domestik di China, dan bukan tentang altruisme global."

Denny Roy, seorang akademisi di East-West Center yang bermarkas di Hawaii, mengatakan China mungkin sedang berusaha untuk memperlihatkan reputasinya sebagai "negara yang bertanggung jawab", pada saat negara-negara lain tampak saling berebutan.

"Inilah sebabnya mengapa China dengan gencar memberikan kesan bahwa penyakit itu bisa diredam di China, bahwa China telah membantu dunia dengan bertindak dengan cepat dan efektif, dan sekarang China adalah dermawan utama bagi dunia yang telah memberikan perlengkapan medis kepada negara yang dilanda virus," katanya.

"Citra seperti ini bisa menjadi landasan bagi dunia internasional untuk menerima China sebagai kekuatan besar.

Fakta-fakta alternatif pada masa pandemi corona

Partai Komunis Tiongkok (PKC) menghadapi banyak kritik pedas atas penanganan awal krisis.

Yang mengejutkan, sebagian besar kritik ini datang dari orang-orang biasa di China.

Dalam upaya untuk menangkis beberapa kritikan ini, Dr Smith dari ANU mengatakan China melakukan apa yang juga dilakukan oleh Trump, dengan mengalihkan wacana ke "fakta alternatif" tentang penyebaran global virus corona.

"Semua orang di dunia tahu, alasan utama dampak virus corona menjadi begitu buruk adalah karena otoritas China mencoba menutupinya saat kasus-kasus awal merebak, dan apa yang dilakukan sekarang adalah usaha membuat kontra-narasi untuk menanamkan keraguan," katanya.

"Ini telah menjadi bagian dari pertempuran. Sekarang bukan lagi soal apakah kamu punya cerita yang lebih masuk akal, tapi juga apakah kamu punya cerita lain atau fakta alternatif, seperti yang sering disebut Donald Trump."

Dari sekian fakta alternatif yang disodorkan oleh Pemerintah China, salah satunya yang mengejutkan adalah argumen bahwa pandemi saat ini mungkin tidak dimulai di China.

Awal bulan ini, juru bicara kementerian luar negeri China Zhao Lijian melalui akun Twitternya mengatakan bahwa COVID-19 berasal dari Amerika Serikat, mengikuti teori konspirasi yang marak mewarnai media sosial China.

Teori konspirasi ini berpendapat virus corona sesungguhnya adalah senjata biologis Amerika yang dibawa ke Wuhan oleh Angkatan Darat AS, ketika ikut serta dalam Asian World Games 2019 di kota itu Oktober lalu.

Teori konspirasi ini menjadi fakta alternatif, karena kebanyakan orang percaya jika virus corona diperkirakan berasal dari kelelawar, yang menginfeksi spesies hewan lain, dan akhirnya bertransmisi ke manusia.

Kasus-kasus pertama infeksi virus corona manusia berhubungan dengan pasar makanan laut dan hewan hidup di Wuhan.

"[Teori konspirasi] berperan dalam hal-hal buruk yang telah dilakukan Amerika Serikat di masa lalu. Fakta bahwa Amerika tidak menandatangani Konvensi Penggunaan Senjata Kimia, misalnya, dan hal-hal lainnya dapat digunakan rezim China untuk mengubah publiknya melawan AS dan bukan melawan pemerintahnya sendiri" kata Dr Smith.

China dan AS sama-sama berperilaku sangat buruk

Dalam upaya membantah narasi yang dibangun oleh China, Presiden Amerika Serikat baru-baru ini menyebut virus corona sebagai virus China.

Tindakan Trump ini membuat marah China dan banyak pihak lain yang mengatakan bahwa istilah itu sebuah penghinaan, termasuk dari warga Amerika keturunan China.

Mereka yang memiliki keturunan China dilaporkan telah mendapat sejumlah pelecehan di Amerika Serikat.

Juru bicara kementerian luar negeri China, Geng Shuang mengatakan penggunaan istilah virus China oleh Trump adalah "tindakan stigmatisasi".

Ia juga mengatakan istilah itu sebagai bentuk pengalihan para pejabat AS atas kegagalan mereka sendiri.

"Yang dilakukan Amerika Serikat dengan mengalihkan kesalahan para pejabatnya dalam menangani pandemic COVID-19 tidak membantu negaranya untuk meredam penyakit itu, tidak juga menyatukan komunitas internasional," kata Geng.

Roy dari East-West Centre mengatakan ada alasan yang sah untuk mengkritik kedua belah pihak.

"Kedua pemerintah telah bertindak sangat buruk pada titik-titik tertentu dari krisis ini," katanya.

"Dalam beberapa bulan pertama, otoritas China berusaha membungkam pelaporan dan menutupi bencana yang muncul, reaksi spontan oleh rezim yang terbiasa menyembunyikan apapun yang tampak seperti berita buruk."

"Kesalahan utama di pihak AS termasuk gagal bergerak cepat untuk memastikan ketersediaan pasokan perlengkapan utama yang diperlukan, dan Gedung Putih pada awalnya meremehkan keseriusan pandemi tersebut."

Namun Dr Smith mengatakan "tidak ada pembenaran" bagi Presiden Trump yang mengaitkan virus corona dengan ras tertentu.

"Virus Wuhan terdengar lemah, tetapi virus China ... sangat jauh melewati batas sehingga hampir para pengemis pun percaya bahwa orang ini dapat memimpin dunia," katanya

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Melanggar Aturan Terkait Virus Corona, Siswa Asrama di Melbourne Dikeluarkan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaSebanyak 24 siswa Trinity College, yang dikenal sebagai asr...
Ingat Indonesia, Reynold Poernomo Hidangkan Cendol di MasterChef Australia
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaHampir semua peserta menitikkan air mata dalam acara Master...
Baru Bisa Beli Baju Hangat: Sepertiga Ibu Tunggal di Australia Miskin
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:53 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaMusim dingin di Australia kali ini dirasakan berbeda oleh a...
Belajar dari Rumah: Masih Ada Kesenjangan Pendidikan di Indonesia?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:53 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaBelajar dari rumah telah menjadi bagian dari new normal war...
Seberapa Amankah Berkunjung ke Mall di Australia Saat Ini?
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Di Australia, restoran dan kafe merupakan objek-objek yang menjadi sasaran penegakan aturan pembatas...
WHO: Penularan COVID-19 Masih Tinggi, Saudi Buka Mesjid, Spanyol Berkabung
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Di saat banyak negara mulai melonggarkan aturan terkait COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) m...
WHO Minta Indonesia Hentikan Pemberian Obat Malaria Ke Pasien COVID-19
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak Indonesia untuk menghentikan penggunaan dua jenis ob...
Gaji PNS di New South Wales Tidak Akan naik Selama 12 Bulan Karena COVID-19
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Karena pandemi COVID-19, Pemerintahan negara bagian New South Wales (NSW) di Australia tidak akan me...
Pengalaman Perempuan Australia Belajar dan Masuk Islam dari Game Online
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Baca dalam Bahasa InggrisPerempuan Australia bernama Zahra Fielding tidak menyangka dirinya akan men...
Gaji dan THR Sejumlah Perawat Indonesia Dipotong Saat Berjuang Hadapi Corona
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Di saat merayakan Idul Fitri sejumlah pekerja lepas, termasuk tenaga kesehatan, ada yang belum menda...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV