Politisi Amerika Bohong, Sulit Bersandiwara Lagi
Elshinta
Senin, 11 Mei 2020 - 02:23 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Politisi Amerika Bohong, Sulit Bersandiwara Lagi
CRI - Politisi Amerika Bohong, Sulit Bersandiwara Lagi

"Kami berbohong, kami menipu, kami mencuri." Ini adalah "tingkah laku" kepala diplomat AS selama bekerja di CIA. Setelah epidemi COVID-19 merebak, rangkaian cara yang tak tahu malu ini malah disalin dan digunakan dalam pencegahan dan pengendalian epidemi pemerintah AS, dan memungkinkan dunia ini menyaksikan apa yang disebut "kemuliaan yang terus dieksplorasi oleh Amerika Serikat "!

Pada tanggal 7 Mei yang lalu waktu setempat, Harian Australia " The Sydney Morning Herald" merilis sebuah laporan yang berjudul "Australia khawatir atas pernyataan AS soal (kebocoran virus) laboratorium Wuhan ". Artikel itu mengungkapkan, Tanggal 2 Mei yang lalu, Harian "Daily Telegraph" Australia mengeluarkan sebuah dokumen rahasia dari Aliansi “Five Eyes” sepanjang 15 halaman yang disebut "Virus Corona mungkin berasal dari Wuhan Virus Research Institute" , summer informasi sebenarnya dicari dari berita yang diterbitkan di internet. Pemerintah dan pejabat senior intelijen Australia mencurigai bahwa apa yang disebut dokumen rahasia itu sengaja "dibocorkan" oleh seorang anggota staf Kedutaan Besar AS di Canberra.

Pada saat yang sama, lebih banyak media mengungkapkan bahwa para diplomat Kedutaan Besar AS untuk Australia memberi informasi palsu kepada media lokal untuk mengkritik manipulasi politik di Tiongkok. North German Broadcasting (NDR) melaporkan pada tanggal 7 bahwa Badan Intelijen Federal Jerman telah menanyai badan-badan intelijen anggota "Aliansi Five Eyes ", dan menerima jawaban bahwa mereka tidak tahu apa itu dokumen rahasia tersebut. Majalah "Der Spiegel" Jerman mengatakan pada tanggal 8 bahwa dokumen internal yang diserahkan kepada Menteri Pertahanan Jerman Karen Bauer menunjukkan, pernyataan pemerintah AS tentang "virus corona berasal dari Laboratorium Wuhan" adalah "metode yang sengaja mengalihkan pandangan", dengan tujuan menyembunyikan kesalahan diri sendiri dan mengalihkan kemarahan orang Amerika ke Tiongkok.

Mengapa para diplomat Amerika berani omong kosong? Karena mereka tidak memiliki bukti tentang apa yang disebut "virus corona berasal dari laboratorium Wuhan"! Mereka tidak punya cara lain hanya menggunakan taktik yaitu membikin "rumor". Untuk meningkatkan kredibilitas, AS sengaja menarik sekutu sebagai sensasi, dan  sengaja membikin apa yang disebut dokumen rahasia "aliansi Five Eyes". Akibatnya, para sekutu enggan bekerja sama, sehingga trik pemerintah AS dibocorkan .

Sementara itu, Amerika Serikat masih main sandiwara "bantuan palsu". Kepala Diplomat AS dalam pidatonya pada tanggal 6 mengklaim bahwa Amerika Serikat akan memberikan bantuan sebesar US $130 juta lagi untuk kesehatan global dan pertolongan pengungsi, dengan demikian dana bantuan yang dikomitmen AS sudah melebihi US $ 900 juta. Amerika Serikat telah berkali-kali mengklaim pemberian bantuan internasional, tetapi fakta kebohongannya segera dibongkar: Tiongkok menyatakan bahwa "Satu sen pun belum dilihat." Salman-Hafi, duta besar Palestina untuk Prancis, juga mengatakan bahwa mereka tidak menerima sepeser pun. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menjelaskan bahwa dia tidak menantikan bantuan AS, juga tidak mau menerima "bantuan" yang disediakan hanya dalam bentuk "retorika lisan." Jelas sekali, ini adalah metode AS lagi untuk mengaburkan pandangan masyarakat.

Situasi nyata yang disaksikan masyarakat  adalah: pemerintah AS secara brutal "menghentikan" dana penyuplaian terhadap WHO yang mengkoordinasikan aksi anti-epidemi global. Tindakan itu dikritik oleh editor "The Lancet" Holden sebagai "kejahatan anti kemanusiaan". Absennya pemerintah AS dalam Konferensi penyumbangan dana Internasional terkait pandemi COVID-19 dikritik oleh para pejabat Uni Eropa sebagai "isolasi diri." Menghadapi fakta-fakta itu, kepala diplomat Amerika Serikat malah menganggap bahwa "Amerika Serikat akan terus memimpin perang global melawan epidemi." Omong kosong semacam ini terlalu banyak, tentu saja, tidak ada yang mendukungnya!

Di satu sisi membikin desas-desus, di sisi lain  merancang fitnahan. Menurut laporan "Washington Post", pemimpin Partai Republik McCarthy dari Dewan Perwakilan Rakyat AS mengumumkan pembentukan "Tim Kerja Khusus Tiongkok" pada tgl 7 lalu, untuk menyelidiki "ancaman ekonomi Tiongkok terhadap pemerintah AS dan sekutunya, upaya yang dimainkan Tiongkok memperoleh keunggulan teknologi, serta peran Tiongkok dalam sumber dan penularan virus COVID-19. Sebelum itu, Partai Republik AS juga membuat memo kampanye pemilu setebal 57 halaman untuk mengajari anggota partai cara menanggapi pertanyaan pemilih AS dan menimpakan semua kesalahan kepada Tiongkok.

Dapat dilihat bahwa sejak wabah COVID-19 merebak, politisi tertentu di Amerika Serikat telah berulang kali berbohong dan membuat desas-desus, dengan sekuat tenaga menimpakan kesalahan kepada Tiongkok, bahkan berusaha untuk menjebak negara ketiga dalam konspirasi mereka. AS telah menjadi kekuatan paling jahat yang paling pandai menipu, menghasut dan merusak di arena internasional .

Kini sandiwara yang disutradarai dan dimainkan politisi AS semakin sulit diteruskan. Menghadapi tragedi kemanusiaan yang lebih dari 77.000 warga Amerika meninggal, politisi Amerika yang tidak bermoral harus bangun dan menyadar. Kalau tidak, perbuatan kalian akan meludahi muka diri sendiri dalam sejarah..

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
PM Li Keqiang: Tiongkok Siap Bekerja Sama Demi Bersama Memerangi Virus
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang hari ini (28/5) di Beijing menyatakan, Tiongkok bersedia melakuk...
Li Keqiang: Dana Tunjangan Harus Disalurkan Langsung di Lapisan Dasar
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Li Keqiang hari ini(28/5) di Beijing menyatakan, dana santunan dan tunjangan yang di...
PM Tiongkok: Semaksimal Mungkin Upayakan Penyatuan Kembali Secara Damai Tanah Air
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang hari ini (28/5) di depan jumpa pers menyatakan, pemerintah pusat...
Li Keqiang: Ambil Segala Kebijakan Untuk Stabilkan Penempatan Tenaga Kerja
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Li Keqiang hari ini (28/5) dalam jumpa pers seusai sidang tahunan KRN ke-13 mengatak...
Li Keqiang: Keputusan yang Diambil KRN Seputar Pemeliharaan Keamanan Nasional Dapat Menjaga Pelaksanaan Satu Negara Dua Sistem
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Sore hari ini, Sidang tahunan KRN Ke-13 telah meluluskan keputusan pembentukan dan penyempurnaan tat...
Li Keqiang: Keterlepasan Tiongkok-AS Tidak Bermanfaat Bagi Siapa Pun
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang di depan jumpa pers hari ini (28/5) di Beijing menyatakan, keter...
Li Keqiang: Tiongkok Yakin 15 Negara Akan Tandatangani RCEP Menurut Jadwal
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Li Keqiang dalam jumpa pers seusai sidang tahunan KRN mengatakan, dalam KTT Asia Tim...
Li Keqiang: Bangun Iklim Bisnis Marketisasi, Legalisasi dan Internasionalisasi
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Li Keqiang dalam jumpa pers hari ini (28/5) seusai sidang tahunan KRN ke-13 menyatakan, hendaknya me...
PM Tiongkok: Tiongkok Mampu Wujudkan Target Pengentasan Kemiskinan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang dalam jumpa pers hari ini (28/5) di Beijing menyatakan, pemerint...
Li Keqiang: Harus Lebih Terbuka Dalam Perlawanan Wabah
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:52 WIB
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang hari ini (28/5) menunjukkan, dalam perlawanan wabah covid-19 san...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV