Pengumuman KPU 22 Mei: Polisi sebut akan ada yang melempar bom ke kerumunan massa
Elshinta
Senin, 20 Mei 2019 - 12:18 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pengumuman KPU 22 Mei: Polisi sebut akan ada yang melempar bom ke kerumunan massa
BBC Indonesia - Pengumuman KPU 22 Mei: Polisi sebut akan ada yang melempar bom ke kerumunan massa

Polri menangkap sejumlah tersangka teroris yang diklaim bakal melancarkan aksi saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan secara resmi hasil penghitungan suara pada 22 Mei.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen M Iqbal, mengatakan sebanyak 11 tersangka yang ditangkap merupakan anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang disebut punya kaitan dengan kelompok ISIS.

Mereka ditangkap di berbagai lokasi di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Dari 11 tersangka ini, sembilan tersanga merupakan anggota aktif JAD yang telah mengikuti pelatihan paramiliter di dalam negeri dan dilanjutkan ke Suriah. Dua tersangka, deportan, hijrah ke Suriah belajar membuat bom asap di Aleppo," papar Iqbal.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Polri menghadirkan sejumlah tersangka teroris dengan pengawalan ketat para petugas bersenjata lengkap.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan dirinya bisa memahami jika ada pihak-pihak yang ingin melancarkan aksi teror ketika Indonesia menggelar tahapan pemilu.

"Bagi mereka pemilu dan demokrasi merupakan kekufuran ... siapa saja yang melakukannya disebut kafir. (Saat) pemilu, kampanye, debat, mereka mungkin akan lakukan serangan, termasuk (saat pengumuman hasil) penghitungan suara 22 Mei," kata Al Chaidar.

"Mereka akan memanfaatkannya sebagai sebuah momen menyerang polisi dari jarak dekat yang tentunya akan mengorbankan nyawa demonstran dan tentunya ini sudah mereka rencanakan," katanya.

Pengamat terorisme Taufik Andrie mengatakan anggota kelompok JAD "masih berbahaya dan harus diwaspadai".

"Publik perlu waspada," katanya.

Menurut Andrie mereka "bisa memanfaatkan momen seperti pemilihan presiden untuk melakukan aksi".

Kedutaan AS di Jakarta keluarkan peringatan

Dengan mengutip polisi, kedutaan besar Amerika Serikat pada Kamis (17/05) mengeluarkan peringatan adanya peningkatan risiko terorisme.

Disebutkan, demonstrasi atau unjuk rasa yang terkait dengan finalisasi hasil pemilu mungkin akan digelar di sejumlah tempat umum di Jakarta Pusat, termasuk di kompleks KPU di Menteng dan di kantro Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jalan Thamrin.

Demonstrasi mungkin juga terjadi di kota-kota lain seperti Surabaya dan Medan.

Kedutaan AS meminta agar kawasan yang dipakai untuk demonstrasi atau berkumpulnya kerumunan dalam skala besar untuk dihindari.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Polri menampilkan video pria tersangka teroris. Dalam video itu, tersangka mengatakan berencana melemparkan bom di kerumunan massa pada 22 Mei mendatang.

Manfaatkan momen

Juru bicara Mabes Polri, Iqbal, mengatakan "pelaku tindak pidana terorisme betul-betul memanfaatkan momentum pesta demokrasi".

Dia memutar video yang diklaim sebagai pengakuan tersangka.

Dalam video itu seorang pria mengatakan dirinya "merencanakan amaliah jihad pada 22 Mei pada saat pengumuman penghitungan suara pemilu dengan cara melemparkan bom di kerumunan massa".

Pria itu menyebut "pemilu merupakan kesyirikan, mulai dari penyelenggara hingga peserta pemilu."

Pria tersebut, menurut M Iqbal, adalah salah seorang tersangka teroris.

Karenanya, dia mengimbau agar massa tidak berkumpul saat KPU mengumumkan hasil penghitungan suara Pemilu 2019.

Hak atas foto BBC News Indonesia

"Kepolisian Negara Republik Indonesia mengimbau agar pada beberapa tahapan yang akan datang, terutama pada tanggal 22 Mei, kami mengimbau tidak ada kumpulan massa. Ini akan rawan aksi teror, bom, dan senjata-senjata lain," kata Iqbal.

Publik diminta waspada

Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar mengungkapkan bahwa kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan, karena upaya penangkapan yang dilakukan polisi sejauh ini mencakup orang-orang yang berada di dalam struktur JAD.

"Kita belum bisa mengetahui siapa yang lone wolf dan orang-orang yang berada di luar struktur organisasi yang menggunakan metoda telekomunikasi lainnya yang tidak terdeteksi polisi, imbuh Al Chaidar.

Menurut Al Chaidar, mereka yang belum terdeteksi oleh polisi menggunakan jaringan telekomunikasi selain whatsapp dan telegram.

"Mereka bisa berkomunikasi lewat game online, mereka berkomunikasi antara satu sama lainnya," kata Al Chaidar.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Kepala Divisi Humas Polri, Irjen M Iqbal (tengah) menampilkan sejumlah barang bukti.
Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Barang bukti yang disita dari para tersangka teroris.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Mengapa kita sering tidak bisa mengingat mimpi kita?
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Banyak dari kita berjuang untuk mengingat detil mimpi kita. Alasannya terletak pada siklus tidur kit...
Para perempuan Asia yang bertekad mengurangi sampah plastik
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Sekitar setengah dari sampah plastik yang berakhir di lautan berasal dari lima negara di Asia, yakni...
Australia setujui proyek tambang batu bara kontroversial ke perusahaan India, Adani
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Australia telah memberi persetujuan akhir untuk memulai pembangunan tambang batu bara kontroversial ...
Perang dagang Cina-AS: Berapa besar kontribusi mahasiswa China di universitas Amerika?
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Amerika Serikat merupakan negara tujuan nomor satu bagi mahasiswa China yang ingin belajar ke luar n...
Bahar bin Smith dituntut enam tahun penjara dalam kasus dugaan penganiayaan
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor menuntut terdakwa kasus dugaan penganiaya...
Kasus suami gadaikan istri di Lumajang: Polisi cari pasal lain di luar pasal pembunuhan berencana
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Polisi di Lumajang, Jawa Timur, mengatakan sedang mencari pasal lain yang bisa digunakan untuk menje...
Dua kapal minyak di Teluk Oman diduga diserang, sebulan setelah serangan terhadap empat kapal minyak di Uni Emirat Arab
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, menuding Iran melakukan "serangan-serangan tanpa d...
Rumah sakit syariah: Kontroversi RSUD Tangerang, Syariah karena mayoritas Muslim tapi berpotensi diskriminatif
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang yang telah meraih sertifikasi syariah mengatakan tidak memb...
Mahkamah Konstitusi akan putuskan berkas perbaikan permohonan gugatan Prabowo saat sidang perdana
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Hakim Mahkamah Konstitusi akan memutuskan apakah akan menerima atau menolak berkas perbaikan permoho...
PM Jepang Berusaha Redakan Ketegangan AS-Iran
Jumat, 14 Juni 2019 - 07:29 WIB
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memperingatkan akan ada lagi konflik militer di Timur Tengah jika ...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 151
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 154
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once