Bagaimana Kota Wuhan Bisa Melakukan Jutaan Tes Virus Corona Dalam Sehari?
Elshinta
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Bagaimana Kota Wuhan Bisa Melakukan Jutaan Tes Virus Corona Dalam Sehari?
ABC.net.au - Bagaimana Kota Wuhan Bisa Melakukan Jutaan Tes Virus Corona Dalam Sehari?

Petugas kesehatan di kota Wuhan, kota virus corona berasal, mengatakan dalam waktu satu hari saja, yakni pada hari Jumat (22/5/2020), mereka sudah melakukan tes terhadap 1,47 juta orang.

  • Pemerintah Wuhan mengatakan sudah melakukan tes terhadap 9 juta orang dalam 10 hari
  • Pihak berwenang menggunakan metode pool testing, cara yang cepat tapi kadang tidak akurat
  • Beberapa warga Wuhan takut tertular saat hendak mengantri untuk dites

Pihak berwenang mengatakan sehari sebelumnya 1 juta orang juga telah menjalani tes, sebagai bagian dari usaha kota tersebut mengetes 11 juta warga di sana.

Sebagai perbandingan, Australia baru melakukan tes terhadap 1,19 juta orang hingga hari Jumat yang sama, sejak wabah mulai terjadi di bulan Januari.

Senin kemarin (25/05), pihak berwenang di Wuhan mengatakan mereka sudah melakukan tes terhadap 9 juta orang dalam waktu 10 hari.

Allen Cheng, direktur unit Epidemiologi dan Pencegahan Infeksi di Rumah Sakt Alfred di Melbourne mengatakan kepada ABC bahwa apa yang dilakukan oleh Wuhan merupakan hal "yang luar biasa".

"Saya kira tidak pernah ada di tempat lain sebelumnya ada begitu banyak tes yang dilakukan," katanya.

Jadi bagaimana pihak berwenang China melakukan hal tersebut?

Apakah pengujian yang dilakukan bisa dipercaya hasilnya? Dan juga apakah melakukan tes terhadap semua warga adalah hal yang bagus untuk dilakukan?

Kapan dan mengapa tes ini dilakukan?

Yang Zhanqiu, wakil direktur Departemen Biologi Patogen di Wuhan University minggu lalu mengatakan Pemerintah Wuhan memperluas pengetesan di bulan April dan melakukan tes terhadap kelompok warga tertentu.

Untuk memastikan tidak adanya kasus yang tersembunyi, mulai 14 Mei lalu, Wuhan meluncurkan kampanye tes virus corona bagi 11 juta warga untuk mengetahui kondisi bagi mereka yang tidak memiliki gejala.

Upaya ini dilakukan setelah pihak berwenang menyatakan adanya kasus baru pada tanggal 9-10 Mei, menjadi kasus pertama sejak Wuhan melonggarkan lockdown 8 April lalu.

"Penting sekali dilakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui keadaan sekarang ini," kata Yang dari Wuhan University.

Bagaimana bisa melakukan jutaan tes begitu cepat?

Pemerintah Wuhan menyiapkan paling sedikit 231 tempat pengetesan di berbagai lokasi di kota tersebut.

Menurut harian Changjiang, petugas juga menyusuri kawasan sebagai lokasi pengetesan, termasuk pasar, untuk mencari mereka yang belum dites.

Beberapa warga Wuhan dilaporkan khawatir jika mereka harus antri dan berada di tengah kerumunan malah membuat mereka bisa tertular virus.

Bagi mereka yang tidak bisa datang ke lokasi pengetesan, seperti para lansia, maka petugas langsung datang ke rumah-rumah.

Untuk melakukan tes dengan cepat, pihak berwenang menggunakan teknik yang disebut pool testing, mengumpulkan sampel dari 10 orang dan melakukan satu tes.

Bila tes itu positif, maka semua sampel dalam kelompok itu akan dites satu per satu.

Menurut Professor Cheng di Melbourne model pool testing adalah strategi yang valid dan angka optimal besaran kelompok tergantung pada seberapa banyak yang positif."

"Semakin jarang, maka kelompok 10 orang atau lebih merupakan cara yang efisien untuk menghemat sumber daya."

"Tetapi bila angka positif 5-10 persen, maka jumlah kelompok harus diperkecil, karena kalau tidak semua tes harus diulang kembali."

Menurut Health Times, antara tanggal 14 sampai 23 Mei, pihak berwenang di Wuhan sudah melakukan tes terhadap 6,6 juta orang, dan menemukan adanya 189 kasus positif dari mereka yang tidak memiliki gejala.

Pengetesan ini menghabiskan biaya besar dan pemerintah Wuhan mengatakan mereka menganggarkan sekitar Rp2,2 triliun untuk mengetes 11 juta warga.


Mengapa semua orang harus dites?

Hari Sabtu, China melaporkan tidak ada kasus baru di negaranya untuk pertama kalinya sejak mengumumkan wabah virus corona di bulan Januari.

Chen Xi, asisten profesor di Yale University di Amerika Serikat mengatakan kepada koran lokal Global Times jika banyak kota China yang memiliki jumlah penduduk yang besar, sehingga perlu untuk melacak penularan lewat tes besar-besaran.

Apa yang dilakukan di Wuhan, kata Chen, penting untuk mencegah terjadinya penularan gelombang kedua.

Tes dalam jumlah besar juga bermanfaat untuk memberi ketenangan bagi warga di Wuhan dan mempercepat proses bagi mereka untuk kembali ke sekolah atau bekerja.

Tetapi tidak semua orang mendukung tes besar-besaran tersebut.

Wu Zunyou, pakar epidemiologi di Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit China mengatakan kepada televisi nasional CCTV, jika tes besar-besaran ini tidaklah diperlukan.

Wu mengatakan masalah utama yang harus ditangani adalah warga yang memang rentan terkena, bukan warga secara keseluruhan.

"Melakukan tes terhadap semua orang tampaknya seperti ide bagus, namun sangat susah dilakukan."

"Bahkan tes terhadap 100 ribu orang yang dilakukan di negara bagian Victoria, Australia telah membuat sejumlah laboratorium kewalahan, dan ada resiko munculnya kasus yang dinyatakan positif tapi salah," kata Professor Cheng dari Alfred Health.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di dunia lewat situs ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Berapa Banyak Uang yang Dibutuhkan Kalau Mau Pensiun Nyaman di Australia?
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Yumi Lee berusia 56 tahun dan ia berharap bisa pensiun sekitar sepuluh tahun lagi. Tapi setelah ...
Vaksin AstraZeneca Kini Hanya Disarankan Untuk Orang Berusia 60 Tahun di Australia
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Pemerintah Australia mengumumkan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca kini hanya disarankan bagi orang...
Kasus COVID-19 Naik Lagi, Indonesia Ditakutkan Jadi Episentrum Selanjutnya
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Aisyah, berusia 10 tahun, kehilangan ibunya yang meninggal karena COVID-19. Sebagai 'sing...
Perempuan di Australia Membuktikan Jika Mereka Tak Kalah Hebat Bermain Game
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Seorang perempuan Australia berusia 58 tahun dengan nama 'Haughty Chicken' menjadi wajah b...
Saya Merasa Hampir Mati: Visa Pertanian Australia Ditakutkan Eksploitasi Pekerja
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Skema visa baru Australia yang dikhususkan bagi pekerja di sektor pertanian dari negara ASEAN dikhaw...
COVID Harus Dilawan Bersama Agar Sistem Kesehatan Indonesia Tidak Runtuh
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Lonjakan kasus COVID-19 terjadi di Indonesia, empat minggu setelah libur Lebaran, menjadi kekhawatir...
Benarkah Penyelundupan Manusia Perahu ke Australia Bisa Marak Kembali?
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Pemerintah Australia menyatakan bila keluarga 'manusia perahu' asal Sri Lanka, Nadesaling...
Tren Hijrah Membuat Banyak Warga Indonesia Tinggalkan Pekerjaan di Bank
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Syahril Luthfi, 36 tahun, pernah menemukan sebuah artikel online yang menyebut riba adalah "ber...
COVID Mungkin Akan Berakhir, Tapi Penyakit Ini Jadi Ancaman Selanjutnya
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Di saat kita sudah tak sabar ingin pandemi virus corona berakhir, para pakar kesehatan mengatakan ...
Mai Menikah Muda, Gaya Rambut dan Urusan Anaknya Ditentukan Oleh Mertua
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Setelah Mai menikahi suaminya pada usia 17 tahun, mertuanya melarang dia untuk bernyanyi. Mai ...
Live Streaming Radio Network