Lempeng Tektonik Bergoyang Lambat Sebelum Gempa Hebat
Elshinta
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Lempeng Tektonik Bergoyang Lambat Sebelum Gempa Hebat
DW.com - Lempeng Tektonik Bergoyang Lambat Sebelum Gempa Hebat

Dalam 100 tahun terakhir, para pakar kebumian mencatat sedikitnya 10 gempa dahsyat yang melanda bumi. Salah satunya gempa bumi dahsyat di laut Tohoku-oki di Jepang pada 2011, tercatat berkekuatan 9,0 Skala Richter yang memicu tsunami dan menghancurkan reaktor nuklir Fukushima. Yang lainnya, gempa laut di Chile pada 2010 dengan kekuatan 8,8 Skala Richter yang memicu tsunami di kawasan yang cukup luas.

Pelajaran ilmiah apa yang bisa ditarik dari dua gempa dahsyat itu? Para peneliti dari pusat penelitian kebumian Jerman, Geoforschungszentrum Potsdam (GFZ) dan rekannya dari Chile dan Amerika Serikat menemukan kesamaan fenomena yang menarik, yang terjadi beberapa bulan sebelum gempa terjadi. Yakni sejumlah gerakan tanah amat aneh berupa maju-mundurnya lempeng tektonik dengan kecepatan sangat lambat. Atau para ahli menyebutnya sebagai “goyangan“ lempeng tektonik.

Para peneliti yang dipimpin pakar geofisika Jonathan Bedford bersama tim pakar geologi, geodesi dan seismologi melakukan evaluasinya dari gerakan stasiun bumi Global Navigation Satellite System (GNSS).

Stasiun bumi ini secara kontinu mengukur jarak pada berbagai satelit GNSS yang mengorbit bumi dalam lintasan eliptik. Setelah jarak ditegaskan dan perkiraan posisi satelit diketahui, para ahli geodesi bisa mendefinisikan gerakan satu titik di bumi, di dalam kerangka referensi terestrial.

Seluruh lempeng tektonik “bergoyang“

Pengukuran ini didukung jejaring stasiun terestrial yang amat padat di Jepang. Bedford dan rekan tim penelitinya menganalisa, bagaimana stasiun terestrial di Jepang dan Chile bergerak dalam kurun waktu lima tahun sebelum diguncang gempa dahsyat itu.

Mereka mencatat, pergerakan lempeng tektonik di mana stasiun berlokasi, bergerak maju dan mundur beberapa kali, di Jepang dalam waktu lima bulan sebelum gempa dan di Chile dalam kurun waktu tujuh bulan sebelum gempa. Para peneliti mempublikasikan hasil risetnya dalam jurnal ilmiah Nature.

Kedua lokasi pertemuan lempeng tektonik adalah zona subduksi, dimana satu lempeng menyusup di bawah lempeng lainnya. Dalam kedua penelitian, diketahui lempeng samudra menyusup ke bawah lempeng benua di kawasan palung laut.

Dalam kondisi normal, lempeng benua biasanya ditekan oleh lempeng samudra dan dengan begitu ditekan menjauhi palung. Akan tetapi para pakar geofisika kini menemukan gerakan itu mula-mula berbalik arah, mendekati palung lalu kemudian menjauh lagi. Demikian berulang kali, sehingga seperti “goyangan“ lempeng tektonik.

Gerakan serupa sepanjang ribuan kilometer

Amplitudo gerakan itu, menurut para peneliti tidak besar, hanya sekitar 4 hingga 8 milimeter. Namun Bedford merujuk, bahwa amplitudo ini relevan, mengingat pergerakan lempeng tektonik juga hanya beberapa sentimeter per tahunnya. Lebih jauh lagi, kontraksi ruang dari sinyal menyebar ribuan kilometer di sepanjang perbatasan lempeng.

“Ada asumsi umum bawah proses di bagian terdalam subduksi berlangsung dalam kecepatan konstan di antara gempa bumi hebat“, ujar ilmuwan dari GFZ itu menjelaskan. “Namun penelitian kami menunjukkan, bahwa asumsi ini merupakan penyederhanaan berlebihan. Faktanya, variabilitas bisa saja menjadi faktor kunci untuk memahami bagaimana terjadinya gempa paling dahsyat“, tambah Bedford.

Dengan pelacakan satelit global yang makin bagus, dan data akurat yang tersedia setelah beberapa dekade, para peneliti gempa bumi punya kemampuan lebih bagus lagi untuk melakukan observasi. “Dalam tahapan berikutnya, kami mungkin bisa memonitor perubahan dalam waktu hampir real time“, ujar pakar geofisika Bedford menambahkan.

Tidak bisa digunakan sebagai sistem peringatan dini

Walau begitu, sejauh ini para pakar kegempaan tetap belum bisa meramalkan kapan dan di mana gempa dahsyat akan terjadi.

Dengan membuat perhitungan magnitudo gempa dahsyat terakhir di sebuah kawasan dan mengetahui kecepatan relatif gerakan lempeng tektonik, para ahli hanya bisa memperkiraan, kapan sebuah sesar atau patahan akan cukup matang untuk mengulang peristiwa gempa. Namun juga ada ketidakpastian besar dalam pendekatan semacam ini.

Penyebabnya, sebuah sesar bisa saja memicu gempa berskala di atas 8 SR hanya dalam kawasan kecil. Tapi di lain waktu, tiba-tiba memicu gempa dahsyat dalam kawasan cukup luas.

Jadi apakah monitoring gerakan lempeng tektonik yang tidak lazim seperti kasus gempa Jepang dan gempa Chile bisa memberikan peringatan dini lebih baik, terkait akan terjadinya gempa dahsyat? Jawabanya, tidak.

“Sinyal yang diamati dalam riset ini, tidak selalu menjadi petunjuk adanya gerakan sebuah gempa besar“, papar Bedford. Dan masih diperlukan banyak penelitian lanjutan. Pakar geofisika ini juga mewanti-wanti, pada prinsipnya, orang yang bermukim di kawasan gempa bumi hebat, tetap harus waspada.

(as/gtp )



Peneliti menemukan bahwa lempeng tektonik bergoyang maju mundur amat lambat, beberapa bulan sebelum gempa dahsyat terjadi. Fenomena misterius semacam ini diamati pada dua gempa besar yang terjadi di Jepang dan di Chile.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Stasiun TV di Indonesia Yang Menyiarkan Inovator
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Bali TV (Denpasar) : setiap Sabtu jam 16:30 Elshinta TV (Jakarta) : setiap Senin – Kamis jam...
Koneksi Internet Minim, Negara Miskin Tersisih dari Diskusi Perubahan Iklim
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Aktivis lingkungan dari Zambia, Precious Kalombwana, sangat senang ketika tahu ia akan mengikuti lok...
Twitter Resmi Rilis Layanan Berbayar Baru
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Twitter meluncurkan layanan berbayar perdananya, Twitter Blue, yang saat ini digulirkan di Kanada da...
Jantung Perempuan Lebih Rentan Dibanding Jantung Pria
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Martha Schroff terkena serangan jantung tahun lalu. Padahal ia sering berolahraga, dan tidak pernah ...
Tes DNA Ungkap Hubungan Keluarga Dua Kerangka Viking di Denmark dan Inggris
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Arkeolog telah mengonfirmasi hubungan dua pria yang meninggal di zaman Viking berdasarkan hasil tes ...
Kasus Perdagangan Manusia di Vietnam Meningkat di Tengah Pandemi COVID-19
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Lonjakan kasus COVID-19 dan kesulitan finansial yang menjadi imbasnya telah mendorong peningkatan pe...
Dilema Rencana Sekolah Tatap Muka Terbatas Kala Pandemi COVID-19 Belum Selesai
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Wacana dibukanya sekolah tatap muka pada Juli 2021 mendatang menimbulkan berbagai dilema di masyarak...
Rumah Tangga Gay Asal Indonesia di Jerman: Cinta Kami Tidak Seperti Kisah Dongeng
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
"Tak terasa saya sudah menikah selama delapan tahun,” ujar Erwin Chandra, pramugara asal ...
Di Tangan ‘Dokter Wayang’ Ki Joko Langgeng, Wayang yang Sakit Kembali Pulih
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Sejak 1968, Ki Joko Langgeng terus menjaga kesenian dan budaya Jawa. Selain dikenal sebagai dalang, ...
Korean Wave: Dari Investasi Ekonomi Pemerintah Korea Selatan Jadi Gerakan Sosial Dunia
Kamis, 24 Juni 2021 - 09:20 WIB
Foto dan video ribuan ojek online (ojol) memadati gerai restoran McDonald's untuk membeli menu e...
Live Streaming Radio Network