Sejauh Mana Kegunaan Tes Antibodi Massal Virus Corona?
Elshinta
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Sejauh Mana Kegunaan Tes Antibodi Massal Virus Corona?
DW.com - Sejauh Mana Kegunaan Tes Antibodi Massal Virus Corona?

Rusia menerapkan lockdown sangat ketat sejak beberapa pekan terakhir. Namun jumlah kasus infeksi baru corona terus meningkat. Kini testmassal antibodi diharap memberikan lebih banyak pemahaman menyangkut proses pecahnya wabah. Juga Italia hendak melakukan tes skala besar serupa, untuk melacak jumlah sebenarnya dari orang yang terinfeksi Covid-19.

Dengan tes serologis (ELISA) hendak diketahui, siapa saja yang sebenarnya sudah terinfeksi SARS-CoV-2. Orang yang dites hanya diambil sampel darahnya untuk dianalisis di laboratorium. Jika tubuh sudah membentuk kekebalan spesifik terhadap virus corona, warna alat tes akan berubah.


Imunitas bantu perangi corona

Tes massal antibodi akan menunjukkan, siapa saja yang sudah mengembangkan kekebalan terhadap virus corona. Diketahui banyak orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala atau hanya muncul gejala ringan, bukan penyakit paru-paru berat yang mematikan. Karena itu banyak orang tidak tahu, mereka sudah kebal.

Mereka yang sudah memiliki imunitas terhadap virus SARS-CoV-2, bisa dijadikan donor serum darah untuk membantu pasien Covid-19. Serum darah semacam itu, dapat membantu mendukung sistem kekebalan tubuh pasien yang dilemahkan oleh penyakitnya.

Atau mereka yang diketahui sudah mengembangkan imunitas terhadap Covid-19, bisa dipekerjakan sebagai tenaga perawat pasien. Pasalnya risiko mereka untuk kembali tertular SARS-CoV-2 sangatlah kecil.

Risiko salah diagnosa
Walau terdengar memberikan secercah harapan di tengah pandemi Covid-19, para pakar virologi juga melontarkan peringatan. Banyak alat tes antibodi saat ini punya akurasi spesifik hingga 99%. Artinya ada kemungkinan 1% orang yang ditest tidak mengembangkan antibodi pada virus yang spesifik dilacak.

Bisa saja orang ini mengembangkan kekebalan terhadap virus corona jenis lain, bukannya virus corona jenis baru SARS-CoV-2. Pakar virologi Jerman, Christian Drosten dalam podcast untuk stasiun penyiaran Jerman NDR menyebutnya sebagai “reaksi silang“.

Terutama di negara dimana jumlah kasus Covid-19 dibanding jumlah populasi total sangat kecil, penyimpangan spesifikasi test akan lebih kuat, dibanding negara yang jumlah kasus Covid-19 di kalangan warganya cukup besar.

Rusia misalnya, hingga 26 Mei 2020 menurut data Johns Hopkins University mencatat 350.000 kasus infeksi Covid-19. Dengan total populasi 150 juta, penyimpangan spesifikasi tes di sini bisa memainkan peranan lebih besar.

Walau begitu, sangatlah logis untuk sebanyak mungkin melakukan test terhadap warga, untuk menemukan seberapa besar “angka gelap“ dari infeksi Covid-19. Selain untuk melacak imunitas kelompok, hal itu juga bisa membantu memberikan penilaian lebih baik menyangkut proses penularan virus.(as/vlz)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Boeing 747 Pensiun? Selamat Tinggal Jumbo Jet Pertama di Dunia
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:49 WIB
Boeing akan mengakhiri produksi pesawat dua tingkat 747 setelah 50 tahun beroperasi. Lebih dari 1.50...
Vaksin HIV/AIDS yang Efektif Melindungi Tidak Akan Ada?
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Mengapa hingga kini vaksin HIV belum ditemukan? Padahal para ahli sudah menemukan virus penyebab men...
AS Secara Resmi Umumkan Keluar dari WHO di Tengah Pandemi
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Amerika Serikat (AS) secara resmi memberi tahu Sekretaris Jenderal PBB tentang penarikan negaranya d...
Komisi Eropa: UE Akan Hadapi Resesi Ekonomi Lebih Suram dari Perkiraan Awal
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Tahun ini ekonomi zona euro akan jatuh dalam resesi yang lebih suram dari perkiraan semula, dan pemu...
Tekanan Meningkat Bagi Angela Merkel di Jerman Untuk Tekan Cina Soal Hong Kong
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Cina bergerak cepat setelah memberlakukan UU Keamanan Nasional yang kontroversial di Hong Kong mingg...
Rusia dan Cina Veto Perpanjangan Koridor Bantuan Kemanusiaan di DK PBB
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Dua anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Jerman dan Belgia, Selasa (7/7) mengajukan resolusi untu...
Banjir Jepang Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Corona
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Dalam lima hari terakhir, lebih dari 1,2 juta penduduk Jepang terpaksa meninggalkan rumah mereka di ...
Inggris Beri Sanksi kepada Rusia, Saudi, dan ‘Uang Haram’ Mereka Lewat Magnitsky Act
Rabu, 08 Juli 2020 - 11:45 WIB
Rusia mengancam akan melakukan pembalasan setelah pemerintah Inggris menggunakan kekuatan hukum baru...
Pembatasan Haji: Frustrasi bagi Jemaah dan Kesulitan Ekonomi Arab Saudi
Rabu, 08 Juli 2020 - 11:45 WIB
Ibadah haji tahunan adalah kegiatan yang melibatkan jutaan manusia dan menjadi salah satu kerumunan ...
Pemerintah AS Akan Cabut Izin Tinggal Mahasiswa Asing di Program Kuliah Online
Rabu, 08 Juli 2020 - 11:45 WIB
"Siswa aktif yang saat ini berada di Amerika Serikatyang terdaftar dalam program semacam itu ha...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV