Krisis pengungsi Muslim Rohingya: Jenazah dibuang ke laut di malam hari, cerita pengungsi menghadapi rangkaian kematian saat terkatung-katung di laut
Elshinta
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:53 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Krisis pengungsi Muslim Rohingya: Jenazah dibuang ke laut di malam hari, cerita pengungsi menghadapi rangkaian kematian saat terkatung-katung di laut
BBC - Krisis pengungsi Muslim Rohingya: Jenazah dibuang ke laut di malam hari, cerita pengungsi menghadapi rangkaian kematian saat terkatung-katung di laut

“Tak ada yang tahu berapa yang meninggal. Mungkin 50, mungkin lebih,” kata Khadiza Begum.

Ilustrasi foto Khadiza
Image caption Suami dan anak Khadiza meninggal di Myanmar.

Perempuan berusia 50 tahun ini satu dari 396 Muslim Rohingya yang diselamatkan oleh Penjaga Pantai Banglades sesudah perahu yang membawa mereka terkatung-katung di laut lepas selama dua bulan.

Khadiza memperkirakan angka itu berasal dari pemakaman yang diselenggarakan oleh anaknya, seorang imam yang juga berada di perahu tersebut.

Para penyelundup manusia yang membawa mereka, menjanjikan membawa ke Malaysia.

Namun mereka tak pernah tiba di sana.

Khadiza harus kabur dari rumahnya di Myanmar disebabkan oleh kekerasan yang disebut oleh penyelidik PBB sebagai “contoh sempurna pembersihan etnis”.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Pengungsi Rohingya yang membutuhkan bantuan

Negara tetangga Bangladesh memberi tempat penampungan bagi pengungsi Muslim Rohingya, yang kini menjadi kamp pengungsi terbesar di dunia.

Sekitar satu juta etnis Rohingya ditampung di Cox’s Bazar di Banglades. Beberapa dari mereka memimpikan kehidupan yang lebih baik di Malaysia yang terletak di seberang Teluk Benggala.

ilustrasi kapal
Image caption Para pengungsi di atas kapal menuju Malaysia.

Jenazah dilemparkan

Namun dalam kasus Khadiza, mimpi itu adalah mimpi buruk.

Ia ingat bagaimana awak kapal – para penyelundup manusia – berusaha menutupi kematian di perahu yang padat penumpang itu.

“Mereka menyalakan kedua mesin, sehingga tak ada yang bisa mendengar suara jenazah yang diceburkan ke dalam air”.

Kadang, katanya, jenazah-jenazah itu dibuang di malam hari.

“Saya yakin setidaknya 14 sampai 15 orang perempuan meninggal”.

Kematian perempuan yang duduk di sebelanya masih membuat Khadiza trauma.

Perempuan itu mengalami dehidrasi parah, lalu kehilangan orientasi dan bertindak aneh.

Awak kapal membawa ke geladak kapal, dan perempuan itu meninggal di sana.

“Aku masih terhantui kematiannya. Ia meninggal di depan mata saya,” kata Khadiza.

Perempuan itu punya empat anak. Menurut Khadiza, yang tertua berumur 16 tahun.

“Anakku memberitahu kepada anak si perempuan bahwa ibunya meninggal”.

Kapal terkatung-katung selama dua bulan di laut terbuka.
Image caption Kapal terkatung-katung selama dua bulan di laut terbuka.

Anak yatim piatu

Khadiza sendiri punya empat orang anak.

"Tiga anak lainnya tidak tahu nasib ibu mereka." Kata Khadiza. "Mereka menangis. Sedih sekali rasanya."

"Jenazah si ibu segera dibuang ke laut."

Khadiza menjadi gelandangan dan tak bernegara (stateless) tahun 2017 sesudah suami dan salah satu anaknya dibunuh tentara dalam operasi di negara bagian Rakhine Myanmar.

Desanya dibakar, dan ia mengungsi ke Bangladesh, tinggal sementara di kamp pengungsi Cox Bazar bersama anak-anaknya.

Sesudah menikahkan putri tertuanya, ia ingin sekali menyediakan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya yang masih bersamanya.

“Hidup kami berat. Saya tidak lihat ada masa depan untuk kami di kamp pengungsi”.

Ia mendengar kisah pengungsi Rohingya menyebrang laut ke Malaysia untuk mencari kehidupan lebih baik. Ia tertarik.

Menjual perhiasan

Putra Khadiza memimpin pemakaman mereka yang meninggal di kapal.
Image caption Putra Khadiza memimpin pemakaman mereka yang meninggal di kapal.

Khadiza menjual perhiasannya dan mengumpulkan US$750 (sekitar Rp11 juta) untuk membayar para penyelundup agar mengatur perahu baginya dan anak-anaknya ke Malaysia.

Lalu satu malam di bulan Februari, ia menerima telepon yang ia tunggu-tunggu.

“Saya disuruh ke halte bus Teknaf”.

Ia merahasiakan niatnya, lalu membungkus baju dan perhiasan emas di tas kecil.

“Saya bilang kepada teman-teman dan tetangga saya pergi untuk berobat,” katanya kepada BBC.

Sambil menyeret anak-anaknya, ia mengunci pintu rumah dan menyelinap di kegelapan.

Seorang pria menemuinya di halte bus, mengantar mereka ke sebuah rumah pertanian dan ia melihat ada ratusan lagi orang sepertinya di situ.

Mereka ditransportasikan ke kapal yang perlahan berlayar ke Teluk Benggala, antara Pulau Saint Marin di Bangladesh dan Akiab di Myanmar.

“Saya merencanakan ini berbulan-bulan. Saya ingin kehidupan yang lebih baik. Saya bermimpi kehidupan yang baru di negara baru”.

Tiada ruang untuk menyelonjorkan kaki

Sesudah dua hari, mereka dipindahkan ke perahu lain yang lebih besar, penuh dengan penumpang.

Khadiza ingat bahwa ia bahkan tak bisa menyelonjorkan kaki di situ.

“Banyak keluarga, perempuan dan anak-anak. Rasanya ada lebih dari 500 orang”.

Perahu ini lebih besar daripada perahu penangkap ikan di Asia Seatan, tapi tidak cukup besar untuk mengangkut orang sebanyak itu.

Awak kapal berada di gelada katas, perempuan di tengah dan pria di geladak terbawah.

Ironisnya, awak kapal adalah orang Burma yang berasal dari Myanmar, negara yang mengusir orang-orang Rohingya.

“Awalnya saya takut,” kata Khadiza. “Saya tidak tahu akan seperti apa nasib kami. Namun setelah duduk, kami mulai bermimpi lagi”.

“Saya pikir, kami akan meraih hidup yang lebih baik. Maka kesulitan apapun yang harus kami lalu tidak masalah”.

Kematian di toilet

Perahu itu tidak punya fasilitas seperti air dan sanitasi.

Khadiza mandi hanya dua kali dalam dua bulan dengan mengambil air dari laut, di depan orang-orang.

Toilet hanya berupa dua papan dengan lubang di tengah-tengah.

“Beberapa hari sesudah kami memulai perjalanan ke Malaysia, seorang bocah terjatuh dari lubang itu ke laut,” kata Khadiza.

“Ia jatuh dan mati”.

Itulah kematian pertama yang dilihat oleh Khadiza.

Mencapai Malaysia

Sesudah berlayar selama tujuh hari, terkadang di tengah badai dan ombak yang tinggi, mereka akhirnya bisa melihat pantai Malaysia.

Di situ, mereka menunggu datangnya perahu yang lebih kecil untuk mengangkut mereka ke darat.

Namun tak ada yang datang.

Wabah virus corona membuat Malaysia mengetatkan keamanan mereka, dan penjaga pantai lebih sering berpatroli sehingga sulit untuk menyelinap masuk ke sana.

Kapten kapal berkata ia tak bisa mendaratkan para pengungsi ini ke Malaysia.

Harapan Khadiza berantakan karena pandemi.

Minum air laut

Khadiza Begum kembali ke kamp pengungsi dalam kondisi trauma.
Image caption Khadiza Begum kembali ke kamp pengungsi dalam kondisi trauma.

Mereka harus mundur dan mulai kehabisan makanan dan air.

Dalam perjalanan ke Malaysia, mereka diberi nasi dua kali sehari, terkadang dengan lentil, dan segelas air.

"Awalnya, sekali makan sehari. Lalu sekali setiap dua hari – hanya nasi, tanpa lauk."

Kurangnya air minum mulai tak tertahankan.

Menurut Khadiza, karena putus asa beberapa pengungsi bahkan minum air laut.

“Orang menghilangkan haus dengan memasukkan pakaian ke dalam laut, lalu meneteskannya ke mulut mereka”.

Kesempatan kedua

Beberapa hari kemudian, dari pantai Thailand, sebuah perahu kecil yang diatur oleh penyelundup datang membawa perbekalan.

Namun ketika sedang mencari kesempatan untuk masuk ke Malaysia, Angkatan Laut Burma mencegat mereka.

“Angkatan laut menangkap kapten dan tiga awak kapal. Tapi mereka dilepaskan,” kata Khadiza.

“Kuduga mereka bikin kesepakatan”.

Kesempatan kedua untuk mendarat di Malaysia juga gagal.

Pemberontakan di kapal

Jelas bagi semua bahwa perahu ini tidak akan kemana-mana.

“Kami terombang-ambing di laut, tanpa harapan akan mendarat. Orang-orang mulai putus asa. Kami terus bertanya, sampai kapan bisa bertahan”.

Maka sekelompok pengungsi datang ke awak kapal dan memohon untuk didaratkan di masa saja, tak peduli apakah itu Myanmar atau Bangladesh.

Namun awak kapal menolak.

Terlalu riskan, kata mereka. Mereka bisa ditangkap dan perahu bisa disita.

Saat perahu terombang-ambing tanpa tujuan di Teluk Benggala, cerita bahwa awak kapal melakukan pemerkosaan dan penyiksaan mulai beredar.

“Lalu segalanya mulai tak terkendali,” kata Khadiza.

“Saya dengan salah seorang awak kapal diserang dan dibunuh. Jenazahnya dibuang ke laut”.

Di perahu itu, ada 10 orang Burma mengawasi sekitar 400 pengungsi.

“Mereka sadar akan sulit kalua mereka melawan”.

Lalu awak kapal meminta uang lebih banyak untuk menyewa perahu kecil guna membawa pengungsi ke daratan.

Mereka berhasil mengumpulkan US$1.200 (Rp17,5 juta).

Setelah beberapa hari, sebuah perahu kecil mendekat.

Segera saja kapten dan hamper semua awak kapal melompat ke sana dan kabur.

Mereka yang tinggal berhasil melayarkan perahu ke Bangladesh dengan dibantu dua awak kapal yang tersisa.

Kehilangan segalanya

Kapal
Image caption Khadiza mengatakan paling tidak 50 orang meninggal saat terkatung di kapal.

“Saya gembira sekali ketika akhirnya berhasil melihat daratan setelah dua bulan,” kenang Khadiza.

Ia dan anak-anaknya kembali di Bangladesh lagi.

Sesudah menghabiskan waktu dua minggu karantina, Khadiza kembali ke kamp pengungsi, dan menemukan tempat lamanya sudah ditempati oleh keluarga lain.

Ia tak punya harapan kembali ke Myanmar untuk hidup di tanah tempatnya bercocok tanam dahulu.

Kini ia harus berbagi ruang yang kecil bersama anak-anaknya.

“Aku kehilangan segalanya demi mimpiku,” katanya sambil merenung.

“Jangan bikin kesalahan seperti yang kubuat”.

Ilustrasi oleh Lu Yang

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV