WNI di Amerika Serikat: Sikap Rasialis Makin Terasa Sejak Trump Berkuasa
Elshinta
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
WNI di Amerika Serikat: Sikap Rasialis Makin Terasa Sejak Trump Berkuasa
ABC.net.au - WNI di Amerika Serikat: Sikap Rasialis Makin Terasa Sejak Trump Berkuasa

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Aksi unjuk rasa dan kerusuhan yang terjadi di berbagai kota di Amerika Serikat memasuki hari keenam sebagian disebabkan karena kebijakan dan berbagai penyataan Presiden Donald Trump sebelumnya.

  • Bermula dari warga kulit hitam George Floyd yang tewas di tangan polisi kulit putih di Minneapolis
  • Presiden Trump sempat diungsikan ke bunker bawah tanah di Gedung Putih
  • Tentara dan National Guards sudah dikerahkan untuk mengamankan situasi

Pengamatan tersebut disampaikan oleh Didi Prambadi, wartawan senior asal Indonesia yang tinggal di kota Philadelphia, Amerika Serikat, dalam percakapan dengan wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya, hari Senin (1/6/2020).

"Sikap rasialis makin terasa di kalangan rakyat biasa sejak Trump berkuasa," kata Didi yang sekarang mengelola penerbitan bernama Indonesian Lantern, majalah online dalam bahasa Indonesia untuk komunitas Indonesia di sana.

"Pernyataan yang dikeluarkan Trump selalu memberi angin bagi kaum supremasi putih. Dan menyudutkan warga kulit hitam dan minoritas," tambah Didi yang pernah juga menjadi koresponden majalah Tempo.

Aksi protes dan kerusuhan yang berlangsung sekarang bermula dari tindakan polisi berkulit putih, Darek Chauvin di kota Minneapolis, yang dituduh menyebabkan kematian George Floyd.

Saat kejadian kaki Darek menekan leher George dan membuatnya tidak bisa bernapas dan meninggal.

Kejadian itu direkam oleh beberapa orang dan terlihat George sempat memohon beberapa kali untuk dilepaskan karena dia tidak bisa bernapas, sebelum kemudian terkulai lemah.

Dicontohkan oleh Didi, awalnya Presiden Trump mengatakan George Floyd patut diperlakukan dengan adil.

"Belakangan Trump bilang kalau perusuh masih marak, tembak saja. Ini seakan menyulut bensin lagi, makin tersulut dan tak terkendali," tambah Didi lagi.

Dalam observasi Didi yang sudah tinggal lebih dari 20 tahun di Amerika Serikat, sikap rasialis masih terasa di kalangan rakyat biasa sejak Trump berkuasa, dengan adanya berbagai konflik di supermarket atau Mcdonald yang makin banyak.

"Olok-olok apalagi bullying makin menjadi-jadi. Warga kulit hitam yang merasa tertekan oleh putih makin menekan kalangan Asia dan China," katanya.

"Di kereta subway ada warga kulit hitam menyemprotkan cairan disinfektan ke penumpang Asia,"

"Kulit hitam juga ada yang tidak mau duduk dekat warga Asia atau ada yg tak mau dilayani pelayan Asia," katanya lagi.

Didi tinggal di kota Philadelphia di negara bagian Pennsylvania yang juga menyaksikan adanya gelombang protes dan kerusuhan selama beberapa hari terakhir.

Sejauh ini menurut Didi, keadaan di kota tersebut cukup aman, setelah diberlakukan larangan keluar rumah dan juga diturunkannya ratusan polisi untuk menjaga keamanan.

"Secara umum begitulah keadaan umumnya di kota-kota besar di Amerika," katanya.

"Sebenarnya tidak ada serangan fisik ke pihak tertentu. Mereka hanya menjarah toko-toko sepatu, pakaian. Mungkin memanfaatkan keadaan," kata Didi lagi.

Kepolisian Philadelphia hingga saat ini dilaporkan telah menahan 270 orang.

"Sejauh ini tidak ada korban tewas. Hanya luka-lika ringan karena jatuh diburu polisi atau saling dorong dengan petugas,"

Michael Jordan memberikan komentar

Salah satu bintang bola basket paling terkenal di dunia, Michael Jordan juga memberikan komentar mengenai tewasnya George Floyd.

Michael mengatakan dia merasa sangat berduka untuk keluarga Floyd dan keluarga lain yang anggota keluarganya meninggal karena tindak rasisme.

"Saya sangat sedih, sangat pedih, dan marah," kata Jordan yang sekarang merupakan pemilik klub NBA Charlotte Hornets.

"Saya melihat dan merasakan kesedihan, ras amarah dan frustrasi semua orang."

"Saya bersama dengan siapa saja untuk menghentikan rasisme yang sudah mendarah daging dan kekerasan terhadap warga berkulit hitam, dan yang lainnya."

"Cukup sudah semua ini."

Pernyataan Michael muncul di saat gelombang protes dan kerusuhan terus berlanjut di berbagai kota di Amerika Serikat, dimana pengunjuk rasa bentrok dengan polisi.

Ia menyerukan agar warga menunjukkan empati dan rasa solidaritas dan tidak berpaling dari tindak brutal yang ada di dalam masyararakat.

"Suara kita yang bersatu diperlukan untuk menekan para pemimpin kita guna mengubah aturan hukum atau kita bisa menggunakan suara kita guna menciptakan perubahan sistemik."

Presiden Trump sempat diamankan

Hari Minggu unjuk rasa di Amerika Serikat terus berlanjut, mulai dari Boston sampai ke San Francisco, dengan adanya laporan penjarahan terhadap beberapa toko-toko di siang hari, termasuk di Philadelphia dan Santa Monica, Kalifornia.

Di ibukota Washington DC, para pengunjuk rasa melakukan pembakaran di dekat Gedung Putih.

Menurut kantor berita Associated Press, sejauh ini sudah 4.100 orang ditahan dalam aksi selama beberapa hari terakhir.

Kantor berita tersebut juga melaporkan Agen Rahasia telah mengamankan Presiden Trump ke bunker bawah tanah di Gedung Putih ketika terjadi unjuk rasa, hari Jumat kemarin.

Menurut AP, protes hari Jumat tersebut membuat sistem peringatan keamanan ditingkatkan ke titik tertinggi di Gedung Putih sejak serangan 11 September di tahun 2001.

Sabtu kemarin, Presiden Trump di Twitter mengatakan jika para pengunjuk rasa berhasil memasuki halaman Gedung Putih mereka akan disambut dengan anjing penjaga yang paling galak.

Tentara Amerika Serikat yang dikenal dengan nama National Guards sekarang sudah dikerahkan ke beberapa negara bagian untuk mengamankan situasi.

Jam malam sudah diberlakukan di beberapa kota, termasuk Atlanta, Chicago, Denver, Los Angeles, San Francisco dan Seattle.

Sekitar lima ribu National Guards juga sudah diminta mempersiapkan diri di 15 negara bagian.

Di kota asal kejadian, Minneapolis, polisi dan tentara dikerahkan ke beberapa sudut kota untuk menerapkan jam malam yang mulai berlaku pukul 20:00 waktu setempat.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kisah Seorang Pengungsi Rohingya yang Melarikan Diri dari Indonesia
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Sudah beberapa hari terakhir ratusan aktivis tampak berkumpul di depan sebuah hotel di Kota Brisbane...
Setelah Pandemi Corona Banyak yang Ingin Gabungkan Kerja Dari Rumah dan Kantor
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Di awal tahun 2020, tidak banyak yang membicarakan apakah rumah bisa menjadi tempat kerja. Survei...
Saya Takut: Jumlah Kasus Virus Corona di Beijing Kembali Meningkat
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Pupus sudah harapan warga Beijing setelah meningkatnya jumlah kasus virus corona padahal dalam 56 ha...
Program Belajar Bahasa Indonesia Untuk Siswa Australia Terancam karena COVID-19
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Larangan berpergian ke luar negeri karena pandemi virus corona telah membuat sedih warga Australia y...
Kekhawatiran Warga Indonesia yang Tinggal di  Hotspot Corona di Melbourne
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Hanya dalam kurang sepekan, penularan virus corona di negara bagian Victoria telah meningkat menjadi...
Alasan Tingginya Kematian Tenaga Kesehatan Indonesia di Tengah Pandemi Corona
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Kematian dr Anang Eka Kurniawan di Surabaya, pekan lalu (19/06) menjadi orang terakhir di keluargany...
66 Persen Orang Australia Tak Percaya Kemampuan Jokowi Tangani Masalah Global
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Meski mayoritas orang Australia menganggap Indonesia sangat penting bagi negaranya, sebanyak 66 pers...
Peningkatan Kasus Corona di Melbourne Tak Hentikan Warganya Pergi ke Sydney
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Seiring dengan meningkatnya kasus corona di negara bagian Victoria dalam sepekan terakhir, beberapa ...
Nenek Australia Tak Lagi Kesepian Setelah Punya Ribuan Follower di Instagram
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Judy Watkins adalah seorang nenek berusia 85 tahun asal kota Hobart, Tasmania, Australia yang memili...
Dunia Akan Lebih Kacau: Australia Belanja Senjata Hingga Rp2.700 Triliun
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Australia mengumumkan strategi pertahanan yang lebih agresif untuk mengantisipasi kebangkitan China....
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV