Melihat Lebih Lanjut Cara Twitter Berikan Label di Cuitan
Elshinta
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Melihat Lebih Lanjut Cara Twitter Berikan Label di Cuitan
DW.com - Melihat Lebih Lanjut Cara Twitter Berikan Label di Cuitan

Perusahaan media sosial Twitter baru-baru ini memberi pelabelan di cuitan yang dipublikasikan di platform media sosial mereka untuk memperingatkan pengguna tentang posting yang berisi informasi yang dianggap tidak benar atau tidak berdasar. Langkah itu disambut sebagian orang, sementara yang lain, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sangat marah. Apa yang berubah dari pendekatan Twitter?

Bulan Maret 2020, Twitter memutuskan bahwa mereka perlu menambahkan pesan peringatan ke tiap cuitan yang menampilkan gambar palsu atau telah diedit. Pada bulan Mei, mereka mengumumkan akan memperluas peringatan dan membuat label baru untuk tweet yang berisi informasi palsu tentang pandemi COVID-19.

Twitter lantas memberi label berdasarkan tiga kategori sebagai berikut:

1. informasi menyesatkan

2. klaim menimbulkan sengketa

3. klaim tidak dapat diverifikasi

Informasi yang menyesatkan adalah sebuah tweet yang terbukti palsu oleh para ahli di bidang yang didiskusikan. Sedangkan klaim yang disengketakan adalah cuitan yang kontennya diperdebatkan. Sementara label klaim tidak dapat diverifikasi diberikan bila kebenaran di dalam sebuah tweet tidak dapat diverifikasi.

Twitter kemudian menempatkan label peringatan tersebut di atas tweet yang diperiksa dan memberikan tautan ke laman yang telah disusun oleh Twitter atau ke "sumber eksternal terpercaya" untuk memberikan informasi tambahan. Pengguna juga perlu mengklik tautan "lihat" untuk melihat cuitan asli.

Tautan itu menyediakan informasi tambahan seputar topik yang diperbincangkan tetapi tidak secara eksplisit mengatakan apakah konten tweet itu benar atau salah seperti yang dilakukan beberapa organisasi pemeriksa fakta.

“Mungkin tidak adil jika mengatakan bahwa ini adalah label pengecekan fakta,” kata Baybars Orsek, Direktur Jaringan Pengecekan Fakta Internasional di US Poynter Institute. Jaringan Pengecekan Fakta Internasional mengadvokasi pemeriksa fakta di seluruh dunia dan menetapkan standar dalam kode prinsip pemeriksa fakta. Orsek mengatakan bahwa apa yang dilakukan Twitter lebih berupa label pemberi saran yang mendorong pengguna untuk mengecek informasi tambahan.

Siapa yang periksa tweet dan berikan informasi tambahan?

Twitter belum mengungkapkan secara pasti bagaimana proses mereka bekerja terkait pemberian label ini. Dalam sebuah posting di blog, Kepala Integritas situs Twitter dan Direktur Kebijakan Publik Global yaitu Yoel Roth dan Nick Pickles, masing-masing menuliskan bahwa Twitter tengah “memanfaatkan dan meningkatkan sistem internal untuk secara proaktif memantau konten yang terkait dengan COVID-19.” Namun sejauh ini tampaknya langkah ini masih berupa operasi internal.

"Bagi kami sangat jelas bahwa mereka tidak bekerja dengan pemeriksa fakta eksternal yang independen," kata Orsek. Tampaknya Twitter sendiri yang menyusun daftar dan sumber informasi tambahan yang diarahkan kepada para penggunanya.

Twitter juga telah memperluas peringatan ini mencakup topik lain. Pelabelan ini mencuri perhatian saat ditempatkan di salah satu cuitan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait potensi penipuan surat suara.

Sementara cuitan Trump lainnya tentang pengiriman Garda Nasional untuk menangani kerusuhan di Minneapolis telah diberi label yang mengatakan “melanggar aturan Twitter tentang menjunjung tinggi kekerasan.” Namun Twitter membiarkan cuitan itu dapat diakses dan mengatakan bahwa mereka melakukannya “demi kepentingan publik.”

Presiden Trump bukan satu-satu orang terkenal yang cuitannya diberi label oleh Twitter. Media The New York Times melaporkan bahwa salah cuitan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian, juga ditandai dengan peringatan tentang COVID-19.

Orsek mengatakan akan bermanfaat bagi Twitter untuk bekerja dengan organisasi pengecekan fakta independen.

“Sebagai seorang praktisi pengecekan fakta, saya tertarik melihat Twitter dan semua platform lain menjangkau para pemeriksa fakta, dan bekerja bersama dengan mereka untuk tindakan semacam ini,” kata Orsek.

Akan sejauh mana langkah Twitter?

Ide Twitter untuk melakukan pelabelan di sejumlah cuitan ini dianggap masih dalam tahap uji coba.

“Saya pikir adalah adil untuk mengatakan bahwa mereka sedang mengeksplorasi opsi mereka dan melakukannya dengan cara meluncurkan fitur ini secara rapid,” kata Orsek. “Jika ini akan menjadi kebijakan global, perlu lebih banyak data dan input untuk membuat keputusan. Keputusan di AS dapat memiliki hasil yang berbeda di negara lain dengan aturan hukum yang berbeda.”

Presiden Trump sangat tidak senang dengan kebijakan baru ini dan telah menandatangani perintah eksekutif yang berusaha menghapus perlindungan pencemaran nama baik dari perusahaan media sosial. Jika perintah eksekutif ini tidak ditentang dan dicabut, ini berarti Twitter dapat dituntut atas posting pengguna konten, yang mungkin mendorong perusahaan itu untuk meningkatkan peringatan yang mereka poskan.

Layanan media sosial lainnya kemungkinan tidak akan melakukan gagasan pemberian label dalam waktu dekat. CEO Facebook Mark Zuckerberg mengkritik keputusan Twitter dan mengatakan kepada media Fox News bahwa platform media sosial "seharusnya tidak menjadi penentu kebenaran dari semua yang dikatakan orang secara online." Facebook memiliki media sosial lain seperti Instagram dan WhatsApp. ae/yp



Raksasa jejaring media sosial Twitter jadi berita utama setelah beri label di cuitan sejumlah politisi termasuk Presiden AS Donald Trump. DW telusuri lebih lanjut bagaimana cara kerja Twitter terkait langkah ini.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tanya Jawab bersama Presenter Inovator
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Pria berhobi travelling ini, sebenarnya memiliki cita-cita menjadi petualang. Waktu kecil ia suka se...
Stasiun TV di Indonesia Yang Menyiarkan Inovator
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
ICTA TV - Indonesia Cable TV Association : setiap Senin dan Rabu pukul 06:00 / Jumat 14:00 / Minggu ...
Burnout: Lelah Tak Berkesudahan dan Depresi
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Burnout belakangan semakin mengancam kaum profesional perkotaan yang mendapat beban kerja tinggi. Ko...
Pecah Belah Berdesain Sederhana dan Elegan Tak Pernah Ketinggalan Zaman
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Stefanie Hering sudah mendesain berbagai perlengkapan pecah belah sejak tahun 1992. Desainnya sederh...
Ide Baru Piranti Daur Ulang Limbah Cair Rumah Tangga
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Pernakahkah kita merasa takjub terhadap kemampuan Belanda membendung laut untuk menyulap daratan? Ke...
Aktivis LGBT+ Mesir yang Pernah Ditangkap Karena Kibarkan Bendera Pelangi, Bunuh Diri
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Ketika vokalis gay dari kelompok pop Lebanon yang sangat populer naik ke panggung festival pada musi...
Hubungan Asmara: Umurnya Bisa Diduga
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Jika hubungan asmara baru berakhir, penyesalan kerap muncul, dan kadang orang berkata, "Kalau s...
Gelorakan Rasisme, Johnson & Johnson Hentikan Produksi Krim Pemutih
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Johnson & Johnson memutuskan berhenti memproduksi krim pemutih kulit di Asia dan Timur Tengah. L...
Festival Daging Anjing di Cina Kembali Digelar
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
Festival daging anjing di Cina kembali dibuka meski ada gebrakan pemerintah Cina meredam wabah coron...
UNESCO: 260 Juta Anak Tidak Punya Akses ke Pendidikan
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB
"258 juta anak-anak dan remaja sepenuhnya dikecualikan dari pendidikan, dengan kemiskinan sebag...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV