Tiga Gadis Kecil Indonesia di Jerman Menginspirasi, Tiga Perempuan Antisampah Wujudkan Donasi Buah Tampah Indonesia
Elshinta
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Tiga Gadis Kecil Indonesia di Jerman Menginspirasi, Tiga Perempuan Antisampah Wujudkan Donasi Buah Tampah Indonesia
DW.com - Tiga Gadis Kecil Indonesia di Jerman Menginspirasi, Tiga Perempuan Antisampah Wujudkan Donasi Buah Tampah Indonesia

Di suatu senja saat menikmati buah-buahan, di meja makan rumahnya di Bonn, Jerman, seperti biasa ketiga putri Lenny Martini mengobrol dengan orang tuanya. Temanya kala itu, wabah corona bukan hanya menimpa warga Jerman di mana mereka bermukim, namun juga di Indonesia.

“Kita pernah ke panti asuhan saat liburan dulu. Bagaimana nasib mereka? Bagaimana kita bisa bantu mereka? Itu kurang lebih pertanyaan-pertanyaan mereka bertubi-tubi yang kemudian menjadi inspirasi untuk membuat Donasi Buah Tampah Indonesia,“ demikian Lenny membuka kisah di balik kegiatan amal berbagi buah dan sayur ini.

Lenny yang tinggal di Kota Bonn, Jerman segera mengontak kawan-kawannya di Indonesia untuk mengajak mereka mewujudkan gagasan ini. Di antaranya, pengurus Tampah Indonesia pendiri Zero Waste Nusantara, Jeanny Primasari dan Bea Bethari pendiri Plastavfallbank.

“Di masa karantina pandemi corona seperti saat ini, barangkali kita bisa bantu dengan mengirimkan buah-buahan ke panti asuhan dan panti sosial lainnya, juga para petugas kebersihan untuk meningkatkan imunitas mereka lewat cara yang alami dan minim sampah kemasan,” tutur Lenny yang kerap geram melihat kemasan plastik makanan tak bisa didaur ulang ketika donasi sudah tersalurkan.

”Jadi dengan donasi model buah dan sayur ini, selain sampah seperti kulit, biji dan sisa sayuran bisa dijadikan pupuk, buah dan sayur itu penting buat asupan nutrisi, di mana harga vitamin suplemen sekarang tambah mahal karena banyak diburu orang untuk menghindari virus COVID-19.”

Jenis makanan lain yang disumbangkan adalah ubi. Menurut pendiri Zero Waste Nusantara, Jeanny Primasari yang menjadi kolaborator Donasi Buah Tampah Indonesia, ubi merupakan sumber karbohidrat yang juga bisa menjadi makanan utama atau staple food. “Makanan utama (staple food) kita sebenarnya bukan hanya beras seperti yang lazim dibagikan dalam program-program pembagian sembako. Ubi juga adalah staple food yang bisa disalurkan dengan pengemasan yang lebih minim sampah,“ tandasnya.

Siapa saja penerima manfaat donasi buah?

Donasi Buah tampah Indonesia disebar ke panti-panti di berbagai kota, di antaranya: Bandung, Makassar, Malang, Bogor, Medan, Tangerang, Semarang, Solo dan Aceh. Ribuan orang di puluhan panti-panti sosial termasuk panti asuhan, rumah singgah, panti difabel, panti jompo sudah menerima manfaatnya.

Lenny menambahkan, selain ke panti sosial, program ini juga menyalurkan buah-buahan kepada petugas kebersihan. “Di Bandung, bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi YPBB. Selanjutnya kami bekerjasama dengan puluhan organisasi lingkungan lain untuk membagikan bantuan bagi petugas kebersihan di 15 wilayah di Indonesia.”

Membantu pedagang buah lokal, mengkampanyekan menstrual pad

Bukan hanya para warga panti dan petugas kebersihan yang terbantu dengan kegiatan amal ini, melainkan juga pedagang buah lokal. Bea Bethari pendiri Plastavfallbank yang ikut berjuang dalam aksi Donasi Buah Tampah Indonesia lewat sosialiasinya di media sosial mengungkapkan, dalam masa wabah corona, kondisinya berat bagi banyak orang, “Apalagi diperparah dengan harga vitamin yang mahal. Jadi lebih baik dapat vitamin alami langsung dari buah. Lebih sehat, murah, alami dan membantu pedagang-pedagang dan produk lokal.“ Jeanny menambahkan, bahkan pemasok buah seringkali ikut menambahkan produk donasinya.

Selain buah, sayur, umbi-umbian, beberapa panti juga menerima donasi menstrual pad atau pembalut kain untuk haid. Pengunaan menstrual pad masih perlu sosialisasi di Indonesia karena belum banyak pemakainya meskipun sudah makin popular. Menurut Jeanny, pembalut kain yang ramah lingkungan ini cocok dengan kondisi panti terutama di masa pandemi. “Menstrual pad dipakai berulang kali, sehingga meminimalkan produksi sampah. Menstrual pad juga lebih hemat, sehingga di masa pandemi dan penurunan ekonomi ini menjadi pilihan yang bijak. Selain itu, penggunaan pembalut kain juga mengurangi keharusan untuk keluar rumah membeli pembalut di masa social distancing saat ini,” tandas Jeanny.

Program berkelanjutan: mencari kakak buah

Ketiga aktivis perempuan yang bergabung dalam Donasi Buah tampah Indonesia ini sadar bahwa konsumsi makanan bergizi perlu berkelanjutan. Jeanny memaparkan, meski wabah corona nanti mereda, mereka ingin program ini menjadi rutin, “Kami berharap setiap panti tetap terlayani dengan donasi buah, paling tidak misalnya satu kali per bulan.”

Lenny menambahkan, beberapa donatur sudah menyatakan keinginannya untuk berdonasi secara rutin. “Kami mencari kandidat kakak buah lewat program Fruit Eat Forward. Para kakak buah ini bisa dari sekolah-sekolah menengah atas yang membantu mensuplai buah-buahan ke panti-panti sosial. Karena kan donasi tidak melulu harus berupa uang, dan lewat program ini juga bisa membuat anak-anak jadi lebih gemar makan buah ketimbang jajanan kemasan,” pungkas Lenny sambil kembali mengupas buah-buahan untuk cemilan putri-putrinya.




Tiga gadis kecil Indonesia di Jerman menginspirasi ide, tiga perempuan antisampah mewujudkan gagasannya, puluhan orang jadi relawan dan ribuan orang menikmati manfaatnya dalam bentuk: Donasi Buah Tampah Indonesia.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Larangan Penyembelihan Tanpa Pembiusan, Ancaman Bagi Kebebasan Beragama di Eropa
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Hari Rabu (8/7) para hakim Mahkamah Eropa di Luxembourg membahas salah satu elemen utama identitas E...
Setengah Tahun Virus Corona, Apa yang Sejauh Ini Diketahui
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Setengah tahun lalu, di paruhan kedua bulan Januari, pemerintah Cina untuk pertama kalinya mengumumk...
Wabah Sampar yang Terlupakan tapi Belum Musnah
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Cina melaporkan satu kasus penyakit sampar pada seorang pemburu di kawasan Mongolia Dalam di provins...
Australia Tawarkan Perpanjangan Visa dan Perlindungan Bagi Warga Hong Kong
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada hari Kamis (09/07) mengatakan pemerintahnya akan mempe...
Dewan Keamanan PBB Tolak Rancangan Rusia Untuk Bantuan Kemanusiaan Suriah
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Anggota Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu (9/7) menolak rancangan resolusi Rusia soal koridor bantua...
John Bolton: Trump Gagal ‘Menghargai‘ Sepenuhnya Kepresidenan AS
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Empat bulan sebelum pemilihan presiden AS, sejumlah survei menunjukkan Donald Trump sedang mengalami...
Bisakah India Ciptakan Vaksin yang Siap Pakai Bulan Agustus?
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Pekan lalu, Direktur Dewan Penelitian Medis India (ICMR), Balram Bhargava, memerintahkan 12 rumah sa...
Boeing 747 Pensiun? Selamat Tinggal Jumbo Jet Pertama di Dunia
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:49 WIB
Boeing akan mengakhiri produksi pesawat dua tingkat 747 setelah 50 tahun beroperasi. Lebih dari 1.50...
Vaksin HIV/AIDS yang Efektif Melindungi Tidak Akan Ada?
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Mengapa hingga kini vaksin HIV belum ditemukan? Padahal para ahli sudah menemukan virus penyebab men...
AS Secara Resmi Umumkan Keluar dari WHO di Tengah Pandemi
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Amerika Serikat (AS) secara resmi memberi tahu Sekretaris Jenderal PBB tentang penarikan negaranya d...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV