Israel Lacak Ponsel Warganya untuk Lacak Siapa yang Mungkin Terpapar Virus Corona
Elshinta
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:16 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Israel Lacak Ponsel Warganya untuk Lacak Siapa yang Mungkin Terpapar Virus Corona
VOA Indonesia - Israel Lacak Ponsel Warganya untuk Lacak Siapa yang Mungkin Terpapar Virus Corona
Badan Keamanan Dalam Negeri Israel, yang dikenal dengan Shin Bet dalam dua bulan terakhir, melacak ponsel setiap orang untuk mengamati siapa yang kemungkinan telah berhubungan dengan pasien virus corona. Meskipun beberapa kelompok HAM telah mengajukan keprihatinan dengan privasi, sebagian besar warga Israel mendukung langkah-langkah tersebut, dan pengadilan tertinggi negara itu memutuskan untuk memastikan langkah-langkah itu tidak permanen. Polisi mendatangi tiap rumah di Israel, untuk memastikan setiap orang yang telah berhubungan dengan pasien COVID-19 berada dalam status isolasi di rumah. Mereka mendapat informasi itu dari pelacakan ponsel, sebuah teknologi yang dikembangkan untuk melawan terorisme. Juru bicara Kepolisian Nasional Israel, Micky Rosenfeld mengatakan, "Setelah keputusan pemerintah tentang penggunaan lebih banyak alat untuk mencari individu itu, kami sekarang akan menggunakan kemampuan melacak individu lewat ponsel mereka, yang pada kenyataannya hanya digunakan dalam beberapa tahun terakhir di Israe, ketika kami berurusan dengan terorisme, dalam upaya mencari teroris yang sedang dalam perjalanan melakukan serangan. Tetapi jika perlu, kami juga akan menggunakan alat itu." Para pakar keamanan Israel mengatakan, mereka menyadari kekhawatiran yang wajar tentang privasi itu, tetapi virus corona merupakan situasi darurat nasional. Selain operasi polisi dan Shin Bet, Menteri Pertahanan Israel yang mengundurkan diri, Naftali Bennett mengajukan rencana pelacakan komprehensif yang melibatkan perusahaan swasta Israel NSO, yang telah dituntut Amnesty International dan layanan pesan WhatsApp, atas pelanggaran HAM dan privasi. Namun rencana itu ditolak oleh komite keamanan Parlemen. Kelompok-kelompok hak-hak sipil menantang langkah-langkah darurat itu di Mahkamah Agung, yang memerintahkan Shin Bet menghentikan operasinya pada akhir Mei, kecuali jika disetujui oleh Parlemen. Para pejabat pemerintah mengklaim tindak pengawasan itu membantu mereka menemukan sekitar 5.500 orang yang tertular virus corona dan menempatkan mereka dalam isolasi. Tehila Schwartz Altshuler, dari Institut Demokrasi Israel mengatakan, "Pengawasan memang buruk dari segi kebijakan umum, tetapi lebih buruk lagi jika dilakukan oleh Agen Rahasia. Dan alasan untuk itu adalah pengawasan dan transparansi. Kami ingin memastikan bahwa hanya data yang sangat penting dikumpulkan. Kami memastikan orang yang tidak diawasi dan tidak punya wewenang tidak memiliki akses ke data itu. Kami ingin memastikan bahwa semua data itu akan dihapus setelah pandemi corona berakhir." Warga Israel keturunan Arab sangat khawatir bahwa informasi yang dikumpulkan itu dapat digunakan untuk mendiskriminasi komunitas mereka. Dan ketika ancaman virus corona mereda, setidaknya sekarang ini, sebagian orang di Israel mengatakan sudah waktunya untuk berhenti menggunakan pengawasan terhadap warga Israel dan mengembalikan perannya untuk memerangi terorisme. [ps/jm]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jepang Tegaskan Olimpiade Tokyo Tetap Berlangsung Tahun 2021
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Seorang juru bicara Olimpiade Tokyo, Kamis (9/7), mengatakan, pesta olahraga akbar yang tertunda itu...
YouTube Tak Perlu Ungkap Data Lengkap Tersangka Pencuri Hak Kekayaan Intelektual
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Pengadilan tertinggi Uni Eropa, Kamis (9/7), memutuskan bahwa platform-platform online tidak perlu m...
Delegasi Militer AS Disambut Tes Corona di Thailand
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Delegasi Angkatan Darat AS, yang dipimpin Ketua Gabungan Kepala-kepala Staf Militer AS, Jenderal Jam...
Wali Kota Seoul Hilang Setelah Tinggalkan ‘Surat Wasiat’
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Anjing polisi dan drone dikerahkan untuk mencari wali kota Seoul, kota terbesar di Korea Selatan, ha...
Jerman Anggap Ekstremis Sayap Kanan sebagai Ancaman Keamanan Tertinggi
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Menteri Dalam Negeri Jerman mengatakan hari Kamis (9/7) bahwa ekstremisme sayap kanan merupakan anca...
Pengungsi Rohingya Tak Diizinkan Tinggalkan Pulau Kecuali Kembali ke Myanmar
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Lebih dari 300 pengungsi Rohingya tidak akan diizinkan meninggalkan pulau di Teluk Bengala kecuali m...
Langgar HAM di Xinjiang, 3 Pejabat Partai Komunis China Terkena Sanksi AS
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Pemerintah Amerika hari Kamis (9/7) memberlakukan sanksi terhadap tiga pejabat senior Partai Komunis...
WHO Bentuk Panel Independen untuk Evaluasi Respons Covid-19
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Kamis (9/7) menunjuk mantan Perdana Menteri Selandia Baru Helen Cla...
Pemprov Jabar Irit Bicara Soal Kluster Secapa AD
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Pemprov Jawa Barat tidak berkomentar banyak soal klaster baru penularan COVID-19 di Sekolah Calon Pe...
Pentagon: AS Tak Tahu Apakah Rusia Mengarahkan Serangan Taliban di Afghanistan
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Amerika Serikat percaya Rusia, di masa lalu memberikan dukungan kepada gerilyawan Taliban di Afghan...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV