Australia Punya Momen Seperti George Floyd, Tapi Tak Memicu Kecaman Luas
Elshinta
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Australia Punya Momen Seperti George Floyd, Tapi Tak Memicu Kecaman Luas
ABC.net.au - Australia Punya Momen Seperti George Floyd, Tapi Tak Memicu Kecaman Luas

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Kesedihan mendalam yang dirasakan akibat kematian George Floyd di Amerika Serikat sudah sangat dipahami oleh masyarakat Aborigin di Australia. Bedanya, di sini mereka masih terus menunggu momentum untuk mendapatkan perhatian internasional.

Respon terhadap tewasnya warga kulit hitam di tangan polisi kulit putih di Amerika Serikat, sedemikian besar hingga ribuan orang turun ke jalan-jalan di berbagai kota.

Bahkan lebih dari itu, kecaman luas atas kematian Floyd telah disuarakan oleh jutaan pengguna media sosial (medsos) di seluruh dunia.

Bagi kebanyakan orang, hal ini terasa seperti momen penyadaran dan perjuangan. Namun bagi penduduk asli di Australia yang mengalami isu serupa, justru terasa pahit karena tidak mendapatkan perhatian dunia internasional.

Sudah lebih dari 30 tahun sejak Australia mulai menangani masalah kematian penduduk asli dalam tahanan. Namun isu ini jarang sekali mendapatkan perhatian sosial atau politik.

Di tahun 1987, pernah dibentuk Komisi Khusus Penyelidikan Kematian Orang Aborigin Dalam Tahanan. Banyak rekomendasi yang ditelurkan, tapi tidak diimplementasikan.

Sejak itu, diperkirakan sudah ratusan penduduk asli yang tewas dalam tahanan.

Di saat warga Australia turut mengecam kematian George Floyd di medsos, banyak warga Aborigin bertanya dimana kalian ketika keluarga saya mengalami hal yang sama?

Apakah orang Australia kurang berempati atas kematian warganya sendiri dalam tahanan? Atau pengaruh Amerika begitu kuat sehingga kita semua memahami lebih baik perjuangan rasial di sana daripada perjuangan kita sendiri?

Kekuatan jumlah

Sebagai jurnalis saya meliput banyak aksi protes terhadap tewasnya penduduk asli dalam tahanan di Australia. Aksi-aksi demo ini mulai dari yang hanya diikuti belasan hingga ratusan orang.

Tapi saya belum pernah melihat aksi seperti apa yang terjadi di Amerika Serikat saat ini.

Salah satu alasannya yaitu jumlah populasi Australia yang relatif kecil. Populasi warga AS keturunan Afrika sekitar 43 juta orang, sementara populasi penduduk asli Australia hanya 800.000 orang.

Tapi ada alasan yang lebih mendasar. Dalam beberapa hal, kriminalisasi terhadap warga kulit hitam di Australia bahkan lebih parah daripada di AS.

Di Australia, tak ada musik, film, atau acara TV yang menyuarakan hal ini secara teratur.

Di AS, warga keturunan Afrika merupakan 14 persen dari populasi, dan sekitar 30 persen dari seluruh narapidana.

Penduduk asli Australia hanya 3 persen dari populasi namun mencapai 30 persen dari seluruh napi.

Persentase tahanan penduduk asli Australia empat kali lebih besar daripada tahanan kulit hitam di AS. Di kalangan tahanan berusia muda di Australia, 50 persen merupakan penduduk asli.

Ini perbandingan yang kasar saja namun bisa menggambarkan seperti apa sistem peradilan di Australia.

Saya tak bisa bernafas

Salah satu kasus di Australia yang memiliki kemiripan dengan kasus George Floyd adalah tewasnya David Dungay dalam penjara di Sydney pada 2015.

Pria dari suku Dunghutti ini juga tewas ketika ditahan secara fisik oleh aparat. Ia pun berkali-kali sempat berucap, "Saya tak bisa bernapas."

Saya ingat protes yang disampaikan keluarga David Dungay di Sydney. Sekitar 50 orang turun ke jalan, tapi nyaris tidak ada media yang meliput.

Padahal kejadiannya tak berselang lama setelah puluhan ribu orang melakukan aksi demo menentang Hari Australia dan perubahan iklim. Hanya berjarak beberapa blok dari sana.

Sampai sekarang pun tak ada petugas yang didakwa atas kematian Dungay.

Protes terbesar soal kematian dalam tahanan di Australia saya saksikan tahun lalu di Alice Springs.

Seorang remaja dari suku Walpiri, Kumanjayi Walker (19), tewas di rumahnya setelah diduga ditembak oleh seorang polisi kulit. Kejadian ini berlangsung di Yuendumu, suatu komunitas terpencil yang dihuni sekitar 1000 orang.

Dalam aksi protes itu, ratusan orang melakukan perjalanan berjam-jam dari rumah mereka di kawasan tengah Australia dan menduduki alun-alun kota Alice Springs.

Unjuk rasa di Alice Springs Video: Unjuk rasa di Alice Springs (ABC News)

Ada kerumitan lain bagi masyarakat pribumi seperti ini, sebab Bahasa Inggris bukanlah bahasa utama mereka. Menentukan siapa yang tampil bicara juga harus melalui protokol budaya setempat.

Saya menemui seorang ibu yang menggendong bayinya dan mengaku sangat khawatir bila nanti anaknya itu akan berakhir di peti mati dengan luka tembak di tubuhnya.

Aparat polisi yang diduga menembak Walker telah didakwa dengan tuduhan pembunuhan.

Sampai sekarang kasus ini belum juga di sidangkan, namun akan menjadi satu dari sedikit kasus kematian orang Aborigin yang dibawa ke pengadilan.

Setelah oknum aparat itu ditangkap, hanya ada beberapa peringatan dukacita bagi Walker.

Pengaruh selebriti

Amerika merupakan negeri para selebriti dengan pengaruh besar budaya pop dunia. Meskipun mungkin tidak merata, namun warga keturunan Afrika juga memiliki akses ke "corong internasional" ini.

Mulai dari Barack Obama, Beyonce, Michael Jordan, Kanye West, hingga Oprah Winfrey. Nama-nama besar semacam itu yang mengajarkan dunia betapa warga keturunan Afrika di sana patut disegani.

Sejak beberapa dekade, musik rap dan hip-hop telah menyuarakan tantangan yang dialami orang kulit hitam di Amerika. Mulai dari hak istimewa orang kulit putih, ketidakseimbangan kekuasaan, ketidakadilan, hingga sistem peradilan.

Dari Tupac dengan lirik lagunya, "Hampir tak bisa berjalan di kota tanpa dilecehkan dan digeledah polisi", hingga Kendrick Lamar dengan, "Kami benci po-po, ingin membunuh kami di jalan-jalan..."

Australia sebenarnya juga memiliki selebriti pribumi, mulai dari bintang olahraga, musisi, aktor, penulis, dan sejumlah politisi. Namun mereka tidaklah sebanding dengan para influencer kulit hitam di Amerika.

Pesan-pesan para pesohor bisa menjadi semacam kitab suci dalam dunia yang serba terhubung saat ini.

Mereka berbicara dalam bahasa yang dipahami orang, dengan pengaruhnya mereka memberi tahu betapa kematian George Floyd tidak bisa dibenarkan dan orang harus bicara. Warga Australia pun melakukannya.

Tak tampak

Di Australia, kejadian serupa biasanya terjadi di tempat terpencil, asing bagi sebagian besar warga. Sebaliknya, kebanyakan penembakan terhadap orang kulit hitam terjadi di kota-kota besar Amerika.

Apakah pemahaman orang Australia mengenai kerusuhan di Pulau Palm pada tahun 2004 akan lebih jelas jika itu terjadi di kota besar?

Seorang pria Aborigin tewas dalam tahanan, memicu kerusuhan besar di sana. Apalagi, aparat yang melakukannya dibebaskan dari tuduhan pembunuhan.

12 tahun kemudian dalam kasus perdata, Pengadilan Federal memutuskan bahwa tindakan polisi tersebut merupakan tindakan rasis.

Bila kejadiannya di wilayah terpencil, sulit untuk mendapatkan perhatian. Beda jika terjadi di wilayah perkotaan yang ramai dengan kehadiran media dan pengawasan publik.

Sebagai reporter di pedalaman, saya ingat beberapa tahun lalu ada kerusuhan di daerah Woorabinda, suatu komunitas yang dihuni 900-an orang di Queensland tengah.

Seorang wanita pribumi yang sedang hamil menuduh polisi menarik dan menjatuhkan dia ke tanah saat diperiksa soal sabuk pengaman.

Warga kota pun geram dengan tindakan polisi tersebut, sehingga memicu huru-hara selama beberapa hari. Ada beberapa laporan mengenai peristiwa ini namun umumnya tidak mendapatkan perhatian luas.

Insiden itu pernah diselidiki oleh Komisi Kejahatan dan Korupsi di Queensland, namn hingga kini belum ada tindak lanjutnya.

Jika terjadi di luar perhatian sebagian besar warga Australia, di luar jangkauan media sosial, akan mudah terabaikan.

Tapi Amerika bisa memberi pelajaran bahwa dibutuhkan lebih dari aktivisme medsos, meme rasisme dan aksi demo untuk bisa menumbangkan rasisme institusional.

Amerika mungkin mendapatkan perhatian dunia, para pesohor dan selebriti, bahkan dari presiden kulit hitam pertama di sana. Namun seperti di Australia, masalah ketidakadilan di sana mash berlanjut.

Diterjemahkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kisah Seorang Pengungsi Rohingya yang Melarikan Diri dari Indonesia
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Sudah beberapa hari terakhir ratusan aktivis tampak berkumpul di depan sebuah hotel di Kota Brisbane...
Setelah Pandemi Corona Banyak yang Ingin Gabungkan Kerja Dari Rumah dan Kantor
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Di awal tahun 2020, tidak banyak yang membicarakan apakah rumah bisa menjadi tempat kerja. Survei...
Saya Takut: Jumlah Kasus Virus Corona di Beijing Kembali Meningkat
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Pupus sudah harapan warga Beijing setelah meningkatnya jumlah kasus virus corona padahal dalam 56 ha...
Program Belajar Bahasa Indonesia Untuk Siswa Australia Terancam karena COVID-19
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Larangan berpergian ke luar negeri karena pandemi virus corona telah membuat sedih warga Australia y...
Kekhawatiran Warga Indonesia yang Tinggal di  Hotspot Corona di Melbourne
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Hanya dalam kurang sepekan, penularan virus corona di negara bagian Victoria telah meningkat menjadi...
Alasan Tingginya Kematian Tenaga Kesehatan Indonesia di Tengah Pandemi Corona
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Kematian dr Anang Eka Kurniawan di Surabaya, pekan lalu (19/06) menjadi orang terakhir di keluargany...
66 Persen Orang Australia Tak Percaya Kemampuan Jokowi Tangani Masalah Global
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Meski mayoritas orang Australia menganggap Indonesia sangat penting bagi negaranya, sebanyak 66 pers...
Peningkatan Kasus Corona di Melbourne Tak Hentikan Warganya Pergi ke Sydney
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Seiring dengan meningkatnya kasus corona di negara bagian Victoria dalam sepekan terakhir, beberapa ...
Nenek Australia Tak Lagi Kesepian Setelah Punya Ribuan Follower di Instagram
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Judy Watkins adalah seorang nenek berusia 85 tahun asal kota Hobart, Tasmania, Australia yang memili...
Dunia Akan Lebih Kacau: Australia Belanja Senjata Hingga Rp2.700 Triliun
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB
Australia mengumumkan strategi pertahanan yang lebih agresif untuk mengantisipasi kebangkitan China....
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV