Lega Tapi Khawatir: Pergi ke Melbourne Dari Jakarta di Tengah Pandemi
Elshinta
Jumat, 05 Juni 2020 - 04:54 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Lega Tapi Khawatir: Pergi ke Melbourne Dari Jakarta di Tengah Pandemi
ABC.net.au - Lega Tapi Khawatir: Pergi ke Melbourne Dari Jakarta di Tengah Pandemi

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Perbatasan Australia masih ditutup dan hanya warga Australia, penduduk tetap atau permanent resident (PR), beserta anggota keluarga dekatnya yang bisa datang ke Australia.

Rika Shears, asal Jawa Barat, dan suaminya Thomas Shears dari negara bagian Victoria memutuskan pulang ke Australia pada akhir pekan lalu.

Sejak awal pandemi virus corona Pemerintah Australia sudah melarang warga asing masuk ke negaranya, dan sebaliknya mengimbau warganya yang masih ada di luar negeri untuk pulang.

Tak mau dipisahkan dari Thomas, Rika memilih ikut suaminya untuk pulang ke Victoria, negara bagian dengan ibu kota Melbourne.

Setelah tiba dengan selamat di Australia dan kini sedang menjalani karantina di salah satu hotel, Rika dan Thomas menceritakan pengalaman seru mereka berangkat dari Bandung.

Kebingungan menuju Jakarta

Rika mengaku, perjalanan dari Bandung ke Jakarta adalah bagian yang "paling ribet" dari semua rangkaian perjalanan ke Australia di tengah pandemi virus corona.

"Karena ada aturan PSBB yang aturannya berubah-ubah terus," kata Rika saat dihubungi lewat telepon oleh Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Salah satu yang membuat keduanya "stress" sebelum berangkat adalah aturan soal Surat Izin Keluar Masuk DKI Jakarta.

"Aturannya memang tertulis jelas, bahkan ada website-nya, tapi tidak jelas bagi mereka yang ingin melintasi DKI Jakarta," jelas Rika.

Sebelum berangkat sudah beberapa kali Rika mencoba menghubungi call centre tetapi nomor tersebut tidak aktif, belum lagi situsnya juga down atau tidak bisa diakses.

Berangkat dari Bandung dengan menggunakan shuttle bus menuju bandara udara Soekarno Hatta di Tangerang, Rika mengaku melewati dua titik pemeriksaan di Karawang dan Bekasi.

"Ada perasaan deg-deg-an karena kami tidak bisa mendapat surat itu, takut kalau disuruh putar balik ke Bandung," jelasnya.

Namun, karena mereka memilih menggunakan shuttle bus jalur yang mereka lewati berbeda dengan lokasi titik pemeriksaan.

Kabin yang kosong

Tiba di bandara Soekarno-Hatta, Rika dan Thomas mengaku mengatakan melihat pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Sepi banget, tapi serem sepinya, enggak ada siapa-siapa," kata Thomas Shears yang fasih berbahasa Indonesia kepada ABC.

Ia menjelaskan tiket pesawat tujuan Melbourne masih tersedia, meski dengan frekuensi terbang hanya sekali seminggu.

"Booking gampang, cuma mahal saja," jelasnya, "sekali jalan itu sekitar Rp 7,5 juta … bukan return [pulang pergi] karena tidak boleh".

Ketika masuk ke dalam pesawat, keduanya mengatakan "rasanya luar biasa", karena jalur ke Melbourne sebelumnya selalu ramai oleh penumpang.

"Rasanya juga lebih aman … karena pesawatnya kosong, tidak harus duduk samping orang lain," ujar Thomas.

Di kabin mereka hanya ada tiga orang dari total penumpang yang terbang saat itu berjumlah kurang dari 20 orang.

Sejak mendarat, pasangan Shears beserta penumpang lainnya sudah diberitahu jika mereka harus menjalani karantina wajib selama 14 hari.

Proses menuju imigrasi diakui oleh keduanya berjalan lancar, termasuk saat pengambilan barang-barang.

"Semuanya proses cepat banget dan semuanya profesional banget," kata Thomas.

"Mulai turun pesawat disambut orang Department of Health, ada perawat banyak, mereka memastikan penumpang tidak ada gejala COVID-19," tambahnya.

Usai melewati semua proses keluar bandara udara, mereka dibawa menuju bis Skybus untuk dibawa ke hotel tempat mereka akan dikarantina, yang lokasinya tidak jauh dari bandara.

Anda bisa menonton rekaman video Ngobrol Bareng Soal Virus Corona Dari Australia di Facebook ABC Indonesia.

Biaya karantina ditanggung pemerintah

Di negara bagian Victoria, biaya karantina bagi mereka yang pulang ke Australia ditanggung oleh pemerintah.

Tidak hanya kamar hotel, tapi juga makanan, seperti yang diceritakan oleh Thomas.

"Makanan tiga kali sehari diantar ke kamar," jelas Thomas, yang juga mengatakan mereka bisa memilih makanan sesuai kebutuhannya.

Sebagai Muslim mereka hanya memilih makanan yang halal dan tambahan bagi Rika yang hanya mengkonsumsi daging ayam saja.

Mereka menjelaskan selama karantina mereka tidak boleh keluar kamar, kecuali diminta atau diberikan kesempatan untuk keluar.

"Misalnya hari ini kita boleh keluar untuk berjalan kaki di tempat parkir bandara selama 25 menit tapi itu pun dijaga oleh delapan orang," jelas Rika.

Mereka juga tidak bisa bermain-main dengan aturan karantina, karena bisa mendapat ancaman denda hingga AU$20.000, atau hampir Rp200 juta.

"Di lantai kami ada yang menjaga di depan pintu, 24 jam secara bergantian, mereka adalah private security [bukan polisi]," kata Tom.

Pasangan Shears mengatakan fasilitas yang disediakan lainnya adalah tes virus corona gratis dengan metode swab yang dilakukan di hari ketiga dan hari kesebelas.

Dari perhitungan mereka, diperkirakan biaya yang ditanggung oleh pemerintah untuk mereka berdua selama karantina bisa mencapai AU$6.000 atau lebih dari Rp60 juta.

"Kami juga ditelepon ke kamar setiap hari untuk ditanya kondisi kesehatan, jika ada kebutuhan atau makanan yang kurang," jelas Rika.

Sebelum ke Melbourne, pasangan Shears mengaku sudah menjalani isolasi mandiri selama tiga bulan dengan diam di rumah mereka di Bandung.

"Jadi ini sama saja seperti di rumah, bedanya kami dilayani … justru lebih baik daripada isolasi mandiri di rumah," kata Rika.

Keduanya kini mengaku lega karena sudah berada di Melbourne dengan selamat, meski harus menjalani karantina sebelum bertemu keluarga Thomas.

"Lega namun tetap khawatir dengan keluarga saya yang berada di Indonesia, mengingat masih tingginya kasus disana," ujar Rika.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Universitas di Sydney Dikritik Setelah Menghapus Unggahan Twitter Soal China
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
University of New South Wales (UNSW) menerima kritik setelah menghapus unggahan di Twitter yang bern...
Wabah Corona Ditemukan Kembali di Dua Kapal Pesiar Setelah Kembali Beroperasi
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Salah satu industri yang banyak mempekerjakan warga Indonesia di luar negeri adalah industri kapal p...
Kehidupan Warga Indonesia Menjalani Lockdown Lebih Ketat di Melbourne
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kawasan metropolitan Melbourne memberlakukan aturan pembatasan yang lebih ketat untuk menekan angka ...
Separah Apa Penularan di Melbourne Sampai Ada Lockdown Ketat dan Denda Besar?
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Premier Daniel Andrews yang memimpin pemerintahan di negara bagian Victoria telah mengumumkan denda ...
Kekuatan Ledakan di Beirut Setara Dengan Gempa  3,5 SR, Satu WNI Terluka
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Ledakan berkekuatan besar mengguncang pusat kota Beirut yang hingga laporan ini diturunkan telah men...
Sejumlah Warga di Indonesia Berbagi Internet Bagi Murid Tak Mampu Beli Kuota
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Sejumlah guru dan orang tua murid menghadapi kendala saat sedang beradaptasi dengan penerapan metode...
Hanya Makan Bubur dan Bawang Bombay: ABK Indonesia Dilarungkan Lagi Ke Laut
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kasus Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang meninggal dunia di atas kapal berbendera Cina kemudi...
Kaka Belajar Masak: Orangtua Asal Indonesia dengan Anak Autisme Jalani Lockdown di Melbourne
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Aturan pembatasan pergerakan tahap keempat di Melbourne telah mengubah rutinitas anak-anak berkebutu...
Satu WNI Pekerja di Spa Diantara Empat Ribu Orang Terluka Dalam Ledakan di Lebanon
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah mengonfirmasi satu warga negara Indonesia menjadi k...
Universitas Terkaya di Australia Membayar Pegawainya di Bawah Standar Gaji
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Perguruan tinggi terkaya di Australia, University of Melbourne, diam-diam telah membayarkan kembali ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV