Australia Tak Tunduk Pada China: Warga China Sendiri yang Putuskan Datang
Elshinta
Selasa, 16 Juni 2020 - 05:14 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Australia Tak Tunduk Pada China: Warga China Sendiri yang Putuskan Datang
ABC.net.au - Australia Tak Tunduk Pada China: Warga China Sendiri yang Putuskan Datang

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada ancaman yang dilontarkan China terkait perdagangan, pariwisata dan pendidikan.

Ketegangan diplomatik kedua negara kian memanas setelah Australia mendesak digelarnya penyelidikan mengenai asal-usul penyebaran virus corona, yang mendapat kecaman keras dari China.

Organisasi World Health Assembly bulan lalu telah menyetujui penyelidikan independen atas pandemi COVID-19 setelah mendapat lobi dari Australia dan Uni Eropa.

China berada di bawah tekanan internasional terkait penyelidikan asal-usul penyebaran virus corona, namun tampaknya telah mengambil langkah-langkah untuk "menghukum" Australia yang memulai usulan tersebut.

Pemerintah Australia kembali harus merespon ancaman China pekan lalu, yang menyarankan mahasiswanya mempertimbangkan kembali untuk kuliah di Australia karena tidak aman akibat meningkatnya serangan rasis.

Video dua mahasiswa internasional di Melbourne mendapat serangan fisik dan verbal. Video: Video dua mahasiswa internasional di Melbourne mendapat serangan fisik dan verbal. (ABC News)

China sebelumnya telah mengenakan tarif impor untuk gandum Australia, melarang impor daging sapi dari sejumlah rumah potong hewan, serta melarang turis ke Australia.

Menanggapi hal ini, PM Morrison pekan lalu menegaskan, pihaknya tidak akan tunduk atau terintimidasi oleh negara lain.

"Kita negara perdagangan terbuka, kawan. Tapi saya tak akan pernah mengorbankan nilai-nilai kita dalam menanggapi tekanan dari siapa pun," ujar PM Morrison kepada stasiun radio 2GB.

Ia menambahkan, terserah pada mahasiswa China sendiri untuk memutuskan datang kuliah ke Australia atau tidak.

"Australia menawarkan produk pendidikan dan pariwisata terbaik di dunia," katanya.

"Kemampuan warga China untuk memilih datang ke Australia selama ini merupakan keputusan mereka sendiri," kata PM Morrison.

Menanggapi alasan China yang menuding Australia tak aman bagi turis dan mahasiswa asal China, PM Morrison menyebut alasan itu sebagai "sampah".

"Itu penilaian konyol dan terbantahkan. Pernyataan itu bukan berasal dari pemimpin China," ujarnya dalam wawancara terpisah dengan stasiun radio 3AW.

Menurut dia, kekhawatiran yang dilontarkan oleh pemerintah China terkait keamanan warganya di Australia adalah urusan pemerintah China sendiri.

"Kami tak melakukan kesalahan apa-apa, tidak bertindak yang menyaalahi nilai-nilai kami, atau melakukan sesuatu yang merusukan kemitraan kami dengan China," ujarnya.

Juru bicara urusan pendidikan dari pihak oposisi Australia, Tanya Plibersek menyatakan Australia menawarkan sistem pendidikan tinggi terbaik di dunia dan pihaknya menunggu para mahasiswa China kembali memulai kuliah mereka di sini.

Departemen Luar Negeri Australia secara terpisah menyatakan telah melayangkan protes resmi ke Departemen Luar Negeri China di Beijing serta Kedutaan Besar mereka di Canberra terkait peringatan perjalanan bagi turis dan mahasiswa China tersebut.

China merupakan mitra dagang terbesar Australia dengan nilai perdagangan kedua negara mencapai AU$235 miliar per tahun.

China minta Australia atasi rasisme

Menanggapi perkembangan hubungan kedua negara, juru bicara Deplu China, Hua Chunying menuding Australia "takut dan tak mau" mengatasi masalah rasisme yang dihadapinya.

Ia mempertanyakan bagaimana bisa PM Morrison begitu percaya diri menawarkan pariwisata dan layanan pendidikan bagi mahasiswa asing bila terjadi banyak serangan rasis dan diskriminatif.

"Kami menyarankan agar Australia mengatasi masalahnya, coba merenung dan mengambil langkah nyata untuk melindungi keamanan, hak dan kepentingan warga China di Australia," ujar Hua.

Hua dalam kesempatan itu mengesampingkan penelitian tim Harvard dan Boston University atas data satelit yang menunjukkan penyebaran virus corona dari rumah sakit di Wuhan terjadi lebih awal daripada yang dilaporkan Pemerintah China.

Laporan penelitian yang belum melalui proses peer-review ini menganalisis foto-foto tempat parkir rumah sakit di Wuhan serta trend yang ditunjukkan mesin pencari elektronik Baidu.

Tim peneliti yang dipimpin Elaine Nsoesie dari Boston University menemukan adanya "peningkatan tajam" sejak Agustus 2019 soal volume kegiatan di area parkir rumah sakit di Wuhan dan "mencapai puncaknya" pada Desember 2019.

Hua menyebut penelitian ini "konyol" dan sangat lemah secara ilmiah.

"Ini bukti bahwa ada sebagian orang di AS yang dengan sengaja menyebarkan disinformasi tentang China dan harus dikecam oleh masyarakat internasional," katanya.

Pemerintah China bersikukuh jika kasus pertama COVID-19 ditemukan di Wuhan pada bulan Desember 2019 dan sekuensi genetika virus tersebut telah dikirim ke WHO pada awal Januari 2020.

Imperial College London, bekerjasama dengan WHO, menyatakan telah melacak jejak virus ini, dan memperkirakan mulai muncul di China pada 5 Desember 2019.

Ikuti informasi terkini dari Australia di ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Universitas di Sydney Dikritik Setelah Menghapus Unggahan Twitter Soal China
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
University of New South Wales (UNSW) menerima kritik setelah menghapus unggahan di Twitter yang bern...
Wabah Corona Ditemukan Kembali di Dua Kapal Pesiar Setelah Kembali Beroperasi
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Salah satu industri yang banyak mempekerjakan warga Indonesia di luar negeri adalah industri kapal p...
Kehidupan Warga Indonesia Menjalani Lockdown Lebih Ketat di Melbourne
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kawasan metropolitan Melbourne memberlakukan aturan pembatasan yang lebih ketat untuk menekan angka ...
Separah Apa Penularan di Melbourne Sampai Ada Lockdown Ketat dan Denda Besar?
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Premier Daniel Andrews yang memimpin pemerintahan di negara bagian Victoria telah mengumumkan denda ...
Kekuatan Ledakan di Beirut Setara Dengan Gempa  3,5 SR, Satu WNI Terluka
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Ledakan berkekuatan besar mengguncang pusat kota Beirut yang hingga laporan ini diturunkan telah men...
Sejumlah Warga di Indonesia Berbagi Internet Bagi Murid Tak Mampu Beli Kuota
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Sejumlah guru dan orang tua murid menghadapi kendala saat sedang beradaptasi dengan penerapan metode...
Hanya Makan Bubur dan Bawang Bombay: ABK Indonesia Dilarungkan Lagi Ke Laut
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kasus Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang meninggal dunia di atas kapal berbendera Cina kemudi...
Kaka Belajar Masak: Orangtua Asal Indonesia dengan Anak Autisme Jalani Lockdown di Melbourne
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Aturan pembatasan pergerakan tahap keempat di Melbourne telah mengubah rutinitas anak-anak berkebutu...
Satu WNI Pekerja di Spa Diantara Empat Ribu Orang Terluka Dalam Ledakan di Lebanon
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah mengonfirmasi satu warga negara Indonesia menjadi k...
Universitas Terkaya di Australia Membayar Pegawainya di Bawah Standar Gaji
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Perguruan tinggi terkaya di Australia, University of Melbourne, diam-diam telah membayarkan kembali ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV