Covid-19 di Indonesia: Kematian anak akibat virus corona 'tinggi', 'tak ada biaya berobat' hingga 'ditolak rumah sakit karena penuh'
Elshinta
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:14 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Covid-19 di Indonesia: Kematian anak akibat virus corona 'tinggi', 'tak ada biaya berobat' hingga 'ditolak rumah sakit karena penuh'
BBC - Covid-19 di Indonesia: Kematian anak akibat virus corona 'tinggi', 'tak ada biaya berobat' hingga 'ditolak rumah sakit karena penuh'
anak Hak atas foto ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/wsj
Image caption Gambar ilustrasi: Dokter berbincang dengan pasien anak berstatus Orang Tanpa Gejala COVID-19 di halaman samping mess karantina Rusunawa IAIN Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/06).

Tiga orang tua di Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat menceritakan saat-saat anak mereka meninggal akibat Covid-19.

Lebih dari 40 anak Indonesia (yang berusia di bawah 18 tahun) meninggal akibat virus corona, menurut data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (diakses 02/07).

Sebagian besarnya adalah balita.

Angka itu setara 1,7% total kematian akibat Covid-19, yang menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, salah satu yang tertinggi di Asia dan dunia.

Gizi buruk, 'nggak ada biaya'

Salah satu yang meninggal adalah anak bernama Joni, bukan nama sebenarnya, di Manado, Sulawesi Utara.

Di usianya yang hampir menginjak dua tahun, Joni, hanya berbobot enam kilogram, setengah dari bobot ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Awal tahun 2020, Joni dirawat di rumah sakit akibat muntaber dan sakit paru-paru, yang kata ayahnya, dipengaruhi juga oleh kondisinya yang kurang gizi.

"Baru tiga hari rawat, sudah kita minta keluar karena nggak ada dana. Dokter mau tahan, kita bilang nggak ada biaya ... belum tuntas dia berobat," ujar ayahnya, RW, seperti dilaporkan Ronny Buol, untuk BBC News Indonesia.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/hp
Image caption Gambar ilustrasi: Seorang anak dengan gizi buruk di Tanjungjabung Barat, Jambi, (27/06).

Empat bulan kemudian, pada awal Mei, kondisi Joni memburuk. Ia batuk-batuk, tapi membawanya ke rumah sakit bukan pilihan saat itu, ujar ayahnya.

"Lantaran torang (kami) nggak ada uang sama sekali. Kami untuk makan sehari-hari saja pas-pasan. Jadi (dirawat) di rumah saja," ujar RW, yang bekerja sebagai buruh bangunan itu.

Namun, kondisi Joni tak juga membaik. RW dan istrinya memutuskan membawa Joni ke klinik dekat kediaman mereka.

Oleh karena kondisinya yang kritis, Joni dirujuk ke RSUP Prof Kandou Malalayang, di mana anak itu dirawat selama sembilan hari di ruang isolasi.

RW bercerita, di tanggal 16 Mei, ia mendapat firasat buruk.

"Kami bermimpi dia meninggal. Kami datang ke rumah sakit, peluk, cium, (Joni). Kami panggil nama Tuhan Yesus... Menangis adik (Joni) dalam mimpi," ujarnya.

Keesokannya, mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Joni meninggal. Petugas kesehatan mengatakan Joni positif Covid-19.

"Adik so nyanda ada, rasa-rasa tape kaki, dari tape jiwa rasa-rasa mo malayang (bayi kami sudah tiada, rasa-rasanya kaki dan jiwa mau melayang)."

'Ditolak rumah sakit yang penuh'

Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Fahri, 9 bulan, diare hebat tanpa henti selama dua hari, pada pertengahan Mei lalu.

"Tiap jam dia buang air terus dan dia demam," kata Iyansyah, ayah Fahri, seorang wiraswasta.

Hak atas foto Iyansyah
Image caption Fahri, seorang bocah berusia sembilan tahun meninggal dunia setelah menderita diare selama dua hari. Petugas kesehatan kemudian mengatakan anak itu positif Covid-19.

Saat itu, keluarga mencoba mengobati Fahri dengan obat dari apotek, tapi kondisinya tak juga membaik.

Saat akhirnya Fahri dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di dekat kediamannya, Iyansyah mengatakan kesadaran anaknya sudah menurun.

Rumah sakit itu tak dilengkapi fasilitas gawat darurat untuk anak, maka Fahri dirujuk ke rumah sakit lain.

Namun, meski sudah membayar deposit, Fahri ditolak masuk ke rumah sakit itu karena tempat itu sudah penuh, kata Iyansyah.

Hak atas foto Iyansyah
Image caption Saat akhirnya dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di dekat kediamannya, Iansyah mengatakan kesadaran anaknya sudah menurun.

Fahri terpaksa dirawat layaknya pasien umum. Iyansyah kembali mengingat saat-saat Fahri menjelang ajal.

"Dia sudah nggak ada tenaga, lemas. Pantatnya sudah merah-merah, lecet karena diare. Dia kesulitan bernapas, saya lihat karena saya di sampingnya. Dia dibantu oksigen," kata Iyansyah.

"Harusnya dibawa ke Pediatric Intensive Care Unit (PICU) saat itu."

Pada tanggal 23 Mei, Fahri meninggal dunia. Empat hari kemudian, hasil tes menunjukkan Fahri meninggal akibat Covid-19.

"Saya dropped. Stres saya. Makan nggak enak, nggak ada nafsu makan. Nggak menyangka dia akan secepat itu meninggalkan kami. Terus divonis Covid. Saya sampai hari ini masih kepikiran," katanya.

Ia menyesalkan fasilitas rumah sakit rujukan yang saat itu tak menerima Fahri.

'Sakit ginjal'

Di Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, sepasang petani kehilangan anak mereka yang oleh pihak rumah sakit disebut akibat Covid-19.

MS, anak terakhir dari enam bersaudara itu, baru berusia delapan tahun.

"Dia sakit ginjal sudah dari bulan Januari tahun ini," ujar ayah MS yang tak mau disebutkan namanya.

Hak atas foto Barcroft Media/Getty Images
Image caption Gambar ilustrasi: IDAI mencatat lebih dari 200 kematian anak dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di akhir Juni.

Hingga kini, ayah MS masih tak yakin anaknya terkena Covid-19, meski Dinas Kesehatan Sumatera Barat menyatakan puterinya terkena Covid-19 dan menunjukkan gejala penyakit itu.

Dinas Kesehatan melakukan pengetesan tiga kali pada MS. Dua tes pertama hasilnya negatif, dan yang terakhir positif Covid-19.

"Keluarga hanya menyerahkan ke yang satu (Tuhan). Kalau diperpanjang akan tambah repot," ujarnya.

'Sangat mengkhawatirkan'

Selain lebih dari 40 anak yang meninggal dengan status positif Covid-19, IDAI mencatat lebih dari 200 kematian anak dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di akhir Juni.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dokter Aman Bhakti mengatakan keadaan ini "sangat mengkhawatirkan"

Hak atas foto ANTARA FOTO/FB Anggoro/wsj
Image caption Gambar ilustrasi: Seorang bapak sambil menggendong anaknya mengikuti tes usap massal COVID-19 di Pasar Sukaramai, Kota Pekanbaru, Riau, (26/06).

Negara tetangga Malaysia misalnya, belum mencatat kematian akibat Covid untuk anak di bawah 12 tahun.

Sementara, di Amerika Serikat, negara dengan kasus kematian tertinggi akibat Covid-19, angka kematian yang berkaitan dengan virus corona, untuk warga di bawah 25 tahun adalah 0,15% (data diakses 02/07).

Di China, angka kematian pada individu berusia 19 tahun ke bawah hanya 0,1%..

Meski begitu, Kantor Staf Presiden (KSP) mengatakan angka kematian anak Indonesia termasuk tertinggi di dunia jika hanya dilihat dari angka absolut karena jumlah balita di Indonesia yang besar.

"Jika akan dibandingkan dengan negara lain, idealnya menggunakan parameter yang tepat, misalnya dalam ratio per 1.000 balita atau persentase terhadap total kematian akibat Covid," ujar tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Brian Sriprahastuti.

Meski begitu, ia mengatakan bagi pemerintah, satu kematian tetap jadi masalah yang harus diatasi, apalagi kematian itu seharusnya dapat dicegah sesuai perkembangan bidang kedokteran.

'Komorbid berbeda'

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dokter Aman Bhakti mengatakan kematian anak di Indonesia, yang disebutnya salah satu yang tertinggi di dunia, disebabkan faktor yang kompleks.

Salah satunya adalah komorbiditas di Indonesia yang berbeda.

"Kesehatan anak kita tidak baik. Ada gizi buruk, pneumonia tinggi, diare, anemia, demam berdarah," ujar Aman.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nz
Image caption Gambar ilustrasi: Petugas medis dari Badan Intelijen Negara (BIN) mengambil sampel darah sejumlah anak saat tes diagnostik cepat (rapid test) COVID-19 di Pamulang , Tangerang Selatan, Banten, (02/07).

Dalam paparannya dengan anggota DPR akhir Juni, Aman menjelaskan penyebab kematian nomor satu dan dua pada anak-anak Indonesia adalah pneumonia dan diare.

Ia menjabarkan pula prevalansi stunting di Indonesia yang berkisar di angka 30 persen juga kurang gizi dan malnutrisi parah sebesar 18 persen (data 2018).

"Kombinasi dua ini, ketika kelompok anak ini terinfeksi Covid, tentu daya tubuh mereka kurang baik. [Kalau] lebih parah, kalau terlambat tentu akan meninggal," ujarnya.

Faktor lain yang disebutkan Aman adalah keterlambatan pelayanan.

Hak atas foto https://data.unicef.org/country/idn/
Image caption Salah satu penyebab kematian anak di Indonesia adalah pneumonia dan diare, menurut IDAI.

Dari data IDAI, sejumlah dokter tak dapat kesempatan cukup merawat anak-anak dengan Covid-19 itu.

"Ada yang tidak sampai 24 jam, tidak sampai 48 jam, tidak sampai 72 jam. Jadi ada keterlambatan mereka dirujuk," katanya.

Selain itu, Aman menyebutkan pengaruh ketidaksamarataan pelayanan di berbagai daerah yang memicu kematian anak dengan Covid.

Aman mengatakan dalam waktu dekat, pemerintah perlu menggencarkan penelusuran (tracing) kasus dan pengetesan pada anak.

"Pakai PCR, jangan pakai rapid tests. Tidak sempat kita menolong anak [dengan rapid tests]," ujarnya.

Setiap kasus kematian anak juga perlu dianalisis, kata Aman, karena ia mengestimasi masa pandemi Covid-19 masih akan berlangsung dalam waktu cukup lama.

Protokol kesehatan dan peningkatan gizi

Pemerintah mengatakan protokol kesehatan perlu diterapkan agar anak tidak tertular Covid-19.

Deputi Perlindungan Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Nahar menyarankan orang tua disiplin menerapkan protokol kesehatan karena dalam sejumlah kasus, anak-anak ditulari virus corona oleh orang tua sendiri.

"Orang tua harus patuh dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Dia kerja keluar, ikuti protokol. Ketika di rumah, tetap perhatikan protokol juga," ujar Nahar.

Sementara, tenaga Ahli Utama KSP Brian Sriprahastuti mengatakan pentingnya meningkatkan daya tahan tubuh anak.

"Termasuk di dalamnya memastikan setiap anak pada usia satu tahun sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap, termasuk imunisasi campak, dan memastikan balita terpenuhi kebutuhan gizi makro dan mikronya," ujar Brian.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc
Image caption Gambar ilustrasi: Anak-anak bersepeda sambil memakai masker di kawasan Taman Hasanuddin, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, (28/06).

Ia menambahkan pentingnya ASI ekslusif hingga bayi enam bulan.

"Balita juga perlu dibiasakan bermain di ruang terbuka dalam pengawasan, sebagai bentuk olah raga agar bugar," katanya.

Dalam jangka panjang, Brian mengatakan pemerintah akan fokus memperbaiki gizi anak.

Hingga tahun 2024, pemerintah memiliki target menurunkan stunting hingga mencapai 14%, katanya.

Brian mengatakan pemerintah juga akan memperluas jangkauan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan primer dan rujukan, termasuk di daerah yang sulit diakses.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV