Gelorakan Rasisme, Johnson & Johnson Hentikan Produksi Krim Pemutih
Elshinta
Jumat, 03 Juli 2020 - 10:15 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Gelorakan Rasisme, Johnson & Johnson Hentikan Produksi Krim Pemutih
DW.com - Gelorakan Rasisme, Johnson & Johnson Hentikan Produksi Krim Pemutih

Johnson & Johnson memutuskan berhenti memproduksi krim pemutih kulit di Asia dan Timur Tengah. Langkah itu diambil menyusul derasnya tekanan sosial seputar kesenjangan rasial di tengah gelombang demonstrasi anti-rasisme di dunia.

Perusahaan farmasi dan kosmetika asal Amerika Serikat itu menarik dua jenis produk pemutih, Clean & Clear Fairness Line yang dijual di India, dan Neutrogena Fine Fairness Line yang tersedia di Asia dan Timur Tengah.

“Peredebatan selama beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa sejumlah nama atau klaim khasiat produk anti bintik hitam milik kami memicu kesan bahwa warna putih lebih baik ketimbang warna kulitmu yang uni,” tulis Johnson & Johnson. “Hal itu bukan niat kami – kulit yang sehat adalah kulit yang indah.“

Kendati tidak lagi diproduksi, produk-produk pemutih yang terlanjur beredar di pasar masih bisa di beli.

Industri kosmetika internasional sejak lama dikritik lantaran dinilai mengeruk untung dari paradigma rasialis konsumen Asia dan Timur Tengah yang menilai kulit putih lebih indah ketimbang kulit gelap.

Pasar berkembang pesat

Menurut Euromonitor International, sebanyak 6.277 ton krim pemutih atau pencerah kulit dijual di seluruh dunia tahun lalu, termasuk krim anti-penuaan yang menjamin kulit bersih dari bintik hitam.

Krim-krim tersebut biasanya dijual untuk perempuan. Selain Johnson & Johnson, sejumlah perusahaan multinasional lain ikut aktif mengembangkan dan menjual produk serupa di Asia, antara lain Unilever, Procter & Gamble, atau L’oreal yang hadir dengan merek dagang Olay dan Garnier.

Menurut Global Industry Analysists, pasar krim pemutih bisa mencapai 12,3 miliar USD pada 2027. AS yang mencatat 27,1% penjualan krim pemutih di seluruh dunia adalah pasar terbesar, diikuti Cina yang tercatat sebagai pasar dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi.

Belakangan perusahaan-perusahaan kosmetika internasional mendapat banjir kritik lantaran ikut menyuarakan simpati pada gerakan anti-rasisme, Black Lives Matter, sembari menjual krim pemutih.

Ironisnya produk kosmetika yang menjanjikan kulit putih juga ramai dijual di Afrika. Badan Kesehatan Dunia, WHO, mencatat pada 2011 sebanyak 40% perempuan Afrika secara sadar memutihkan kulit untukmemenuhi norma kecantikan yang berlaku. Di Nigeria, jumlahnya bahkan mencapai 77%.

WHO juga mencatat tingkat penggunaan krim pemutih yang sama tingginya di Asia, termasuk Cina, Malaysia, Filipina dan Korea Selatan.

rzn/vlz (rtr, ap, scmp)



Produk pemutih kulit dinilai menyuburkan paradigma rasial tentang kulit putih lebih baik dari kulit gelap. Kini Johnson & Johnson hentikan produksi krim pencerah kulit untuk Asia dan Timur Tengah.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rusia Segera Gelar Peradilan Pertama Pelaku Sunat Perempuan Setelah Lockdown
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
"Empat orang yang tidak dikenal memegangi tangan dan kakinya di kursi pemeriksaan ginekologi,&q...
Langgar Karantina Covid-19, Perempuan Austria Dihukum Penjara dan Denda Uang
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
Pengadilan negeri di kota Klagenfurt, Austria, pada hari Rabu (22/07) menjatuhkan hukuman percobaan ...
Oxford University: Produksi Vaksin Corona Mungkin Bisa Dimulai Akhir Tahun Ini
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
"Targetnya, peluncuran vaksin bisa dilakukan akhir tahun ini - itu suatu kemungkinan, tetapi sa...
Menteri Pertahanan Jerman: Penarikan Pasukan AS Mengkhawatirkan untuk Aliansi NATO
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer berpendapat bahwa ancaman Amerika Serikat (AS) ...
Banyak Pekerja Jerman Lebih Senang Home Office dan Tidak Ingin Kembali ke Kantor
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Lebih sedikit stres, lebih banyak waktu untuk keluarga, bahkan lebih produktif, kata mayoritas peker...
Kenapa Israel Urung Duduki Tepi Barat? 
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Perhatian dunia terpaku ke arah Tepi Barat Yordan pada 1 Juli silam, ketika Israel sejatinya akan me...
Krisis Keuangan Runtuhkan Sistem Rumah Sakit di Libanon, Salah Satu  yang Terbaik di Timur tengah 

 
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Rumah-rumah sakit di Libanon berjuang untuk bisa tetap membayar para pegawai, dan membayar biaya pe...
Misteri Virus Corona, Menyebar Super Cepat Diam-diam Tanpa Gejala
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Hanya dalam waktu tiga bulan setelah pemerintah Cina mengumumkan wabah pneumonia misterius di Wuhan,...
Studi: Amerika Utara Kemungkinan Telah Dihuni Manusia Sejak 26.500 Tahun Lalu
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Rabu (22/07) mengungkap bahwa Amerika Utara kemungkinan tela...
Nusantara Institute: Penghayat Sunda Wiwitan
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kuningan baru-baru ini dilaporkan menyegel bangunan...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV