Susahnya Cari Kerja di Australia, Apakah Kuliah Lagi Ide yang Bagus?
Elshinta
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Susahnya Cari Kerja di Australia, Apakah Kuliah Lagi Ide yang Bagus?
ABC.net.au - Susahnya Cari Kerja di Australia, Apakah Kuliah Lagi Ide yang Bagus?

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan ancaman akan banyaknya pengangguran, banyak anak-anak muda di Australia yang memilih untuk sekolah lagi.

  • Karena pandemi, pendaftaran program pascasarjana meningkat di beberapa universitas di Australia Barat
  • Kelangkaan pekerjaan di Australia mendorong mahasiswa untuk belajar lagi
  • Tapi pakar ekonomi mengatakan kuliah tanpa alasan yang jelas bukanlah keputusan baik

Hal ini terlihat dari meningkatnya pendaftaran program pascasarjana, yakni S-2 dan S-3, di beberapa universitas di Australia Barat.

Seperti yang terjadi di University of Western Australia, Notre Dame, dan Curtin University di kota Perth, dimana jumlah pendaftaran siswanya meningkat 34 persen dari tahun lalu.

Salah satu mahasiswa di Australia Barat yang melanjutkan studinya adalah Cameron Carr.

Sebelumnya ia berharap jika di tahun 2020 dirinya akan langsung memulai berkarir di industri media setelah lulus kuliah.

Namun, pandemi COVID-19 telah menimbulkan kekacauan ekonomi bagi banyak pihak, termasuk organisasi media.

Cameron yang pernah memiliki pengalaman menjadi relawan di majalah universitas kini harus menunda rencananya untuk bekerja.

Sebagai gantinya pria berusia 21 tahun memutuskan untuk kuliah lagi, sampai rela untuk meminjam uang dari Pemerintah Australia, melalui program HECS-HELP.

"Saya tidak pernah berpikir untuk kuliah lama-lama," kata Cameron.

"[Namun] daripada tidak melakukan hal yang dapat membantu mengembangkan karier selama satu tahun, saya pikir meneruskan kuliah adalah pilihan terbaik."

Hal yang sama juga dilakukan Brook Lewis, mahasiswa jurusan ekonomi dan perdagangan, yang sebelumnya tidak berencana untuk kuliah lama-lama.

Tadinya setelah lulus di bulan Oktober lalu, Brook ingin langsung bekerja.

"Tidak ada orang yang dengan mudah mengambil keputusan untuk membayar $30,000 (Rp290 juta), $40,000 (Rp386 juta), $50,000 (Rp483 juta) untuk kuliah setahun atau dua tahun" katanya.

"Tapi, melihat arah tujuan karier saya, industrinya, dan kondisi saat ini, jadi masuk akal untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan uang untuk kuliah."

Bukan keputusan baik

Penelitian dari Centre for Social Impact di Australia menyarankan mahasiswa di tahun terakhir untuk melanjutkan kuliah, agar lebih mudah menembus pasar kerja di saat akan banyak kesempatan.

Namun, ahli ekonomi Conrad Liveris mengatakan selain biayanya yang mahal, di beberapa bidang pekerjaan, sebenarnya studi lanjutan juga tidak diperlukan.

"Melanjutkan kuliah hanya karena alasan belajar bukan keputusan yang baik," kata Conrad.

"Keputusan untuk melakukannya betul-betul harus dipikirkan baik-baik. Apakah gelar yang didapatkan nantinya akan membuka peluang karier masa depan?"

Menurutnya, meskipun kini Pemerintah menawarkan banyak potongan harga, uang kuliah di Australia masih relatif mahal, yaitu di kisaran AU$20,000 (Rp193 juta) sampai AU$50,000 (Rp483 juta) untuk program S2 atau S3.

"Hal lain yang harus jadi pertimbangan adalah waktu, selain dari pengorbanan emosi dan tenaga," tambah Conrad.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Seberapa Membantu Tunjangan Uang dari Pemerintah Australia Bagi Warga Indonesia?
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pemerintah Australia memberikan tunjangan uang bagi permanent resident (PR) dan warganegara Australi...
Kematian Karena Flu Biasa di Australia Turun Tajam Karena Social Distancing
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Salah satu hal yang positif dari penerapan aturan pembatasan aturan jarak antara warga, atau social ...
Pria Australia Lari Keliling Bali Untuk Membantu Warga Bali yang Kesulitan
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Seharusnya Jamin Heppell, seorang warga Australia, bisa saja melewati hari-harinya dengan mudah saat...
Pendekatan Baru Indonesia Untuk Menangani COVID-19, Seberapa Efektif?
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pekan lalu, Indonesia menggunakan pendekatan baru dalam penanganan pandemi virus corona di Indonesia...
Warga Melbourne Akan Diberi Rp3 Juta Kalau Diam di Rumah Setelah Tes Corona
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pemerintah negara bagian Victoria mengumumkan akan memberikan tunjangan uang senilai AU$300, atau le...
Sejumlah Penjaga Karantina COVID-19 Di Melbourne Direkrut Lewat WhatsApp
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Sejumlah penjaga keamanan yang ditugaskan untuk menjaga hotel-hotel di Melbourne tempat karantina wa...
Pasukan Khusus Australia Bentangkan Simbol Rasis di Afghanistan
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Anggota pasukan khusus Australia (SAS) berpose dan merekam aksinya sendiri membentangkan sebuah Bend...
KDRT Meningkat di Asia Akibat Lockdown COVID-19, Termasuk di Indonesia
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Aturan pembatasan pergerakan warga, atau lockdown, selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan meningk...
Reynold Poernomo Gagal Ke Final MasterChef Australia 2020
Rabu, 22 Juli 2020 - 00:30 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Harapan Reynold Poernomo, peserta yang difavoritkan banyak...
Kasus Corona di Melbourne Masih Tinggi, Masker Wajib Pakai dengan Denda Rp2 juta
Rabu, 22 Juli 2020 - 00:30 WIB
Negara bagian Victoria, dengan ibukota Melbourne memiliki hampir 3.000 kasus aktif virus corona, den...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV