Pasukan Khusus Australia Bentangkan Simbol Rasis di Afghanistan
Elshinta
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pasukan Khusus Australia Bentangkan Simbol Rasis di Afghanistan
ABC.net.au - Pasukan Khusus Australia Bentangkan Simbol Rasis di Afghanistan

Anggota pasukan khusus Australia (SAS) berpose dan merekam aksinya sendiri membentangkan sebuah Bendera Konfederasi saat menjalankan operasi di Afghanistan. Bendera ini dikenal sebagai simbol rasis dan perbudakan di Amerika Serikat.

  • Sebuah video menunjukkan anggota pasukan khusus menggunakan Bendera Konfederasi untuk memberi sinyal bagi sebuah helikopter AS
  • Bendera Konferasi secara efektif telah dilarang oleh milter AS
  • Tentara Australia sebelumnya juga terlihat menggunakan bendera NAZI

Tim investigasi ABC mendapatkan sebuah foto dan sebuah video yang menunjukkan dua anggota SAS berpose sambil tersenyum saat membentangkan bendera yang bertuliskan "Southern Pride" tersebut.

Seorang juru bicara Angkatan Bersenjata Australia (ADF) menyatakan sebelumnya tidak mengetahui adanya foto dan video ini, sehingga tidak dalam posisi untuk mengidentifikasi siapa saja yang bertanggung jawab.

Hal Johnson, mantan perwira senior Amerika Serikat yang pernah dua kali menjalankan tugas tempur di Afghanistan, menilai aksi anggota SAS tersebut merupakan pelanggaran berat.

Ia mengatakan Bendera Konfederasi merupakan simbol rasisme dan perbudakan.

"Saya bertugas di Propinsi Uruzgan bersama pasukan Australia di tahun 2012," ujar Letkol Hal Johnston, yang berasal dari Satuan Tempur Brigade Infantri ke-76 AS.

"Bendera ini... adalah simbol yang seharusnya tidak ditunjukkan unit mana pun," katanya.

"Bendera ini dipakai oleh Ku Klux Klan, oleh kelompok-kelompok rasis, NAZI Amerika pun menggunakannya," jelas Letkol Johnson.

"Saya kehilangan kata-kata melihat unit pasukan khusus Australia membentangkannya. Ketidaktahuan tak bisa menjadi alasan," tambahnya.

Foto anggota pasukan khusus SAS membentangkan bendera tersebut juga ditampilkan dalam sebuah video yang disunting bersama oleh tiga Skuadron SAS setelah rotasi mereka dari Afghanistan di tahun 2012.

Tradisinya telah runtuh

Australian soldiers with a Confederate flag Video: Australian soldiers with a Confederate flag (ABC News)

Dalam sebuah video tahun 2012 yang diperoleh ABC, tampak dua anggota patroli SAS memegang Bendera Konfederasi dan menggunakannya untuk memandu helikopter Black Hawk AS dalam melakukan pendaratan pasca serangan yang dilakukan pasukan Australia.

Ketika helikopter mendarat, salah satu tentara memanggul bendera itu di bahunya dan membantu mengawal enam orang Afghanistan yang terikat ke zona pendaratan.

Kepada ABC, seorang anggota pasukan khusus SAS yang ikut dalam patroli tersebut mengungkapkan, dia ingat Bendera Konfederasi dibentangkan di pintu helikopter yang terbuka ketika terbang di atas kota Tarin Kowt dalam perjalanan kembali ke markas.

Seorang anggota lainnya menyebutkan tidak tahu jika rekan-rekannya memiliki bendera, namun dia menilai aksi menggunakan bendera itu sebagai tindakan "bodoh" dan "berpikiran sempit".

"Kemungkinan besar bendera ini diberikan kepada mereka oleh unit pasukan Amerika," ujar Letkol Johnston.

"Jadi, kemungkinan lebih sebagai permasalahan pasukan Amerika daripada Australia," tambahnya.

Sosiolog yang juga mantan prajurit Profesor Ben Wadham yang dimintai pendapatnya mengatakan pasukan SAS seharusnya paham apa makna Bendera Konfederasi.

"Adanya dua prajurit SAS yang membentangkan Bendera Konfederasi di Afghanistan menunjukkan bahwa tradisinya telah runtuh," katanya.

"Kita telah melihat hal ini dari waktu ke waktu, mengindikasikan ada politik ras yang kuat dalam tubuh Angkatan Bersenjata Australia," jelas Prof Wadham.

"Saya pikir pasukan itu paham sekali hal yang diwakili Bendera Konfederasi. Bendera ini memang mewakili perbudakan dan supremasi kulit putih. Saya kira mereka ini terhubung dengan pemahaman itu," tambahnya.

Juru bicara ADF mengatakan insiden ini akan diperiksa.

"ADF tidak memaafkan perilaku, gerakan, bendera atau simbol yang tidak profesional atau diketahui mendukung ideologi ekstremis," katanya.

"Perilaku seperti itu tidak sejalan dengan nilai-nilai profesionalisme, integritas, keberanian dan kerja tim dari Angkatan Bersenjata," tambahnya.

"Setiap anggota ADF yang ditemukan terkait dengan ideologi ekstremis bisa mendapatkan sanksi administratif atau sanksi disiplin" kata juru bicara ADF.

Bendera kontroversial

Pekan lalu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan kebijakan baru yang secara efektif melarang pengibaran Bendera Konfederasi di semua properti milik angkatan bersenjata negara itu.

Pada tahun 2018, laporan investigasi ABC mengungkapkan tentara Australia telah mengibarkan bendera swastika NAZI di kendaraan temur saat berpatroli di Afghanistan pada tahun 2007.

Saat itu ADF menyatakan pihaknya tidak membenarkan hal tersebut "karena membenci segala hal yang diwakili oleh bendera (NAZI) ini".

Dilaporkan komandan pasukan tersebut langsung bertindak menurunkan Bendera Nazi itu dan prajurit yang terlibat mendapatkan peringatan dan konseling.

"Fakta adanya kejadian pada tahun 2007 dan melihat hal ini terjadi lagi lima tahun kemudian, menurut saya menunjukkan indikasi lemahnya kepemimpinan dalam tubuh SAS," ujar Letkol Johnston.

ABC juga melihat tentara pasukan khusus mengenakan apa yang disebut "topeng tengkorak", termasuk setidaknya seorang tentara dalam video yang memperlihatkan Bendera Konfederasi.

Pada tahun 2018, sudah ada larangan bagi para tentara untuk menggunakan citra yang terkait dengan "kematian".

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kapan COVID-19 Berakhir? Mungkin Jawabannya Bisa Ditemukan dari Sejarah Pandemi
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Sekitar 100 tahun lalu, satu jenis baru influenza menulari hampir sepertiga penduduk dunia. Namun da...
Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Film Mulan yang diproduksi ulang dalam bentuk live-action mendapat seruan boikot karena adanya "ucap...
Tidak Bisa Diburu-buru: Tahap Akhir Vaksin Inggris Terpaksa Ditangguhkan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Tahap akhir uji coba untuk vaksin virus corona di Inggris ditangguhkan setelah seorang peserta yang ...
Melayani Makan Siang, 103 Tertular Corona, Kini Restoran di Sydney Nyaris Bangkrut
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Pandemi COVID-19 tidak hanya merengut korban jiwa, tapi juga merugikan banyak bisnis di dunia, terma...
Khawatir Kesehatan Saya: Kondisi Petugas dan Lahan Pemakaman di Jakarta Saat Ini
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Nadi bin Eji sudah bekerja di taman pemakaman umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur sejak tahun 1...
Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Ketegangan hubungan Australia dan China kian memanas pekan ini setelah kedua pihak saling melontarka...
Tigerair Australia yang Pernah Bermasalah di Bali Berhenti Terbang Selamanya
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Maskpai penerbangan asal Australia, yang dikenal dengan tiket murahnya, menghentikan operasinya sete...
Pejabat Australia Juga Menghadapi Kepentingan Politik Saat Menangani COVID-19
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Para pemimpin di seluruh dunia saat ini sedang mengatasi pandemi COVID-19 dengan pilihan sulit antar...
Agar Harga Makanan Tak Naik, Warga Australia Diserukan Bekerja di Perkebunan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Warga Australia didesak untuk bekerja sebagai backpacker di negara mereka sendiri untuk mencegah bua...
Jakarta Tarik Rem Darurat, Warga Jerman Lebih Takut Trump Ketimbang Virus
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Angka penularan virus corona di Indonesia, termasuk di ibukota Jakarta terus meningkat yang membuat ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV