Sejumlah Penjaga Karantina COVID-19 Di Melbourne Direkrut Lewat WhatsApp
Elshinta
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Sejumlah Penjaga Karantina COVID-19 Di Melbourne Direkrut Lewat WhatsApp
ABC.net.au - Sejumlah Penjaga Karantina COVID-19 Di Melbourne Direkrut Lewat WhatsApp

Sejumlah penjaga keamanan yang ditugaskan untuk menjaga hotel-hotel di Melbourne tempat karantina warga yang baru pulang diketahui telah direkrut lewat pesan WhatsApp. Sebuah proses yang tidak jelas, bahkan beberapa tidak tahu untuk siapa mereka bekerja.

  • Shayla Shakshi mengetahui adanya lowongan kerja petugas keamanan dari pesan di WhatsApp
  • Dia mengatakan petugas diminta membawa sendiri perlengkapan APD
  • Petugas juga tidak mendapat pelatihan apapun ketika mulai bekerja menurut Shakshi

Hotel-hotel yang menjadi tempat karantina diduga menjadi salah satu sumber yang menyebabkan penularan virus corona naik kembali dan Melbourne kembali menjalani lockdown.

Seorang perempuan muda Shayla Shakshi adalah salah seorang petugas yang mendapat pesan WhatsApp yang menawarkan kerjaan untuk bekerja di sebuah hotel di Melbourne.

"Mereka menghubungi saya dan mengatakan apakah kamu mau bekerja di tempat ini?," kata Shakshi kepada program televisi ABC 7.30.

"Saya waktu itu tidak tahu siapa mereka sama sekali, apa perusahaannya.

"Saya hanya diberitahu mesti berada di sana pada jam yang ditentukan dan mengenakan pakaian yang diperlukan, serta jumlah bayarannya. Itu saja."

Kekhawatiran muncul soal kemungkinan penularan

Di akhir bulan Maret kemarin, tanpa melalui proses tender, Pemerintah negara bagian Victoria memberikan kontrak kepada perusahaan penyedia jasa keamanan untuk menjaga hotel tempat karantina.

Perusahaan yang dikontrak termasuk MSS Security yang menjaga hotel Stamford Plaza, serta perusahaan Unified Security yang bertugas di Hotel Rydges on Swanston di Carlton.

ABC mendapatkan serangkaian pesan WhatsApp mengenai proses perekrutan petugas keamanan untuk bekerja di hotel-hotel tersebut.

Tanggal 30 Mei, tiga hari setelah adanya penularan pertama yang terjadi di Rydges on Swanston, ada pesan di WhatsApp yang menyebutkan butuh "40 orang" untuk bekerja di hotel tersebut.

Salah seorang dalam grup WA itu sudah menyampaikan kekhawatiran mengenai "adanya enam petugas keamanan yang positif di hotel di kawasan Carlton … jadi tolong berhati-hati".

Namun tidak ada tanggapan atas kekhawatiran tersebut.

Unified Security adalah perusahaan yang bertanggung jawab menjaga keamanan di hotel Rydges on Swanston.

Kepada ABC perusahaan tersebut mengatakan mereka menawarkan pekerjaan kepada lima subkontraktor.

"Semuanya sudah dicek guna memastikan mematuihi aturan berkenaan dengan asuransi dan lisensi untuk menjaga keamanan," kata Unified Security.

Sementara hotel Rydges on Swanston mengatakan kepada ABC jika mereka beroperasi berdasarkan petunjuk dari sejumlah departemen di Victoria yang bertanggung jawab soal keamanan dan karantina.

"Rydges on Swanston tidak terlibat dalam proses pengadaan petugas dan mendukung penyelidikan yang dilakukan saat ini," kata hotel tersebut.

Tanggal 18 Juni, dua hari setelah seorang pekerja di hotel Stamford Plaza positif terkena COVID-19, ada permintaan bagi 10 petugas keamanan untuk bekerja di sana.

Ketika seseorang di grup WA itu bertanya berapa bayarannya, jawabannya adalah "25 dolar, ABN".

Ini artinya adalah mereka tidak akan bekerja langsung kepada perusahaan, namun bertindak sebagai kontraktor independen dan harus memiliki ABN, nomor yang menunjukkan jika seseorang memiliki bisnis sendiri.

Ketika dihubungi ABC, MSS Security, perusahaan yang mendapat kontrak untuk menjaga keamanan di Stamford Plaza, menolak memberikan komentar dengan alasan masih terikat kontrak dengan pemerintah Victoria.

Tak ada pelatihan, diminta bawa masker sendiri

stamfod plaza

Shayla Shakshi mengatakan tidak ada protokol bagaimana mencegah penularan di Hotel Stamford Plaza ketika dia bekerja di sana bulan Mei lalu.

"Kami tidak mendapat pelatihan apapun ketika saya di sana," katanya.

"Mereka tidak memberitahu pelatihan apa yang harus kami masukan, kami hanya perlu mengenakan masker, memakai sarung tangan, itu saja."

"Mereka tidak punya pelatihan bagaimana menggunakan APD, bagaimana mencuci tangan, tidak ada sama sekali apapun."

"Sementara di beberapa lantai tidak tersedia sanitiser sama sekali.

"Kita jadi takut untuk memegang apapun." kata Shakshi.

Di akhir hari pertama bekerja, Shakshi mengatakan atasannya memberitahu agar dia membawa alat pelindung diri untuk dikenakan keesokan harinya.

"Bawa masker besok, bawa sarung tangan, bawa sanitiser sendiri, karena kami mungkin akan kehabisan akibat begitu banyaknya petugas keamanan yang ada," katanya.

Karena begitu kecewanya, Shakhsi memutuskan tidak datang bekerja keesokan harinya.

"Saya merasa tidak mau bekerja di tempat yang tidak aman."

"Itulah kerja saya yang pertama dan terakhir di sana," kata Shayla, "saya tidak mau lagi kembali ke sana."

Menganggap COVID sebagai goyonan

Dalam hitungan minggu setelah Shayla memutuskan tidak mau bekerja, penyebaran kasus corona di kalangan petugas keamanan di hotel muncul.

"Saya tahu ini akan terjadi," katanya.

"Petugas saling menyentuh, kadang memeluk yang lain, kadang saling memukul sambil bergurau."

"Mereka tidak melihat betapa seriusnya COVID ini."

"Mereka melihatnya seperti lelucon, dengan mengatakan ini seperti virus yang siapa saja bisa terkena. Tapi kita tidak akan tertular."

Shayla mengatakan dirinya lega setelah memutuskan tidak mau lagi kerja di hotel itu.

"Saya betul-betul takut bekerja di sana, karena mereka sama sekali tidak perduli." katanya.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kapan COVID-19 Berakhir? Mungkin Jawabannya Bisa Ditemukan dari Sejarah Pandemi
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Sekitar 100 tahun lalu, satu jenis baru influenza menulari hampir sepertiga penduduk dunia. Namun da...
Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Film Mulan yang diproduksi ulang dalam bentuk live-action mendapat seruan boikot karena adanya "ucap...
Tidak Bisa Diburu-buru: Tahap Akhir Vaksin Inggris Terpaksa Ditangguhkan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Tahap akhir uji coba untuk vaksin virus corona di Inggris ditangguhkan setelah seorang peserta yang ...
Melayani Makan Siang, 103 Tertular Corona, Kini Restoran di Sydney Nyaris Bangkrut
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Pandemi COVID-19 tidak hanya merengut korban jiwa, tapi juga merugikan banyak bisnis di dunia, terma...
Khawatir Kesehatan Saya: Kondisi Petugas dan Lahan Pemakaman di Jakarta Saat Ini
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Nadi bin Eji sudah bekerja di taman pemakaman umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur sejak tahun 1...
Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Ketegangan hubungan Australia dan China kian memanas pekan ini setelah kedua pihak saling melontarka...
Tigerair Australia yang Pernah Bermasalah di Bali Berhenti Terbang Selamanya
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Maskpai penerbangan asal Australia, yang dikenal dengan tiket murahnya, menghentikan operasinya sete...
Pejabat Australia Juga Menghadapi Kepentingan Politik Saat Menangani COVID-19
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Para pemimpin di seluruh dunia saat ini sedang mengatasi pandemi COVID-19 dengan pilihan sulit antar...
Agar Harga Makanan Tak Naik, Warga Australia Diserukan Bekerja di Perkebunan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Warga Australia didesak untuk bekerja sebagai backpacker di negara mereka sendiri untuk mencegah bua...
Jakarta Tarik Rem Darurat, Warga Jerman Lebih Takut Trump Ketimbang Virus
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Angka penularan virus corona di Indonesia, termasuk di ibukota Jakarta terus meningkat yang membuat ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV