Kasus COVID-19 Australia Terus Naik, Tes PCR Kewalahan dan Alat Tes Antigen Langka
Elshinta
Kamis, 06 Januari 2022 - 09:50 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kasus COVID-19 Australia Terus Naik, Tes PCR Kewalahan dan Alat Tes Antigen Langka
ABC.net.au - Kasus COVID-19 Australia Terus Naik, Tes PCR Kewalahan dan Alat Tes Antigen Langka

Warga Australia diperingatkan untuk menghadapi antrean tes COVID-19 dan waktu tunggu yang panjang hingga setidaknya beberapa minggu mendatang, setelah laboratorium patologi terus menghadapi lonjakan permintaan tes sementara jumlah staf yang ada kurang.

Lonjakan kasus dipicu oleh varian Omicron yang sangat menular.

Pusat-pusat tes COVID-19 hampir di seluruh negara bagian di Australia dibanjiri warga dan tingkat kasus positif naik secara signifikan. 

Lonjakan kasus di hampir semua negara bagian

Negara bagian New South Wales dengan ibu kota Sydney hari ini mencatat 35.054 kasus, sementara angka kasus di Victoria dengan ibu kota Melbourne juga naik menjadi 17.636 yang terdeteksi dari 59.682 hasil tes, membuat tingkat tes positif di negara bagian ini menjadi hampir 30 persen.

Ini adalah lonjakan yang signifikan di kedua negara terbesar di Australia itu dibanding hari-hari sebelumnya.

Sementara itu negara bagian ACT dengan ibu kota Canberra telah mencatat 810 kasus baru COVID-19.

Lebih dari 98,5 persen warga Canberra berusia 12 tahun ke atas telah menerima dua dosis vaksin COVID-19 dan sekarang ada 3.069 kasus aktif virus di Canberra.

Queensland yang beribu kota di Brisbane telah mengkonfirmasi 6.781 kasus COVID-19 selama periode pelaporan terbaru, tetapi Kepala Petugas Kesehatan mengatakan jumlah sebenarnya dari infeksi baru "jauh lebih tinggi dari itu".

Sepuluh orang dirawat intensif di rumah sakit, dua di antaranya menggunakan ventilator, dengan total 265 di rumah sakit karena menderita COVID di Queensland.

Negara bagian Northern Territory dengan Darwin sebagai ibu kotanya mencatat rekor 117 kasus virus corona dalam 24 jam terakhir,  sementara Australia Selatan dengan ibu kota Adelaide telah mencatat 3.493 kasus COVID-19 baru, 125 di antaranya dirawat di rumah sakit.

Premier Australia Selatan Steven Marshall mengatakan negara bagian akan mengubah protokol pengujian kontak dekat dari tes PCR menjadi tes antigen cepat (RAT) dalam beberapa hari mendatang.

Pusat tes PCR kewalahan, alat tes cepat antigen langka

Meskipun pemerintah Australia telah meminta warga untuk dites PCR hanya jika teridentifikasi sebagai kontak erat, memiliki gejala, atau hasil tes antigen cepatnya positif, jumlah kasus yang terus bertambah telah menunjukkan bahwa hanya terjadi sedikit penurunan di pusat tes, dan jumlah orang yang sesuai dengan kriteria itu tetap besar.

Lonjakan kasus berarti ada lebih banyak permintaan tes.

Direktur Institut Bond University untuk perawatan kesehatan, Paul Glasziou, mengatakan peningkatan kasus awalnya bertepatan dengan pembukaan kembali perbatasan dan orang-orang yang membutuhkan tes PCR untuk bepergian.

Dia mengatakan bahwa tekanan syarat bepergian, dengan kombinasi wabah Omicron yang membanjiri pusat tes, telah menciptakan sumbatan atau 'bottleneck'. Dia khawatir, kondisi ini akan bertahan.

"

"Dugaan saya [masalah tes ini] akan menjadi masalah yang berkelanjutan sampai kita mencapai puncak [kasus]," katanya.

"

Lonjakan permintaan tes terjadi setelah periode yang sangat sepi, sehingga beberapa fasilitas pengujian lengah.

Wakil Kepala Petugas Medis, Sonya Bennett, mengatakan pada hari Selasa (04/01) bahwa puncak kasus diperkirakan akan terjadi bulan depan.

COVID-19 juga memengaruhi layanan patologi setelah sejumlah staf jatuh sakit, memaksa beberapa laboratorium di lokasi tes untuk beroperasi dengan kapasitas yang berkurang atau tutup.

"Jadi, kami memiliki kapasitas yang lebih sedikit selama periode Natal-Tahun Baru untuk mengatasi permintaan Omicron ini," kata Dr Bennett.

Di Australia, tes PCR perlu dilakukan oleh profesional medis yang terlatih. Ini tidak terjadi di Inggris di mana tes PCR juga dapat dilakukan di rumah dan dikirim ke laboratorium patologi melalui pos, mengurangi sebagian beban staf kesehatan.

Penyebab lain penundaan adalah bagaimana proses swab itu disaring.

Minggu ini, kepala pengetesan COVID-19 Victoria Jeroen Weimar mengatakan tes PCR biasanya disaring dalam kelompok (batch), dan bukan dilakukan satu per satu.

Ketika ada indikasi swab positif dalam sebuah batch, semua tes dalam batch itu kemudian akan disaring untuk menemukan kasus positif.

"

"Karena tingkat kasus positif yang sangat tinggi di semua tes, setiap swab diproses secara individual melalui semua lab kami, dan itu berarti kami membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses hasil tes tersebut," kata Weimar.

"

"Dan artinya, kita mulai mengalami penyelesaian hasil tes yang lebih lama."

Lalu ada faktor kesalahan manusia.

Dengan staf di layanan patologi yang bekerja di bawah tekanan berat dalam jangka waktu lama, otoritas kesehatan mengatakan kelelahan dan kesalahan manusia mungkin terjadi.

Salah satu contohnya adalah di Australia Selatan di mana hampir 100 swab COVID-19 dan sampel darah hilang dalam perjalanan untuk diproses.

Ada juga laporan anekdot dari pasien yang menerima hasil negatif palsu, meskipun merasa tidak enak badan dan kembali dengan tes antigen cepat yang positif.

Banyak dari orang-orang itu yang kembali untuk tes lanjutan.

Apakah perencanaan menjadi masalah?

Sejak bulan lalu, Australia telah lebih mengandalkan tes antigen cepat [Rapid Antigen Test/ RAT] untuk diagnosis awal.

Pemerintah sepakat RAT akan menjadi alat penting yang digunakan untuk meringankan tekanan angka tes PCR karena kasus yang meningkat.

Sayangnya, ada masalah pasokan dan distribusi stok.

Meskipun RAT telah digunakan di luar negeri sejak pertengahan tahun lalu, RAT baru disetujui untuk digunakan di Australia pada bulan November. Segera setelah itu, varian Omicron muncul, yang menambah lebih banyak permintaan untuk RAT secara global.

Beberapa negara bagian dan pemerintah federal sekarang telah memesan alat RAT untuk mengisi stok yang habis, yang paling cepat akan tiba bulan ini.

Perdana Menteri Scott Morisson mengatakan tes adalah urusan pemerintah negara bagian.

Dia mengatakan dia tidak berniat membuat tes tersedia secara gratis kecuali untuk orang yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dan ini bisa menjadi celah bisnis.

"

"Seperti yang sudah diduga, Anda akhirnya mendapatkan tes antigen cepat yang mahal," kata direktur program perawatan kesehatan dan lansia Institut Grattan, Stephen Duckett.

"

Institut Grattan menulis sebuah laporan pada bulan Juli memperingatkan akan ada ketergantungan pada RAT, terutama untuk pengaturan-pengaturan tertentu, seperti sekolah.

"Dengan sedikit pandangan ke depan, Anda dapat melihat bahwa tes antigen cepat akan diperlukan. Tapi kita tidak merencanakannya," kata Profesor Duckett.

"Kita belum mendapatkan [informasi yang] cukup dari tes cepat ini, meskipun ada peringatan bahwa kita tetap membutuhkannya.Jadi kami mengalami bencana tes antigen cepat, dan itu sepenuhnya tidak adil karena, tentu saja, orang-orang berpenghasilan rendah dapat' tidak mampu membayar A$15 (sekitar Rp150 ribu) untuk tes dan kemudian diberitahu bahwa Anda harus melakukan tes sendiri sebanyak lima kali."

Akibatnya, orang kembali ke tes PCR, katanya.

Profesor Glasziou mencatat kerusakan dalam sistem selalu diharapkan selama pandemi.

Tetapi, katanya, penting untuk diingat bahwa tes hanya salah satu bagian dari strategi respons pandemi.

Dia mengatakan social distancing, masker, pelacakan kontak, dan isolasi dapat membantu mengurangi tekanan pada sistem kesehatan secara keseluruhan dan masyarakat.

"Kita perlu mencoba dan meratakan [kurva] itu, terutama karena ... seperti yang telah kita lihat di New South Wales, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dan juga berkurangnya petugas kesehatan [telah menjadi] masalah utama," katanya.

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari artikel ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Oposisi Australia Menang Pemilu, Anthony Albanese Dilantik Jadi Perdana Menteri Baru
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Pemimpin Partai Buruh Anthony Albanese dilantik sebagai perdana menteri ke-31 Australia, setelah mem...
Dari Perumahan Rakyat ke Kursi Perdana Menteri Australia, Inilah Sosok Anthony Albanese
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Gubernur Jenderal Australia baru saja melantik Anthony Albanese sebagai Perdana Menteri yang ke-31, ...
Mantan Pengungsi Dai Le Terpilih Jadi Anggota Parlemen Federal Australia
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Seorang perempuan asal Vietnam yang pernah tinggal di kamp pengungsi di Filipina Dai Le telah terpil...
Mengapa Aktivis Lingkungan Indonesia tidak Senang dengan Peluang Investasi Nikel Tesla
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Dua minggu lalu Presiden Indonesia Joko Widodo bersama pemimpin ASEAN lainnya mengunjungi Washingto...
Saya Hampir Menangis: Seberapa Besar Peran Warga China Australia bagi Kemenangan Partai Buruh?
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Bersama dengan jutaan warga Australia lainnya, Anna Wang memberikan suaranya untuk Partai Buruh di p...
Warga Denmark Ini Menghabiskan Hampir 10 Tahun Keliling Dunia Tanpa Jalur Udara
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Warga Denmark Torbjørn "Thor" Pedersen tidak pernah menyangka perjalanan keliling dunia y...
Kemenangan Caleg Partai Buruh Sam Lim Sangat Mengejutkan dalam Pemilu Australia
Senin, 23 Mei 2022 - 10:01 WIB
Kemenangan Sam Lim warga asal Malaysia menjadi anggota parlemen federal baru di Australia adalah sal...
Kasus Cacar Monyet Pertama Diperkirakan Diidap Seorang Pria di Sydney yang Baru Pulang dari Eropa
Sabtu, 21 Mei 2022 - 08:41 WIB
Pihak berwenang bidang kesehatan di Sydney mengatakan bahwa seorang pria berusia 40-an mungkin men...
Patut Dicoba: Warga Indonesia Rela ke Pedalaman Australia Demi Mendapatkan Status Penduduk Tetap
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Christoper Reno Budiman mengaku hidupnya berubah 180 derajat sejak pindah ke Kangaroo Island, Austra...
Program Penjualan Minyak Goreng Indonesia Dilakukan di 10 Ribu Lokasi Untuk Menurunkan Harga Pasaran
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi mengatakan harga minyak goreng akan stabil segera setel...
InfodariAnda (IdA)