Senin, 11 Desember 2017

Mengenalkan budaya maritim pada kalangan generasi muda

Minggu, 12 Maret 2017 10:50

Ilustrasi. Foto: Istimewa Ilustrasi. Foto: Istimewa
Ayo berbagi!

Masyarakat Indonesia, khususnya kalangan generasi mudanya, sudah seharusnya mengenal dan menerapkan budaya kemaritiman guna memaksimalkan pengelolaan potensi laut yang luas di negara kepulauan terbesar di dunia ini.

Ragam budaya maritim ini adalah aneka rupa budaya dan kearifan lokal yang tercipta di tiap daerah. Maka sebaiknya ada satu persamaan dalam budaya maritim Indonesia, yakni menaruh pandangan tentang pengelolaan laut yang diorientasikan guna kepentingan masyarakat bersama.

Pengenalan budaya ini termasuk pada kalangan generasi muda khususnya mahasiswa agar terus diajak untuk berperan aktif dalam mengelola potensi itu. Salah satu tujuannya untuk mewujudkan negara ini sebagai poros Maritim dunia.

Terkait dengan itu maka pihak-pihak terkait dengan kemaritiman terus mengajak kalangan mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan budaya maritim.

Salah satunya dilakukan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksanama Ade Supandi yang dalam kunjungan ke Kota Pariaman, Sumatera Barat, baru-baru ini, juga meluangkan waktunya untuk mengajak kalangan mahasiswa berperan dalam mewujudkan Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Kalanan mahasiswa diajak mengembangkan budaya maritim untuk mewujudkan Indonesia jadi poros dunia tersebut, kata KSAL Laksamana TNI Ade Supandi di Kota Pariaman, Sumatera Barat.

"Budaya maritim merupakan hal yang paling utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia," katanya saat tampil menjadi pemateri pada kuliah umum di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pariaman.

Dengan berkembangnya budaya maritim, maka pemanfaatan laut Indonesia menjadi lebih maksimal, apalagi mahasiswa ikut dalam pengembangan tersebut, ujarnya.

Peran mahasiswa bisa berupa penerapan ilmu sesuai jurusan masing-masing untuk memanfaatkan potensi laut Indonesia.

Menurutnya mahasiswa dapat memaksimalkan potensi laut seperti mengembangkan ilmu penangkapan ikan, pariwisata, dan industri atau transportasi laut.

"Mahasiswa perlu bergerak cepat guna mendukung rencana Indonesia menjadi poros maritim dunia, rencana ini jangan sampai gagal karena didahului oleh negara lain," katanya.

Ia menambahkan perlunya pengembangan maritim karena budaya maritim merupakan induk ilmu, seperti seseorang belajar astronomi, dan bahkan untuk berperang.

Hal tersebut dibuktikan dengan datangnya Belanda ke Indonesia dan orang Bugis di Madagaskar juga dari ilmu kemaritiman.

Belanda dapat datang ke tanah air kita karena memiliki budaya maritim sehingga bisa berlayar ke banyak pulau dan menguasainya.

Demikian pula sejarah orang Bugis di Madagaskar dalam perjalanannya menuju negara tersebut dahulunya juga dengan berlayar, karena memiliki budaya maritim bisa sampai ke tujuan, dan bukan karena kebetulan saja.

"Bahkan sekarang orang keturunan Bugis di Madagaskar memiliki posisi penting," sebutnya.

Ajakan yang sama juga pernah sampaikan dalam situs Presiden RI go.id yang menyebutkan sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar menjadi poros maritim dunia.

Poros maritim merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektifitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut serta fokus pada keamanan maritim.

Penegakkan kedaulatan wilayah laut NKRI, revitalisasi sektor-sektor ekonomi kelautan, penguatan dan pengembangan konektivitas maritim, rehabilitasi kerusakan lingkungan dan konservasi biodiversity, serta peningkatan kualitas dan kuantitas SDM kelautan, merupakan program-program utama dalam pemerintahan Presiden RI Joko Widodo guna mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

KSAL Laksamana Ade Supandi sendiri berada di Kota Pariaman dalam rangka meresmikan Monumen Angkatan Laut di Pantai Gandoriah. "Monumen ini untuk mengingat sejarah AL di Pariaman pada akhir 1948," ujarnya.

Ia menjelaskan pada saat itu merupakan masa-masa menjelang pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia dan negara tersebut masih menjalankan Agresi Militer II di Sumbar.

"Monumen ini merupakan tuntutan dari masyarakat dan para veteran perang di Kota Pariaman," ungkapnya.

Monumen tersebut dibuat dengan APBD Kota Pariaman pada 2016 sebanyak Rp500 juta lebih dan desainnya dikoordinasikan dengan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) II Padang dan disetujui Kasal.

Monumen tersebut dilengkapi dengan tank dan meriam yang berada di sisi kanan dan kirinya.

Seusai meresmikan monumen itu, masyarakat adat Pariaman melewakan (mengukuhan) KSAL dengan gelar sangsako (kehormatan) sebagai "Sutan Panglimo Panguaso Lauik Nan Sati" (Raja Panglima Penguasa Laut yang Sakti.

Sedangkan istri beliau Ny Endah Esti Hartanti Ningsih dianugerahi gelar Bundo nan Elok (Ibu yang baik dan cantik).

Atas penganugerahan ini Ade Supandi mengatakan gelar kehormatan yang saya dan istri terima merupakan penghargaan yang berat karena berisi harapan dari masyarakat Kota Pariaman," ujarnya. Namun ia berjanji akan berusaha melaksanakan tugas tersebut khususnya di sektor maritim sehingga pemanfaatan laut di Kota Pariaman dapat menjadi lebih baik.

Koperasi Nelayan Selain pada kalangan mahasiswa, KSAL juga menunjukkan kepeduliannya pada masyarakat nelayan yang kehidupan dan perekonomiannya juga bersentuhan dengan laut.

Ia pun menyarankan agar nelayan Indonesia membentuk koperasi, guna meningkatkan kapasitas kapal sehingga kualitas dan kuantitas tangkapan ikan menjadi lebih baik.

"Dengan koperasi nelayan yang hanya memiliki kapal tiga Gross Tonnage (GT) nantinya bisa memiliki kapal 30 GT," katanya.

Ia menerangkan melalui koperasi nelayan dapat meningkatkan kemampuan menangkap ikan, sembari memiliki kapal yang lebih besar dengan terus mempelajari teknologi kapal yang berkembang.

Jika nelayan langsung memiliki kapal besar, namun tidak memiliki ilmu untuk mengoperasikannya maka kapal tersebut akan cepat rusak.

"Seperti bantuan pemerintah beberapa waktu lalu memberikan 1.000 kapal dengan kapasitas 60 GT kepada nelayan untuk menggarap potensi laut," katanya.

Akan tetapi tersebut saat ini yang beroperasi tinggal sekitar 50 kapal, karena selebihnya rusak sebab dalam mengoperasikannya tidak dengan menguasai teknologinya, katanya.

Ia menyadari permasalahan yang dihadapi nelayan saat ini adalah kapal yang kecil sehingga tidak bisa menangkap ikan-ikan besar seperti nelayan dari negara lain.

"Karena permasalahan itu para nelayan Indonesia hanya menangkap ikan kecil-kecil saja dengan nilai ekonomi rendah," tambahnya.

Sehubungan dengan itu, Ade mengharapkan para nelayan membentuk koperasi dan meningkatkan kapasitas kapalnya sehingga potensi laut Indonesia yang besar ini dapat dimanfaatkan dengan lebih maksimal.

Bila kita tidak bisa memanfaatkan potensi laut dengan baik maka hal itu akan terbuang percuma atau diambil oleh nelayan dari negara lain," katanya. (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MuI

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar