Kamis, 23 Maret 2017

Mahkamah Eropa izinkan larangan berhijab di tempat kerja

Selasa, 14 Maret 2017 18:35

Ilustrasi (sumber: Animasi Unik) Ilustrasi (sumber: Animasi Unik)
Ayo berbagi!

Dalam sebuah putusannya, pengadilan tertinggi di Uni Eropa yaitu Mahkamah Eropa menetapkan bahwa larangan penggunaan lambang-lambang keagamaan di tempat kerja diperbolehkan. Putusan ini dapat dianggap sebagai langkah mundur bagi kebebasan mengutarakan pendapat dan kebebasan beragama. Menurut pengadilan, melarang lambang yang mewakili sebuah keyakinan, ideologi atau falsafah bukanlah merupakan sebuah bentuk diskriminasi.

Seperti dilansir The Guardian, pemberi kerja diizinkan diperbolehkan untuk melarang stafnya mengenakan tanda-tanda keagaaman yang terlihat. Ini merupakan putusan pertama dari Mahkamah Eropa terkait penggunaan hijab di tempat kerja. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa permintaan dari pelanggan menjadi dasar untuk itu, 

Putusan ini berpotensi menuai kontroversi, terutama di Belanda - yang dalam waktu dekat akan melaksanakan pemilihan umum; persoalan imigrasi khususnya dari negara-negara berpenduduk Muslim telah menjadi satu tema yang diperdebatkan. Mahkamah Eropa mengeluarkan putusan terkait dua kasus yang menimpa perempuan di Prancis dan Belgia, dimana mereka mengalami penghentian hubungan kerja setelah menolak melepas hijab mereka di tempat kerja. 

"Sebuah peraturan perusahaan internal yang melarang penggunaan lambang politik, filosofis ataupun keagamaan bukanlah merupakan sebuah bentuk diskriminasi langsung," menurut pernyataan dari pengadilan. 

"Akan tetapi, jika tidak adanya suatu peraturan, bukan merupakan suatu keharusan seorang pekerja untuk mengindahkan keinginan pelanggan untuk tidak dilayani oleh pekerja yang menggunakan penutup kepala Islami tersebut. Hal ini bukanlah suatu keharusan pekerjaan." 

Mahkamah Eropa membuat putusan yang sensitif ini dengan pertimbangan wajarnya sebuah usaha hendak memberikan citra yang netral dan memberikan kebebasan bagi perusahaan untuk menentukan aturannya sendiri. 

Kasus pertama melibatkan seorang perempuan bernama Samira Achbita yang bekerja di cabang perusahaan keamanan G4S di Belgia. Setelah bekerja tiga tahun, dia  memutuskan untuk memakai hijab di tempat kerja karena alasan keagamaan. Achbita dipecat karena menolak melepaskan hijabnya di tempat kerja. Perusahaan menyatakan bahwa dia melanggar aturan tidak tertulis untuk tidak memakai lambang-lambang keagamaan. 

Sedangkan kasus kedua menimpa insinyur bernama Asma Bougnaoui yang dipecat dari perusahaan teknologi informasi bernama Micropole, setelah keluhan dari seorang pelanggan yang mengklaim stafnya "dipermalukan" oleh hijab yang dikenakan Bougnaoui ketika tengah melakukan konsultasi di kantor kliennya itu. Sebelum mengambil pekerjaan tersebut, dia telah diperingatkan bahwa memakai hijab dapat menjadi masalah bagi pelanggannya. 

Sementara dalam kasus pertama, Mahkamah Eropa tidak mengganggap terjadinya diskriminasi, dalam kasus kedua Mahkamah Eropa menyetujui bahwa telah terjadi sebuah proses diskriminasi. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar