Selasa, 22 Agustus 2017

Apakah pemimpin Korea Utara Kim Jong-un orang yang rasional?

Sabtu, 18 Maret 2017 18:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Apakah Kim Jong-un rasional? Duta besar AS untuk PBB yang baru berpikir dia tidak rasional. Nikki Haley mengatakan setelah Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik secara simultan:"Ini bukan seorang yang rasional." Tetapi apakah dia benar?

Kim Jong-un mungkin memiliki banyak kelemahan. Dia tanpa diragukan lagi merupakan orang yang kejam - kerabatnya berduka karena menjadi korban rezimnya, termasuk di dalam keluarganya sendiri, akan bersaksi tentang hal itu.

Dia mungkin telah menjalankan kebijakan ekonomi yang membuat masyarakatnya hidup dengan sebuah standar di bawah Korea Selatan dan Cina yang semakin meningkat.

Dan dia tampaknya memiliki masalah personal, seperti makan terlalu bamyak - sejumlah foto menunjukkan dia menggemuk - dan merupakan seorang perokok berat.

Tetapi apapun kegagalan dan kelemahan itu, apakah dia sebenarnya irasional - yang dalam Kamis Bahasa Inggris Oxdord didefisinikan sebagai "tidak logis atau masuk akal, tidak diberkati dengan kekuatan akal"?

Para ahli yang mempelajari dirinya berpikir dia berperilaku sangat rasional, meski dengan menyingkirkan dan meneror mereka yang berada di sekitarnya. Prof Andrei Lankov dari Universitas Kookmin di Seoul mengatakan kepada BBC:"Dia merupakan orang yang sangat rasional . Dia kadang berlebihan. Dia seringkali cenderung untuk melakukan pemaksaan yang berlebihan. Mengapa membunuh ratusan jenderal ketika puluhan yang akan melakukannya?

"Sebagian besar orang yang dia bunuh tidak akan pernah bergabung dengan sebuah konspirasi tetapi dia merasa lebih baik melakukannya. Lebih baik membunuh sembilan jenderal yang loyal dan satu orang yang pontensial menjadi konspirator dibandingkan membiarkan seorang konspirator untuk bertahan hidup.

"Tetapi dia rasional."

Prof John Delury dari Universitas Yonsei di Seoul mengatakan bahkan pembunuhan saudara tirinya (merupakan tuduhan- yang dibantah oleh Pyongyang) merupakan sebuah sebuah aksi yang rasional,; tidak baik, tapi rasional.

"Sebuah fakta historis yang menyedihkan bahwa raja muda seringkali membunuh paman-paman mereka dan saudara yang lebih tua. Itu mungkin kejam, tetapi bukan "irasional". Jika Anda tidak menerima kata-kata saya, bacalah Shakespeare."

Pembunuhan terhadap Kim Jong-nam, diduga dilakukan oleh agen intelejen rezim, Prof Lankov mengatakan hal itu mirip dengan Kekaisaran Ottoman, di mana selir sang Sultan memiliki anak yang tidak terhitung jumlahnya, banyak diantara mereka memiliki pertalian darah yang mungkin suatu hari melegitimasi sebuah klaim terhadap tahta.

Prof Lankov berpikir bahwa Kim Jong-nam, merupakan sebuah ancaman, mungkin tidak besar tetapi tetap saja tak dapat dipertahankan:"Mungkin dia tidak berbahaya tetapi Anda tak pernah tahu. Dia benar-benar berasa dalam kontrol Cina."

Prof Delury mengatakan tidak ada yang irasional mengenai Kim Jong-un untuk menghasilkan senjata nuklir yang kredibel:"Dia tidak memiliki sekutu yang terpercaya untuk menjamin keamanan dirinya, dan dia menghadapi kekuatan yang besar yang telah, dalam ingatan terbarunya, melanggar kedaulatan negara-negara di seluruh dunia dan menggulingkan pemerintahan mereka.

"Pelajaran yang didapat oleh Korea Utara dari invansi Irakadalah bahwa jika Saddam Hussein benar-benar memiliki senjata pemusnah massal, dia mungkin dapat bertahan."

Ditambah dengan pelajaran dari Libya, menurut Prof Lankov: "Apakah janji Amerika tentang kemakmuran Amerika membantu Khadafi dan keluarganya? Kim Jong-un mengetahui itu dengan baik bahwa apa yang terjadi terhadap orang-orang bodoh yang percaya janji negara Barat dan meninggalkan pengembangan senjata nuklir. Dan dia tidak ingin melakukan kesalahan ini. Sekali Anda tidak memiliki senjata nuklir, Anda benar-benar tidak akan terlindungi.

"Apakah janji Rusia atau Amerika dan Inggris untuk menjamin integritas warga Ukrania membantu Ukraina? Tidak. Mengapa dia harus mengharapkan janji Rusia, Amerika atau Cina untuk membantunya tetap hidup? Dia rasional."

Jika dia rasional, apa yang dia inginkan? Untuk hal ini, para ahli berbeda pendapat. Prof Brian Myers dari Universitas Dongseo di Busan Korea Selatan mengatakan bahwa Kim Jong-un menginginkan keamanan tetapi juga sebuah Korea yang bersatu dan rezimnya dapat bertahan untuk jangka panjang.

"Setiap orang Korea Utara mengetahui, seluruh persoalan militer - terutama kebijakan merupakan 'kemenangan akhir', atau penyatuan semenanjung dibawah kekuasaan Korea Utara."

Sebuah kekuatan nuklir akan memberinya kemampuan untuk menekan Amerika Serikat untuk memindahkan pasukannya dari semenanjung.

"Korea Utara butuh kemampuan itu untuk menyerang AS dengan senjata nuklir dengan tujuan untuk menekan kedua musuhnya itu untuk menandatangani pakta perdamaian. Ini merupakan satu-satunya tawaran terbesar yang pernah diinginkannya," kata Prof Myers.

Dan begitu tentara AS telah pergi, kekuasaan Korea Utara tidak dapat dihentikan.

Prof Lankov tidak sepakat dengan tekanan. Dia berpikir sejauh ini motif yang paling penting dibalik aksi Kim Jong-un adalah agar dapat bertahan: "Di atas semua itu, dia ingin tetap hidup. Kedua, kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi- tetapi itu merupakan urutan kedua yang sangat jauh jaraknya."

Jadi apa yang dapat dilakukan? Prof Lankov tidak melihat pilihan yang baik :"Saya tidak melihat ada solusi apapun saat ini." Dia berpikir pilihan yang baik adalah untuk membujuk Korea Utara untuk membekukan pengembangan senjata nuklirnya dalam membatasi ukuran pabrik senjata "Tetapi itu akan sangat sulit dan Korea Utara mungkin tidak akan memegang janji mereka."

Dan uang harus dibayarkan."Tetapi kesepakatan ini tidak menyenangkan dari sudut pandang Amerika karena artinya adalah membayar upah bagi pemeras, dan jika Anda membayar upah kepada pemeras sekali saja, Anda mengundang lebih banyak pemerasan. "

"Pilihan kedua yang mungkin berhasil adalah operasi militer tapi itu kemungkinan akan memicu perang Korea kedua dan secara permanen akan merusak kredibilitas Amerika sebagai sekutu yang dapat diandalkan dan pelindung.

"Di seluruh dunia, banyak orang memandang bahwa lebih baik memiliki musuh dibandingkan teman."

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar