Selasa, 30 Mei 2017

Penyerang bandara Paris menelepon ayahnya dan minta dimaafkan

Senin, 20 Maret 2017 05:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Pria yang ditembak mati karena merebut senjata tentara di bandara Orly, di dekat Paris, Sabtu (18/03), sempat menelepon ayahnya mengatakan 'bergaduh' dan minta dimaafkan.

Ziyed Ben Belgacem ditembak setelah menaruh pistol ke kepala seorang tentara sambil mengatakan 'ingin mati untuk Allah'.

Sebelumnya, pada hari yang sama, pria berusia 39 tahun ini terlibat dalam aksi penembakan dan pembajakan mobil.

Ayahnya mengatakan kepada stasiun radio Prancis, Europe 1, bahwa anaknya menelepon setelah serangan pertama dengan mengatakan 'bergaduh dengan polisi' sebelum menuju ke bandara Orly.

Belgacem disebut menjadi radikal selama berada dalam tahanan dan masuk dalam daftar pengawasan polisi

Catatan kriminalnya antara lain mencakup perampokan bersenjata dan terkait obat terlarang, seperti disampaikan jaksa penuntut Paris, Francois Molins.

Namun agen intelijen yang memeriksa rumahnya di Garges-les-Gonesse, di pinggiran utara Paris, dilaporkan tidak menemukan bukti-bukti sebagai pendukung radikal Islam walau ada jejak-jejak kokain.

Menjelang pilpres Prancis

Ayahnya -yang sempat ditahan sebentar Sabtu lalu- mengatakan anaknya bukan teroris namun terperangkap dalam pergaulan mabuk-mabukan dan narkotika.

Belgacem tiba di bandara Orly dan menyerang seorang polisi perempuan yang sedang melakukan patroli di Terminal Selatan namun kemudian ditembak .

Saudara pria dan sepupunya yang juga sempat ditahan sudah dibebaskan, Minggu (19/03), tanpa didakwa.

Dalam wawancara dengan Europe 1, ayahnya juga mengatakan Belgacem tidak pernah sembahyang dan minum alkohol.

Dia mendapat telepon dari Belgacem setelah serangan pertama yang mengatakan: "Ayah mohon maafkan saya. Saya bergaduh dengan seorang polisi."

Namun ayahnya memutus pembicaraan telepon tersebut karena sedang menyetir mobil di jalan bebas hambatan.

Serangan terbaru di Paris ini terjadi pada masa yang sensitif, yaitu menjelang pemilihan presiden Prancis bulan lalu, yang berlangsung dalam keadaan darurat.

Pemerintah Prancis menerapkan keadaan darurat sejak serangan atas majalah Charlie Hebdoe pada Januari 2015 -yang menewaskan 12 orang- serta rangkaian serangan di Paris pada November 2015 dengan korban 137 jiwa.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar