Jumat, 22 September 2017

Berkunjung ke basis pendukung Erdogan di Turki

Senin, 20 Maret 2017 11:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

"Recep Tayyip Erdogan datang!" Pengumuman itu lantang disuarakan untuk mengalahkan bunyi helikopter yang semakin dekat.

Seperti dikomando, kerumunan orang seketika datang mendekat sembari mengibarkan bendera dan memekikkan nama Erdogan secara histeris. Beberapa perempuan tua pingsan, entah karena sedemikian bahagianya atau karena himpitan massa.

Di tengah pekikan itu, presiden Turki tersebut muncul. Tiba-tiba seorang remaja perempuan menaruh telepon selulernya pada tangan saya. "Tolonglah, foto saya dengan dia di latar belakang," kata si remaja, dengan berteriak. Pahlawannya telah tiba.

Pekan lalu, beberapa pemimpin negara di Eropa telah bertukar kecaman dengan Erdogan setelah presiden Turki itu menyebut pemerintah Belanda dan Jerman mengikuti paham 'Naziisme' dan 'fasisme'. Namun, di sini, di kawasan konservatif dan relijius ini, Recep Tayyip Erdogan tidak pernah berbuat salah.

'Apa yang bisa kami lakukan tanpanya?'

Kami mengikuti pawai kampanye Erdogan di Sakarya, daerah sejauh 160 kilometer sebelah timur Istanbul.

Erdogan menggelar pawai di sana guna mendorong para penduduk menyetujui perluasan kekuasaan presiden dalam referendum bulan depan. Reformasi konstitusional tersebut, yang mengubah sistem parlementer menjadi sistem presidensiil, diprediksi menjadi pergulatan politik terbesar sejak Turki menjadi republik pada 1923.

Di Sakarya, ribuan orang mengibarkan spanduk dan bendera bertuliskan 'evet' atau 'ya' dalam bahasa Turki. Itu artinya mereka mendukung perubahan sistem pemerintahan sebagaimana diusung Erdogan.

Saat Erdogan berpidato, pesannya penuh dengan nada nasionalisme dan mengkritik Eropa.

Kritik tersebut dipicu oleh kebijakan sejumlah pemimpin negara Eropa yang memblokir kedatangan menteri-menteri asal Turki untuk mengampanyekan referendum kepada diaspora Turki. Aparat Belanda, misalnya, menolak pendaratan pesawat yang membawa Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu serta melarang Menteri Urusan Keluarga, Fatma Betul Sayan Kaya, memasuki gedung Konsulat Turki di Rotterdam.

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengatakan kehadiran mereka bisa memicu ketegangan menjelang pemilu Belanda. Sikap Rutte tersebut kemudian ditengarai mendorong suara partai pimpinannya dalam pemilu Belanda baru-baru ini.

"Hey Rutte! Anda mungkin telah menang pemilu, tapi Anda kehilangan Turki sebagai teman," cetus Erdogan, yang diikuti pekikan para pendukungnya di Sakarya.

Erdogan kemudian menyerukan sejumlah jargon dan kecaman, antara lain 'mata-mata Jerman', 'propaganda teroris Eropa', serta keputusan Pengadilan Eropa yang mengizinkan perusahaan-perusahaan melarang karyawan memakai busana keagamaan, termasuk jilbab.

"Mereka sedang melancarkan perang terhadap Islam. Persetan dengan nilai-nilai Eropa Anda," cetusnya.

Para pendukungnya riuh bertepuk tangan selagi Erdogan berpidato. Mereka mencintai pemimpin yang berani menentang Eropa. Mungkin mengingatkan mereka akan kejayaan Kekaisaran Ottoman, ketika Turki melawan musuh-musuhnya. Dan itulah yang dimanfaatkan Erdogan.

Apapun yang dia lakukan atau katakan akan disepakati para pendukungnya. Sebab berkat Erdogan, mereka bisa menjadi kekuatan dominan di Turki.

"Saya mencintainya karena saya bisa menempuh studi di universitas dengan memakai jilbab. Itu berkat dia," kata Kubra Husnan, merujuk tindakan Erdogan yang mencabut larangan berjilbab di institusi pemerintah.

Lalu bagaimana dengan ucapan Erdogan terhadap Eropa?

"Saya juga mengecam Belanda dan Jerman. Mereka tidak punya nurani," tambahnya.

Esma Koc yang berdiri di samping Husnan menimpali, "Apapun yang dia katakan benar, pada setiap topik. Jika dia kelihatannya membuat kesalahan, dia pasti tahu sesuatu yang kami tidak tahu. Apa yang bisa kami lakukan jika dia tidak ada?"

'Bahan tertawaan'

Di sisi lain, penduduk Turki yang sekuler dan pro-Barat, ucapan-ucapan Erdogan akhir-akhir ini memperdalam kesedihan mereka.

Utku Tolunguc, berharap dapat berkuliah di Universitas Maastricht, Belanda. Namun dia risau terhadap dampak yang ditimbulkan Erdogan.

"Turki harus mengambil jalur yang lebih pro-Eropa. Belanda kini punya kesan yang sangat buruk terhadap Turki dan saya khawatir ini akan mempengaruhi saya jika saya bermukim di sana," kata Utku.

Media-media di Turki yang pro-pemerintah semakin mendorong pesan Erdogan. Salah satu halaman depan sebuah surat kabar menggambarkan Kanselir Jerman, Angela Merkel, memakai seragam Nazi. Ada pula tajuk utama yang berbunyi "Anjing-anjing Nazi Belanda" dengan foto anjing polisi Belanda mengigit seorang demonstran Turki.

Untuk menunjukkan sikap yang berlawanan dengan Erdogan pun semakin sulit. Tayangan di televisi dan spanduk-spanduk di jalan semakin banyak yang menampilkan kampanye pro-pemerintah. Erdogan menyamakan orang yang memilih "tidak" dalam referendum mendatang sama dengan aksi terorisme.

Sejumlah figur oposisi diserang atau dihalangi saat berkampanye.

Salah satu figur oposisi yang terpandang adalah Meral Aksener, mantan menteri dalam negeri dan politisi sayap kanan yang muncul sebagai alternatif paling kredibel untuk menggantikan Erdogan. Listrik di sebuah hotel tempat dia menggelar pawai "tidak" mendadak mati saat dia berpidato.

"Turki menjadi bahan tertawaan," ujarnya kepada BBC.

"Dalam kebijakan luar negeri, Anda harus berpikir dulu sebelum berbicara. Anda tidak bisa menyampaikan ancaman belaka. Kebijakan luar negeri tidak bisa disalahgunakan untuk politik dalam negeri," tambahnya.

Presiden Erdogan telah berulang kali menang di pemilu dan bisa saja kembali menang dalam referendum, beberapa pekan lagi.

Namun, negara yang dia pimpinanggota NATO dan kandidat anggota Uni Eropasemakin terpolarisasi dan setelah pekan ini amat mungkin kian jauh dari Eropa.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar