Sabtu, 27 Mei 2017

Ini yang Sangat Penting Diketahui dari Sistem Rujukan BPJS Kesehatan

Selasa, 21 Maret 2017 12:00

courtesy https://www.cermati.com/artikel/ini-yang-sangat-penting-diketahui-dari-sistem-rujukan-bpjs-kesehatan courtesy https://www.cermati.com/artikel/ini-yang-sangat-penting-diketahui-dari-sistem-rujukan-bpjs-kesehatan
Ayo berbagi!

Apabila Anda adalah seorang peserta BPJS dan ingin berobat dengan menggunakan BPJS Kesehatan, sudahkah mengetahui tentang sistem dan prosedur rujukan dari BPJS? Perlu diketahui sistem rujukan di BPJS merupakan proses yang wajib diikuti semua peserta BPJS sehingga mau tidak mau setiap peserta harus ikut prosedur yang telah ditetapkan BPJS.

Bagi Anda yang sudah terbiasa menggunakan asuransi kesehatan, sistem rujukan BPJS akan terasa asing. Inilah salah satunya yang membedakan antara BPJS Kesehatan dan asuransi swasta. Berikut ini diulas secara lengkap mengenai sistem rujukan BPJS Kesehatan.

Baca Juga: 7 Poin Penting dalam Rujukan BPJS Kesehatan

Demi Kelancaran Proses Berobat, Pahami Sistem Berikut Ini

Sistem Rujukan BPJS Kesehatan

Sistem Rujukan BPJS Kesehatan via dokter.legawa.com

 

Dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pesertanya, BPJS Kesehatan menerapkan apa yang disebut sebagai sistem rujukan. Di dalam sistem ini telah terangkum syarat dan ketentuan bagi peserta BPJS Kesehatan yang ingin mendapatkan layanan kesehatan.

Bagi sebagian orang yang belum mengenal sistem ini, akan merasa sistem ini merepotkan dan membuat banyak orang kesulitan. Supaya bisa memanfaatkan jaminan kesehatan BPJS dengan baik, Anda perlu mengetahui bagaimana sistem dan prosedur rujukan yang ditetapkan BPJS seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Tiga Tingkatan Penting dalam Pelayanan BPJS

Jika sakit, fasilitas kesehatan mana pun bebas kita datangi. Mulai dari rumah sakit, puskesmas, sampai klinik. Di dalam asuransi kesehatan tidak mengenal adanya rujukan. Namun, bukan berarti Anda bebas memilih fasilitas kesehatan. Anda perlu mengetahui apakah perusahaan asuransi punya kerja sama dengan fasilitas kesehatan (rumah sakit) tersebut atau tidak.

Sementara BPJS Kesehatan mempunyai sistem yang berbeda. Layanan kesehatan yang diberikan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

  1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Faskes I): tempat pelayanan kesehatan pertama yang didatangi pasien BPJS yang ingin berobat, seperti puskesmas, klinik, atau dokter umum. Disebut juga Faskes Primer.
  2. Fasilitas Kesehatan Tingkat Kedua (Faskes II): tempat pelayanan kesehatan lanjutan setelah mendapat rujukan dari Faskes I yang spesialistis yang dilakukan dokter spesialis atau dokter gigi spesialis.
  3. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKRTL): tempat pelayanan kesehatan lanjutan terakhir kalau Faskes II tak sanggup menangani, seperti klinik utama atau yang setara, rumah sakit umum, dan rumah sakit khusus.

Sistem Rujukan Bertujuan untuk Memudahkan Pemberian Layanan

Pembagian Faskes tersebut memiliki tujuan agar pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang. Dalam praktiknya, pelayanan Faskes II hanya akan diberikan atas dasar rujukan yang diberikan Faskes I. Begitu juga untuk layanan FKRTL baru akan diberikan atas dasar rujukan dari Faskes II.

Diberikannya rujukan pada peserta BPJS dari pelayanan kesehatan level rendah ke level yang lebih tinggi, didasarkan atas:

  1. pasien perlu mendapat penanganan dari spesialis atau subspesialis;
  2. perujuk tidak dapat menangani pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan, dan/atau sumber daya.

Mengapa Faskes I?

Faskes I adalah gerbang awal bagi peserta BPJS untuk mendapatkan layanan kesehatan. Pasien BPJS diwajibkan untuk datang ke Faskes I terlebih dahulu jika mengalami masalah kesehatan dan ingin mendapatkan penanganan. Apabila setelah dilakukan pengecekan dan dirasa perlu untuk dirujuk, akan dibuatkan surat rujukan ke dokter spesialis atau rumah sakit.

Dalam sistem BPJS, pesertalah yang memilih Faskes I (puskesmas, klinik umum, atau dokter keluarga) sebagai tempat yang akan memberikan layanan kesehatan pertama kali. Apabila peserta melakukan pendaftaran secara online, web BPJS akan menampilkan daftar seluruh Faskes I yang bisa dipilih.

Penting untuk diingat, peserta BPJS hanya bisa berobat ke Faskes I yang sudah dipilih sebelumnya. Nama Faskes I ini akan tercantum di kartu BPJS tiap-tiap peserta. Namun, peserta bisa mengubah Faskes yang dipilihnya dengan memenuhi sejumlah syarat.

Kondisi Gawat Darurat Tidak Perlu Rujukan

Gawat Darurat BPJS

Pasien Kondisi Gawat Darurat via shutterstock.com

 

Lalu, bagaimana penanganan peserta misalkan yang berada dalam kondisi gawat darurat? Dalam kondisi tersebut, maka:

  • Peserta bisa langsung mendapat pelayanan dari Faskes I atau lanjutan, baik yang bekerja sama maupun yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
  • Langsung mendapat penanganan dari Faskes Tingkat Lanjutan tanpa surat rujukan.
  • Peserta yang mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan setelah tertangani dengan baik dengan kondisi pasien yang memungkinkan untuk dipindahkan.
  • Pengecekan validitas peserta ataupun diagnosis penyakit yang termasuk dalam kriteria gawat darurat dilakukan oleh Fasilitas kesehatan.
  • Faskes dilarang menarik biaya pelayanan kesehatan dari peserta.

Poin no. 4 bisa diketahui lebih jelas lewat contoh berikut ini.

Manakala orang tua mendapati anaknya sedang mengalami demam tinggi hingga suhu tubuhnya mencapai 38-39° C. Melihat kondisi tersebut, orang tua beranggapan anaknya sedang berada dalam situasi gawat darurat, padahal jika anak menderita panas masih atau di bawah 40° belum masuk kriteria menurut BPJS.

Ada Sanksi Jika Ada Pelanggaran dari Peserta ataupun Faskes

 Sanksi BPJS

BPJS Akan Mengenakan Sanksi Terhadap Setiap Pelanggaran via shutterstock.com

 

Di dalam peraturan BPJS, pelanggaran atas rujukan bisa diberikan sanksi, baik untuk peserta maupun fasilitas kesehatan. Jika peserta diketahui ingin mendapatkan pelayanan yang tidak sesuai dengan sistem rujukan, dapat dimasukkan ke dalam kategori pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur BPJS sehingga biaya pengobatannya tidak dibayarkan.

Sementara kalau fasilitas kesehatan tidak menerapkan sistem rujukan, BPJS Kesehatan akan melakukan recredentialing yang mana BPJS akan mengevaluasi kinerja dari fasilitas kesehatan tersebut.

Baca Juga: Cara Daftar BPJS Kesehatan, Seperti Apa Prosesnya?

Ketahui Sedari Awal

Dengan adanya sistem rujukan, peserta BPJS mau tidak mau harus mengikutinya. Agar Anda sebagai peserta BPJS bisa mendapatkan layanan kesehatan secara lebih efektif, disarankan untuk mengerti dan paham bagaimana sistem rujukan dari BPJS ini bekerja dan dijalankan. Untuk itu, ketahui sedari awal agar tidak bingung nantinya dengan aturan-aturan BPJS yang ada.

Baca Juga: Syarat-Syarat Perubahan Data BPJS Kesehatan

 

Artikel disalin secara otomatis, Baca artikel aslinya di Cermati.com

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar